Lagi Musim! Ini 4 Jamur Liar yang Kerap Dikonsumsi Masyarakat Pedesaan
Joko Widiyarso February 08, 2026 08:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Musim hujan menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat pedesaan.

Bukan hanya karena air yang melimpah untuk mengairi sawah, musim ini menjadi musim tumbuhnya beragam jamur untuk di konsumsi.

Bagi warga pedesaan, jamur yang dapat dikonsumsi bukan hanya jamur tiram atau jamur kancing yang sering dijual di pasaran, namun, juga jamur liar yang bisa didapatkan secara percuma di sekitar rumah mereka.

Bahkan, di wilayah Imogiri, Bantul, jamur-jamur hasil buruan ini menjadi komoditas yang dapat dijual.

Berikut ini adalah empat jamur liar yang kerap diburu masyarakat pedesaan untuk dikonsumsi:

1. Jamur So

JAMUR SO - Jamur so menjadi salah satu jamur liar yang kerap dikonsumsi masyarakat pedesaan. (istockphoto.com)

Sebagian masyarakat menyebut jamur so degan nama jamur melinjo.

Sesuai namanya, jamur ini dapat Anda temui di sekitaran pohon melinjo.

Jamur berbentuk bulat semi asimetris ini hidup dalam koloni kecil atau bahkan Anda dapat menjumpainya tumbuh satu jamur saja di satu tempat.

Kulit jamur ini berwarna kuning kecoklatan dan jika mencabutnya, Anda akan menemukan akar berwarna kuning cerah.

Jamur yang banyak tumbuh di musim hujan ini dapat dikonsumsi ketika masih muda.

Hal tersebut dapat ditandai dengan daging jamurnya yang berwarna putih.

Jika sudah berwarna kehitaman atau bahkan abu-abu, jamur ini sudah tidak dapat dikonsumsi.

Biasanya, warga pedesaan sering mengolah jamur ini dengan cara di pepes atau dibuat tumisan.

2. Jamur Merang

JAMUR MERANG - Jamur merang
JAMUR MERANG - Jamur merang menjadi salah satu jamur liar yang kerap dikonsumsi masyarakat pedesaan. (Kompas.com)

Sesuai namanya, jamur ini tumbuh pada tumpukan merang atau jerami.

Biasanya, jamur ini tumbuh secara liar di musim penghujan, saat udara terasa lembab.

Meski telah banyak dibudidayakan hingga masuk pasar, jamur merang liar masih kerap diburu masyarakat pedesaan untuk dikonsumsi. 

Jamur berbentuk lonjong dengan warna kehitaman di ujungnya ini biasa dibuat pepes atau tumisan.

3. Jamur Barat

Jamur barat dapat tumbuh di tanah pada musim penghujan karena membutuhkan lingkungan yang lembab.

Jamur seperti payung ini memiliki "tudung" berwarna kecoklatan di bagian atas dan garis-garis berwarna putih di baliknya.

Terdapat pula bagian tubuh berbentuk menyerupai batang berwarna putih yang menghubungkan "tudung" dan akar.

Umumnya, jamur bertubuh besar dengan tinggi kurang lebih 15cm ini tumbuh menyendiri, tanpa banyak koloni.

Di masa tua, jamur ini sering digerogoti belatung hingga membusuk.

Sehingga, konsumsi terbaik adalah ketika jamur masih muda.

Jamur ini biasa dikonsumsi dengan cara dibuat pepes, ditumis, atau digoreng.

4. Jamur Trucuk

JAMUR TRUCUK - Jamur trucuk
 JAMUR TRUCUK - Jamur trucuk menjadi salah satu jamur liar yang kerap dikonsumsi masyarakat pedesaan. (Instagram @naboe.id)

Hampir sama seperti jamur barat, jamur trucuk dapat tumbuh di tanah pada musim penghujan.

Bentuknya mirip seperti jamur barat namun berukuran lebih kecil dan hidupnya bergerombol.

Karakternya pun tak jauh berbeda, dapat dikonsumsi saat masih muda namun akan membahayakan jika sudah tua.

Jamur ini biasa dikonsumsi dengan cara dibuat pepes, ditumis, atau digoreng.

Selain ke empat jamur tersebut, terdapat pula jamur rayap dan jamur bulan yang memiliki bentuk serupa dengan jamur barat.

Bahkan, banyak yang menilai bahwa jamur rayap, jamur bulan, jamur barat, dan jamur trucuk adalah spesies yang sama.

Kendati jamur di atas dapat dikonsumsi, pastikan Anda telah mencucinya dengan benar dan memasaknya hingga matang agar tidak menimbulkan keracunan. (MG Wanda Hamidah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.