Jangan Anggap Sepele GERD Pada Anak: Ganggu Asupan Nutrisi, Esofagus Rusak
Choirul Arifin February 08, 2026 09:30 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penyakit refluks gastroesofageal atau gastroesophageal reflux disease (GERD) pada anak tidak bisa dianggap sepele. 

Selain menimbulkan keluhan jangka pendek, kondisi ini berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak jika tidak ditangani secara tepat.

Dokter spesialis anak dan konsultan gastrohepatologi, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), menjelaskan bahwa GERD yang berlangsung lama dapat mengganggu asupan nutrisi anak akibat kerusakan pada esofagus.

“Kalau pada anak kita ngomong tumbuh kembang anak, tumbuh kembang anak pasti akan terganggu,” ujar Prof. Badriul pada Media Gathering & Health Talk dengan tema “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” yang diselenggarakan oleh RS Premier Bintaro di Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).

Ia menerangkan, paparan asam lambung yang berlebihan dan berlangsung lama dapat merusak dinding esofagus. 

Kondisi tersebut membuat anak mengalami penurunan asupan makan karena rasa tidak nyaman, bahkan nyeri saat menelan. 

Akibatnya, kebutuhan nutrisi yang seharusnya menunjang pertumbuhan anak tidak terpenuhi secara optimal.

Prof. Badriul juga mengingatkan, kerusakan esofagus akibat asam lambung tidak hanya berdampak pada fase pertumbuhan anak saat ini, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko di masa depan.

“Asam yang terlalu lama, terlalu sering merusak dinding esofagus, bisa membuat sel-sel esofagus itu berubah, menjadi suatu bentuk yang tentunya mengkhawatirkan menjadi keganasan kemudian hari,” jelasnya.

Baca juga: Bayi Rewel Tak Selalu Sakit, Curigai GERD Jika Ada Tanda Ini!

Meski risiko keganasan lebih sering dibahas pada pasien dewasa, Prof. Badriul menekankan bahwa perubahan sel akibat iritasi kronis tetap perlu diwaspadai sejak usia anak. 

Karena itu, GERD pada anak harus dikenali dan ditangani secara cermat, bukan sekadar berdasarkan dugaan.

Di sisi lain, Prof. Badriul menyoroti persoalan yang kerap ditemui di lapangan, yakni kesalahan membedakan antara GERD dengan feeding difficulty atau kesulitan makan pada anak. 

Menurutnya, banyak kasus feeding difficulty yang justru dimaknai sebagai GERD, padahal keduanya memiliki mekanisme dan pendekatan penanganan yang berbeda.

Feeding difficulty umumnya muncul pada usia enam bulan hingga sekitar satu tahun, terutama saat anak mulai diperkenalkan pada makanan pendamping ASI. 

Baca juga: GERD Tak Mengenal Usia, Ini Tanda Bahaya dan Risiko Serius Jika Diabaikan

Pada fase ini, anak bisa menolak makan bukan karena gangguan asam lambung, melainkan karena faktor pola makan awal, kebiasaan, hingga aspek psikososial.

“Seringkali feeding difficulty itu dipikirkan menjadi GERD, sehingga diterapi sebagai GERD,” kata Prof. Badriul.

Ia menjelaskan, dalam praktik klinis, dokter perlu melihat adanya tanda bahaya atau alarm symptoms untuk memastikan apakah keluhan anak benar-benar mengarah pada GERD. 

Jika tidak ditemukan bukti refluks disease, maka kemungkinan besar anak mengalami feeding difficulty yang membutuhkan pendekatan berbeda.

Prof. Badriul mengingatkan bahwa terapi GERD yang tidak memberikan respons juga harus menjadi sinyal bagi tenaga kesehatan dan orang tua untuk mengevaluasi ulang diagnosis. 

Bisa jadi, permasalahan utama bukan pada sistem pencernaan, melainkan pada faktor sosial, emosional, atau pola asuh yang memengaruhi perilaku makan anak.

Dengan demikian, pemahaman yang tepat mengenai perbedaan GERD dan feeding difficulty menjadi kunci agar anak tidak mendapatkan terapi yang keliru. 

Diagnosis yang akurat dan penanganan yang sesuai diharapkan dapat melindungi tumbuh kembang anak sekaligus mencegah dampak jangka panjang yang tidak diinginkan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.