TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kota Padang dalam 24 jam terakhir diwarnai sejumlah peristiwa penting yang menjadi perhatian publik.
Mulai dari kesulitan air bersih menjelang Ramadan di Pasar Ambacang Kuranji, rentetan kebakaran di berbagai lokasi yang menimbulkan kerugian materiil besar, hingga perkembangan Semen Padang FC yang tengah berjuang keluar dari zona degradasi BRI Super League 2025/2026.
Sabtu (7/2/2026), matahari tepat berada di atas kepala ketika deretan galon kosong dan ember warna-warni membentuk antrean panjang di pinggir jalan RT 03 RW 01, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Baca juga: Manajer Semen Padang FC: Diego Mauricio Didatangkan untuk Dukung Guillermo dan Perkuat Lini Depan
Warga menunggu giliran mendapatkan air bersih dari bantuan petugas, sementara di balik antrean tersebut terselip kecemasan yang lebih besar dari sekadar kebutuhan mandi dan mencuci.
Menjelang bulan suci Ramadan, kekhawatiran warga soal kelancaran ibadah mulai menghantui. Bagi masyarakat setempat, air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga urat nadi kehidupan spiritual.
Namun sejak bencana melanda kawasan tersebut pada akhir tahun lalu, sumur-sumur warga yang sebelumnya tak pernah kering kini benar-benar mati. Tak ada setetes air pun yang tersisa, meski sudah digali lebih dalam.
Asmida, salah seorang warga, terlihat menyeka keringat sambil memandangi petugas Damkar Kuranji yang mengisi air ke dalam tedmond. Ia menuturkan bahwa bantuan air bersih memang sangat membantu, tetapi kekhawatiran tetap menggelayuti pikirannya, terlebih saat melihat kalender yang semakin mendekati Ramadan.
“Kebutuhan air memang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, apalagi sebentar lagi kita masuk bulan Ramadan. Tak terbayang nanti saat berpuasa harus mengangkut ember air untuk wudhu,” ujar Asmida.
Bagi warga, persoalan wudhu menjadi kekhawatiran utama. Di wilayah yang kental dengan nilai religius seperti Kuranji, ketersediaan air bersih untuk bersuci sebelum salat merupakan kebutuhan mendasar yang kini terasa mahal. Warga khawatir saat berpuasa nanti mereka masih harus memikul jeriken dan ember di bawah terik matahari demi mendapatkan air bersih.
Baca juga: Pengemudi Minibus Sigra Ditetapkan Tersangka Usai Tabrak Dua Motor di Solok, Satu Korban Tewas
Saat ini, warga sepenuhnya bergantung pada bantuan air bersih dari berbagai pihak, mulai dari Damkar, BPBD, Dinas PU, hingga PMI. Meski begitu, mereka menyadari bantuan darurat semacam ini tidak bisa menjadi solusi jangka panjang, terlebih konsumsi air cenderung meningkat selama bulan puasa.
Secara teknis, kekeringan di kawasan tersebut diduga akibat perubahan lanskap alam pascabencana. Aliran sungai di sekitar permukiman berubah arah, sehingga pola resapan air ke sumur-sumur warga terputus.
Rosi, warga terdampak lainnya, menuturkan bahwa kondisi ini telah mengganggu kehidupan rumah tangganya. Sumur yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan kebutuhan keluarga kini kering total.
“Kebutuhan air yang dijemput itu terutama untuk anak mandi pergi sekolah. Kalau kami orang tua, biarlah mandi ke sungai di bawah Jembatan Kuranji saja,” tutur Rosi.
Bagi warga Pasar Ambacang, sungai kini kembali menjadi alternatif terakhir, seperti masa lalu. Namun mandi di sungai bukanlah solusi ideal, mengingat kualitas air dan risiko keselamatan, terutama saat cuaca ekstrem.
Menjelang Ramadan yang tinggal menghitung hari, warga Pasar Ambacang berada di persimpangan antara keteguhan iman dan keterbatasan fisik. Mereka berharap pemerintah kota dapat segera menghadirkan solusi permanen, agar bulan suci nanti tidak diwarnai kelelahan mencari air, melainkan diisi dengan kekhusyukan ibadah.
Selain krisis air, Kota Padang juga diwarnai rentetan peristiwa kebakaran dalam waktu kurang dari 24 jam sejak Jumat (6/2/2026) hingga Sabtu (7/2).
Api melalap rumah, sekolah, gudang furniture, dan speedboat, menimbulkan kerugian materiil mencapai miliaran rupiah.
