TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Bali kini jumlahnya mencapai 400 ribu lebih UMKM.
Melihat tumbuhnya UMKM baru, Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Bali mendorong pelaku UMKM yang ada untuk naik kelas.
Di mana langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan dan daya saing UMKM di tengah persaingan ekonomi yang kian ketat.
Guna mendukung upaya tersebut, BPD HIPMI Bali menggelar Seminar Nasional bertajuk "Transformasi UMKM Menuju Skala Korporasi Melalui Venture Capital dan Private Equity" di Sovereign Bali Hotel pada Sabtu (7 Februari 2026) malam.
Baca juga: KREDIT Perbankan Tumbuh 9,3 Persen, Didorong Segmen Korporasi hingga Sektor Properti, UMKM Kontraksi
Dalam seminar nasional ini, HIPMI Bali menghadirkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia periode 2020-2024, Sandiaga Salahuddin Uno, dan Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono Hascaryotomo.
"Seminar Nasional dengan mantum (mantan Ketua Umum BPP HIPMI periode 2005-2008) Sandi ini menarik. Kenapa? Karena banyak teman-teman HIPMI yang sudah menjadi UMKM sejak lama. Dan pemerintah selalu fokusnya menambah UMKM. Tetapi lupa untuk menaikkan kelas UMKM itu," ujar Ketua Umum BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih.
Ia menambahkan, jika pemerintah mendorong terus UMKM baru tanpa meningkatkan UMKM yang lama, UMKM itu akan berkompetisi, sehingga penambahan UMKM baru bisa membuat UMKM berguguran (gulung tikar), sehingga perlu ada peningkatan kelas menjadi perusahaan besar.
Menurutnya, Sandiaga Uno pemilik dari Saratoga (PT Saratoga Investama Sedaya) dapat menambah wawasan bagi pelaku usaha UMKM khususnya anggota HIPMI Bali untuk naik kelas dari menengah menjadi perusahaan besar.
Dalam paparan yang tidak terlalu lama, Sandiaga Uno menitik beratkan bahwa tantangan utama UMKM adalah scale-up (naik kelas) tanpa kehilangan affordability (keterjangkauan) produk.
Dalam meningkatkan kelas UMKM tentunya mendorong pergerakan ekonomi, memiliki peluang usaha luas dan membuka akses lapangan pekerjaan baru yang lebih luas.
"Kita harus mampu menghadirkan kebijakan yang tepat sebagai pemilik usaha. Pemerintah juga harus mendukung. Stakeholder lainnya juga harus bergabung, agar 400 ribu UMKM di Bali bisa naik kelas menjadi perusahaan besar dan siap go global. Nah ini yang saya tadi sempat sampai sampaikan," ujar Sandiaga Uno.
Ia menyebutkan bahwa banyak perusahaan Bali yang sudah go global tetapi perlu diperbanyak dan skalanya diperbesar, sehingga akhirnya nanti Indonesia Emas 2045 itu bisa tercapai.
Pihaknya juga banyak menyoroti dari segi pendanaan, dan pendanaan itu harus siap.
HIPMI Bali sudah memberikan contoh skema pendanaan usaha bisa gotong royong melalui platform ramerame.
"HIPMI Bali sudah punya ramerame.co.id (platform bisnis yang memungkinkan anda untuk memiliki usaha dengan modal minim/kecil). Kita sekarang lagi mengulik konsep Venture Capital (VC) dan PE (Private Equity). Dan nanti akhirnya saya ingin berkolaborasi juga untuk membawa usaha-usaha anggota HIPMI Bali untuk IPO di Bursa Efek Indonesia," imbuh Sandiaga Uno.
Ia pun menilai bahwa banyak UMKM Bali siap untuk naik kelas dilihat dari antusiasme dan dukungan ekosistem yang ada.
Sepanjang tahun 2025 lalu anggota BPD HIPMI Bali bertambah sebanyak 119 orang, di mana mereka baru dikukuhkan secara resmi pada hari ini, sehingga kini jumlah anggota BPD HIPMI Bali mencapai 820 orang.(*)