Renungan Harian Katolik Minggu 8 Februari 2026, "Jadi Garam dan Terang Bagi Sesama"
Eflin Rote February 08, 2026 11:19 AM

Renungan Harian Katolik
Minggu 8 Februari 2026
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
MENIRU BELAS KASIH ALLAH: JADI GARAM DAN TERANG BAGI SESAMA
(Yes. 58:7-10; Mzm. 112:4-5.6-7.8a.9; 1Kor. 2:1-5; Mat. 5:13-16)

"Hendaklah cahayamu bersinar di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah." (Mat. 5:16)

Manusia mengimpikan hidup yang baik. Allah pun menghendaki demikian. Kebaikan yang manusia rindukan dalam hidupnya bersumber pada belas kasih.

Belas kasih atau kerahiman Ilahi bersumber pada Allah sendiri. Karena itu sumber mutlak pengharapan kebaikan manusia sesungguh hanya ada pada belas kasih Allah.

Allah mengajak manusia untuk berpartisipasi aktif dalam kerahiman atau belas kasih-Nya agar bisa menjadi garam dan terang dalam hidup bagi sesamanya.

Menjadi garam dan terang melalui cara hidup berbagi dengan tulus hati dan penuh kasih. Berbagi dengan hati nurani yang bening kita bagaikan garam di mana hidup sesama yang susah dan hambar menjadi lebih berasa atau bagai terang di tengah kehidupan sesama yang kelam. 

Nabi Yesaya menggambarkan keunggulan hidup berbagi, bersolider dan berpartisipasi dalam belas kasih Allah: hidup bercahaya terang benderang laksana fajar, luka-luka batin dipulihkan segera, kebenaran berada di bagian untuk menuntun, kemuliaan Tuhan menjadi pengiring, pada saat berdoa atau memanggil Tuhan menjawab, waktu meminta tolong Ia menjawab, "Aku di sini." (Yes. 58:8-9).

Cara praktis berpartisipasi kepada sesama: beri makan yang lapar, tumpangan bagi yang tak punya rumah, membalut tubuh sesama yang tidak punya pakaian (miskin).

Berbagi dari apa yang kita punya dan bukan menjadikan mereka sebagai proyek pasar, atau panggung untuk cari popularitas fana. 

Merindukan mutu hidup yang bermakna hindari cara hidup busuk berikut: suka atau senang orang lain menderita, tunjuk orang dengan jari, fitnah dan memuaskan diri sendiri. Ini bukan cara hidup sebagai garam dan terang bagi sesama melainkan merancang petaka bagi diri sendiri. 

Santo Paulus mengosongkan diri dan mengandalkan Tuhan yang tersalib. Percaya dan hanya mengandal Tuhan Yesus yang tersalib oleh kekuatan Roh Kudus. Berpegang teguh pada kekuatan Allah dan jangan bergantung pada kekuatan dunia serta hikmat manusia yang error.

Berani mengosongkan diri, larut dan lebur dalam amal kasih kemanusiaan. Makan enak ketika garam mengosongkan diri, membiarkan dirinya lebur -larut bersama makanan. Cahaya tampak dalam kegelapan, bila api membakar sumbu lilin dan melelehkannya sampai habis.

Jika kita berani untuk menjadi garam dan terang bagi sesama, siap berkorban, berani mengosongkan diri agar rahmat belas kasih atau Kerahiman Allah  bisa mengisi diri kita demi sesama yang menderita, miskin, terpinggirkan, dan terabaikan.

Mari menjadi garam dan terang dalam dunia bagi sesama yang susah dengan berpartisipasi dalam belas kasih Allah dan dengan hati yang berbelas kasih pula, mengungkapkannya secara nyata bagi sesama yang sangat membutuhkannya.

Pahala Allah siapkan, mari kita rebut dengan memberi rasa enak bagi hidup sesama dan memberi cahaya kecil bagi sesama yang sedang diliputi kabut kelam keputusaasaan.

Kejarlah mutu hidup  berkualitas yang bermakna dan hindarilah ketenaran fana yang mencelakan. Teruslah berjuang mengambilbagian dalam kerahiman Allah dalam menaruh kasih kepada sesama sebab di sanalah terdapat garam dan terang sejati yang sangat berarti bagi hidup ini. 

Selamat Hari Minggu. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Kotaraja, Minggu/Pekan Biasa V/A/II, 080226)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.