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang bekerja ekstra keras setelah api mengamuk dan melahap pemukiman padat penduduk, fasilitas pendidikan, hingga aset transportasi laut di empat lokasi berbeda. Berdasarkan data yang dihimpun TribunPadang.com, berikut rincian keempat kebakaran besar:
Siteba – Jumat Siang (6/2/2026):
Kebakaran bermula sekitar pukul 13.30 WIB di Jalan Nusa Indah, area Berok Siteba, Kecamatan Nanggalo. Api pertama kali terlihat membesar dari bagian belakang salah satu rumah warga. Kondisi pemukiman yang padat membuat api merambat cepat ke bangunan di sekitarnya. Akibatnya, dua unit rumah permanen, lima pintu kontrakan, dan dua ruangan di SD Negeri 05 Surau Gadang hangus terbakar.
Petugas berhasil menjinakkan api sepenuhnya pada pukul 15.31 WIB. Kerugian diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar, dan 15 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Baca juga: Jelang Ramadan, Warga Pasar Ambacang Kuranji Kesulitan Air Bersih Pascabencana
Gudang Furniture Padang Selatan – Jumat Sore (6/2/2026):
Sekitar pukul 18.21 WIB, gudang furniture seluas 1.000 m⊃2; di Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Rawang, Kecamatan Padang Selatan terbakar. Petugas Damkar berangkat hanya satu menit setelah laporan masuk, dan berhasil menahan api agar tidak menjalar ke 10 bangunan sekitar.
Proses pemadaman tuntas pukul 19.26 WIB. Meski bangunan ludes terbakar, aset senilai Rp1 miliar berhasil diselamatkan, sementara kerugian ditaksir Rp500 juta.
Batang Arau – Sabtu Pagi (7/2/2026):
Sekitar pukul 10.42 WIB, tiga unit speedboat di samping dermaga Mentawai Fast, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, hangus terbakar.
Petugas Damkar dibantu BPBD, Pelindo, Polisi, dan TNI berhasil memadamkan api sekitar pukul 11.15 WIB. Total kerugian materiil mencapai Rp1,5 miliar, namun tiga kapal besar dan tiga speedboat lain yang berada di radius dekat selamat dengan nilai Rp5 miliar.
Kuranji – Sabtu Siang (7/2/2026):
Satu rumah yang juga difungsikan sebagai warung di Jalan Kuranji, Kelurahan Kuranji, terbakar pada pukul 12.05 WIB. Petugas Damkar menghadapi akses jalan sempit dan pemukiman padat.
Api berhasil dipadamkan pukul 12.33 WIB. Kebakaran mengakibatkan kerusakan dinding dan plafon seluas 50 meter persegi. Meski kategori ringan, dampak sosial cukup besar karena 15 jiwa terdampak. Kerugian diperkirakan Rp50 juta.
Rentetan kebakaran ini menjadi pengingat bagi warga untuk selalu waspada terhadap sumber api, terutama di kawasan padat penduduk, dan menekankan pentingnya koordinasi cepat antarinstansi terkait.
Di dunia olahraga, Manajer Semen Padang FC, Masykur Rauf, menegaskan optimisme tim Kabau Sirah untuk keluar dari zona degradasi pada putaran kedua Super League 2025/2026.
“Insya Allah kita optimis dengan kondisi pemain saat ini. Semoga ke depannya kita bisa lebih baik,” ujar Masykur, Sabtu (7/2/2026).
Baca juga: Rokok Jadi Beban Rakyat Miskin Sumatera Barat, Pengeluaran Lampaui Telur dan Cabai
Ia menyebut target tim dalam dua laga tandang sebelumnya adalah mengamankan empat poin saat menghadapi Bali United dan PSM Makassar.
Namun, dari dua laga berat tersebut, Semen Padang FC baru meraih dua poin hasil imbang.
Meski begitu, Masykur bersyukur dengan hasil yang diperoleh, mengingat kedua tim lawan merupakan tim tangguh dengan rekam jejak prestasi nasional. T
ambahan dua poin dari laga tandang tetap menjadi modal penting bagi Semen Padang FC dalam upaya keluar dari zona merah.
“Saya tidak mempedulikan berapa peringkatnya, yang jelas bagaimana kita bisa keluar dari zona merah degradasi,” pungkas Masykur.
Fokus utama tim saat ini adalah memperbaiki performa, menjaga semangat pemain, dan memastikan mereka mampu menjauh dari zona degradasi hingga akhir kompetisi.