TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Dalam 24 jam terakhir, Sumatera Barat (Sumbar) diwarnai sejumlah peristiwa penting yang menjadi perhatian publik.
Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi di Jalan Solok–Padang, Jorong Simpang, Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (7/2/2026) pukul 09.40 WIB. Minibus Daihatsu Sigra menabrak dua sepeda motor, menewaskan satu pengendara dan melukai tiga lainnya.
Kasat Lantas Polres Solok, Iptu Rido, menyebut pengemudi minibus berinisial BP kini resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Ia dijerat Pasal 310 ayat (1), (2), dan (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan karena lalai hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
Kecelakaan terjadi ketika minibus melaju dari Kota Padang menuju Solok dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba melebar ke jalur lawan, menabrak Honda Beat BA 47** SF dikendarai M dengan penumpang RD, serta Honda Scoopy BA 27** AAP dikendarai NFJ dengan penumpang FA. M meninggal dunia di lokasi kejadian.
Korban lainnya menderita luka-luka berupa memar, bengkak, dan nyeri di kepala, kaki, dan pinggang. Mereka kemudian dilarikan ke RS M. Natsir dan Puskesmas Selayo untuk mendapatkan perawatan intensif.
Ketiga kendaraan yang terlibat kini telah diamankan di Unit Gakkum Satlantas Polres Solok untuk proses hukum lebih lanjut.
Iptu Rido menegaskan bahwa pihak kepolisian akan memproses kasus ini sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Kecelakaan ini menjadi pengingat penting bagi pengendara untuk selalu mematuhi rambu lalu lintas dan menjaga kecepatan kendaraan, serta bagi masyarakat untuk tetap waspada di jalan yang rawan kecelakaan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat merilis data terbaru mengenai profil kemiskinan di provinsi ini. Angka kemiskinan pada September 2025 tercatat 312,30 ribu orang atau 5,31 persen dari total penduduk.
Baca juga: Kecelakaan di Jalan Solok–Padang, Minibus Sigra Tabrak Dua Motor, Satu Tewas
Meski terjadi penurunan tipis sebanyak 0,05 ribu orang dibanding Maret 2025, kondisi ini tidak merata.
Di wilayah perkotaan, angka kemiskinan turun dari 3,91 persen menjadi 3,75 persen. Namun, di perdesaan terjadi peningkatan dari 6,93 persen menjadi 7,03 persen, sehingga jumlah penduduk miskin bertambah 4,22 ribu orang dalam kurun waktu enam bulan terakhir.
BPS mencatat bahwa konsumsi komoditas makanan menjadi faktor utama yang menyumbang 76,36 persen terhadap Garis Kemiskinan (GK).
Menariknya, rokok kretek filter menempati posisi kedua sebagai komoditas yang paling menguras pendapatan rumah tangga miskin, tepat setelah beras. Sumbangan rokok kretek filter mencapai 12,38 persen di perkotaan dan 12,25 persen di perdesaan, jauh melebihi pengeluaran untuk cabai merah (6,53 persen), telur ayam ras (4,19 persen), dan daging ayam ras (3,46 persen).
Kenaikan Garis Kemiskinan sebesar 6,40 persen menjadi Rp776.517 per kapita per bulan memperberat beban ekonomi masyarakat, terutama di daerah perdesaan.
Struktur pengeluaran ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat, terutama tingginya belanja rokok, memiliki andil besar dalam menentukan profil kemiskinan di Sumatera Barat.
Selain makanan, komoditas non-makanan seperti biaya perumahan, bensin, pendidikan, listrik, dan perlengkapan mandi juga menyumbang tekanan ekonomi, meski tidak sebesar dampak dari konsumsi beras dan rokok.
Fenomena ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk menyusun intervensi yang lebih tepat sasaran, terutama untuk menekan beban konsumsi rokok di kalangan rumah tangga miskin.
Laporan BPS Sumbar juga menyoroti ketimpangan kemiskinan antara perkotaan dan perdesaan. Secara makro, persentase penduduk miskin provinsi mengalami penurunan tipis, namun jumlah penduduk miskin di desa meningkat signifikan.
Baca juga: Jelang Ramadan, Warga Pasar Ambacang Kuranji Kesulitan Air Bersih Pascabencana
Pada September 2025, penduduk dengan pengeluaran di bawah Garis Kemiskinan tercatat 312,30 ribu orang (5,31 persen).
Di perkotaan, angka kemiskinan turun dari 3,91 persen menjadi 3,75 persen, mencerminkan daya beli dan perputaran ekonomi di pusat kota seperti Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh yang masih relatif stabil.
Sebaliknya, di perdesaan persentase kemiskinan meningkat dari 6,93 persen menjadi 7,03 persen, atau bertambah 4,22 ribu orang dalam enam bulan.
Penyebab utama adalah fluktuasi harga pangan dan tingginya konsumsi rokok. Beras menduduki posisi teratas sebagai komoditas penyumbang garis kemiskinan (25,29 persen di desa), disusul rokok kretek filter, cabai merah, dan telur ayam ras.
Selain itu, komoditas non-makanan seperti biaya perumahan, bensin, pendidikan, listrik, dan kesehatan turut memberi tekanan tambahan.
Nilai Garis Kemiskinan di Sumbar pada September 2025 tercatat Rp776.517 per kapita per bulan, naik 6,40 persen dari Maret 2025. Kenaikan Garis Kemiskinan di perdesaan lebih tinggi (6,55 persen) dibanding perkotaan (6,28 persen).
Lonjakan kemiskinan di desa menjadi catatan penting yang menuntut intervensi kebijakan lebih spesifik pada sektor pedesaan, termasuk penguatan ekonomi pertanian, pengendalian harga pangan, serta sosialisasi pola konsumsi yang lebih sehat.