Mahasiswa Autistik Ini Pameran Lukisan untuk Galang Donasi Bencana Sumatera
GH News February 08, 2026 03:08 PM
Jakarta -

Di sebuah toko penjahit cheongsam, seorang perempuan muda tengah mencoba cheongsam berwarna kuning keemasan yang disulam motif bunga teratai merah muda. Sang penjahit berdiri dekat, menunduk dengan penuh ketelitian, menyesuaikan ukuran busana agar jatuh sempurna di tubuh pemakainya. Cheongsam, dengan siluet anggun dan detail rumitnya, menjadi pilihan busana istimewa bagi banyak orang untuk menandai perayaan Tahun Baru Imlek-sebuah penanda tradisi, harapan, dan kebaruan.

Sementara itu, di sebuah barbershop Chinatown yang ramai, para tukang cukur bekerja dengan ritme yang nyaris serempak. Mereka membungkuk, memangkas rambut para pelanggan dengan cermat. Ruangan dipenuhi warna merah, kuning, dan biru yang cerah-dari peralatan cukur, lantai bermotif, hingga aneka benda yang menghiasi dinding di belakang mereka. Keseluruhan suasana terasa nostalgis sekaligus membangkitkan semangat, seolah mengajak siapa pun yang memandangnya untuk merayakan momen-momen keseharian dengan rasa takjub yang jujur dan ceria.

Dua adegan ini hadir dalam lukisan berjudul Golden Threads dan Look Good, Feel Good, karya seniman Oliver (Ollie) Wihardja (25), yang tengah dipamerkan hingga awal Februari 2026 dalam IMMERSION Art Exhibition di Menara Astra, Jakarta. Oliver menyukai suasana barbershop semacam yang dilukisnya ini yang santai dan apa adanya, dan ia rutin mengunjungi tukang cukurnya setiap bulan untuk memotong rambut.

"Bagi Oliver, cheongsam memiliki makna yang sangat personal," ujar Sinhwi Halim, ibunda Oliver, kepada para pengunjung pameran.

"Mendiang neneknya gemar mengenakan cheongsam ke mana pun-ke jamuan makan malam, pesta pernikahan, bahkan ke sesi karaoke mingguan bersama teman-temannya," imbuh Sinhwi.

Kenangan itulah yang kemudian menjelma menjadi warna, pola, dan cerita di atas kanvas.

Oliver didiagnosis berada dalam spektrum autisme pada usia tiga setengah tahun. Ia mulai melukis pada usia enam tahun sebagai bagian dari terapinya. Pada usia 16 tahun, Ollie meraih juara pertama ANCA World Autism Festival di Vancouver, Kanada (2017). Sejak itu, ia telah dua kali berpartisipasi dalam Art Jakarta, dan pada Desember 2025 lalu menggelar pameran tunggal di Katedral Jakarta.

Kini, Ollie berstatus mahasiswa di sebuah kampus ternama di kawasan Serpong, Banten. Jurusan yang ditekuninya dunia Video Animasi.

5 Lukisan Terjual, Sebagian untuk Donasi Bencana Sumatera

Olliver (Ollie) Wihardja dan lukisannyaOlliver (Ollie) Wihardja dan lukisannya Foto: (Dok. Sinhwi Halim)

Total terdapat delapan lukisan yang dipamerkan dalam rangka merayakan semarak Tahun Baru Imlek. Enam karya lainnya mengangkat kisah-kisah keseharian yang akrab dan sarat makna: toko obat di Glodok (Our Health is Our Wealth), tradisi berbagi angpao (The First Day), kebersamaan bermain mahyong (Of Friends and Ties), santap dim sum bersama keluarga (Dim Sum Day), ritual melempar lo hei (Tossing for Prosperity II), serta tarian barongsai (Dance to Joy and Fortune).

Dari delapan karya yang dipamerkan, lima di antaranya telah terjual. Meski enggan mengungkap identitas pembeli maupun nilai transaksinya, Sinhwi memastikan bahwa 50 persen dari hasil penjualan akan didonasikan untuk pembangunan rumah bagi korban bencana di Sibolga, Sumatera Utara.

"Kami bekerja sama dengan KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) yang menargetkan pembangunan seribu rumah di sana. Nilai pembangunan setiap rumah sekitar Rp 60 juta," jelasnya.

Seni, bagi Ollie, bukan semata ekspresi estetika, melainkan jalan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi sesama. Dalam berbagai pameran sebelumnya, ia secara konsisten menyumbangkan hasil penjualan lukisannya kepada sejumlah organisasi sosial, di antaranya Yayasan MPATI, SLB Kyriakon, Yayasan Rasa Dharma Semarang, Liberty Society Foundation, YPAC, serta Community Chest of Singapore melalui UOB Art Auction. Pada Januari 2023, salah satu karyanya bahkan dilelang dengan nilai Rp 1 miliar dalam sebuah jamuan amal untuk Special Olympics Indonesia, dengan 100 persen hasil lelang didonasikan untuk tujuan tersebut.

Menurut Felix Priscillia Oetomo, Brand Space Manager Immersion by Lexus, Oliver berkarya dengan mengandalkan insting. Ia membiarkan ingatan, ritual, dan momen-momen keseharian menuntun gerak tangannya. Budaya, dalam pandangan Oliver, tidak dihadirkan sebagai sesuatu yang jauh atau seremonial, melainkan sebagai bagian yang menyatu secara diam-diam dalam kehidupan sehari-hari.

Kesan serupa dirasakan Aulia Ramadhiny, salah satu pengunjung pameran. Ia mengaku sangat terkesan dengan karya Our Health is Our Wealth dan Dim Sum Day.

"Detail dan polanya sangat padu, dengan permainan warna yang berani," ujar sarjana Manajemen Transportasi yang juga gemar melukis tersebut.

Sudrajat
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.