BALI Subway Dinantikan Masyarakat Segera Terealisasi, Demi Meretas Kemacetan di Pulau Dewata
Anak Agung Seri Kusniarti February 08, 2026 03:03 AM

TRIBUN-BALI.COM – Sudah berjalan setahun, usai penentuan lahan untuk proyek Bali Subway. Namun sampai saat ini, tanda kelanjutan belum ada. Banyak harapan agar proyek ini segera berjalan, demi menjadi sumber baru ekonomi Pulau Dewata Bali. 

Sebab kontruksi belum terlihat, untuk pembangunan Bali Subway ini. Belum ada aktivitas, alat berat, yang terlihat bekerja untuk pembangunan. 

Proyek senilai USD 20 miliar atau sekitar Rp316 triliun ini, sejatinya dirancang sebagai solusi pamungkas kemacetan kronis Bali, terutama di kawasan Sarbagita.

Namun nampaknya masih belum final di konsep, kajian dan investor. Pengamat politik dan kebijakan publik, Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte, menilai Bali Subway secara administratif memang telah masuk fase konstruksi.

Namun realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.  “Ini menunjukkan adanya gap serius antara kebijakan dan realisasi teknis. Groundbreaking sudah, tapi konstruksi nyata tidak bergerak signifikan,” tegasnya dalam siaran pers yang diterima Tribun Bali.

Baca juga: ATASI Macet, Bupati Adi Arnawa Kebut Progres Pembangunan Jalan Lingkar Selatan!

Baca juga: PROYEK Kereta Bawah Tanah Belum Jelas Kelanjutannya, Jangan Sampai Bali Urban Subway Hanya Wacana!

ILUSTRASI - Subway dinilai menjadi solusi karena pelebaran jalan di darat sulit dilakukan mengingat padatnya pemukiman penduduk. Ia berharap usulan tersebut segera disetujui oleh Kementerian Perhubungan sehingga proyek Subway Bali bisa berlanjut ke tahap berikutnya.
ILUSTRASI - Subway dinilai menjadi solusi karena pelebaran jalan di darat sulit dilakukan mengingat padatnya pemukiman penduduk. Ia berharap usulan tersebut segera disetujui oleh Kementerian Perhubungan sehingga proyek Subway Bali bisa berlanjut ke tahap berikutnya. (ISTIMEWA)


Menurut Efatha, skema pembiayaan tanpa APBN/APBD membuat proyek ini sepenuhnya bergantung pada soliditas investor.

Masalahnya, PT BIP yang ditunjuk PT SBDJ sebagai lead consortium hingga akhir 2025 belum mampu menunjukkan akselerasi pendanaan maupun pekerjaan fisik di koridor utama.  

“Ketergantungan pada pendanaan privat selalu membawa risiko keterlambatan jika konsorsium belum benar-benar solid secara operasional,” ujarnya.

Sejak seremoni pengeruwakan dan groundbreaking pada September 2024, publik menanti langkah nyata PT SBDJ dan PT BIP di lapangan.

Namun hingga awal 2026, tak satu pun terowongan digali. Kondisi ini memicu kecurigaan bahwa proyek berjalan lebih cepat di ruang presentasi ketimbang di dunia nyata.

Situasi kian membingungkan ketika muncul kabar perubahan moda dari Light Rail Transit (LRT) ke Autonomous Rail Transit (ART).

Perubahan konsep ini terjadi bahkan sebelum fondasi pertama dibangun. Bagi banyak pihak, manuver ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan sinyal kuat adanya kegamangan perencanaan dan pembiayaan di tubuh PT SBDJ dan PT BIP.

DPRD: Informasi Simpang Siur

Kebuntuan ini tak hanya dirasakan publik, tetapi juga legislatif. Ketua Komisi III DPRD Bali, Nyoman Suyasa, mengaku belum menerima laporan resmi terkait perubahan moda maupun isu pergantian investor.

 “Informasi yang saya pegang masih LRT. Sekarang muncul kabar berubah ke ART dan pergantian investor. Di dewan belum ada laporan resmi,” katanya dengan nada sangsi.

Minimnya progres dari  PT BIP sebagai lead consortium membuat proyek raksasa ini seolah berjalan di lorong gelap, sementara kemacetan di luar sana terus memburuk setiap hari.

Data BPS Bali 2024 menyebut ada setidaknya 3,5 juta kendaraan harus berbagi ruang di jalan sepanjang 3.118 Km di kawasan Denpasar, Badung, dan Gianyar, dan Tabanan (sarbagita).

Laju roda kendaraan pada jam sibuk hanya mencapai 20 Km/jam, dan di jam lengang hanya pada 40 Km per jam.  

Bali Subway yang seharusnya jadi solusi yang dijanjikan PT SBDJ dan PT BIP justru tersandera oleh kajian lanjutan dan ketidakpastian jadwal.

Publik kini mulai mempertanyakan apakah Bali Subway benar-benar solusi konkret, atau hanya proyek mercusuar yang terlalu berat sejak lahir.

Tanpa progres fisik dan kejelasan komitmen investor dari Tiongkok maupun Korea, optimisme Pemprov Bali setahun lalu kian terasa rapuh.

Jika dalam waktu dekat PT SBDJ dan PT BIP kembali hanya menawarkan feasibility study, review teknis, dan kajian ulang, maka galian bekas upacara groundbreaking Bali Subway berisiko hanya monumen kegagalan perencanaan terbesar di Pulau Dewata.

Masyarakat Bali tidak lagi membutuhkan presentasi dan simulasi. Mereka menuntut satu hal sederhana kepastian kapan kemacetan ini benar-benar diakhiri, sebelum pariwisata Bali lumpuh oleh masalah yang terus dibiarkan berlarut-larut. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.