Kisah Ahmad Rajafi, Adik Kelas Apoy Gitaris Wali Band yang Kini Rektor IAIN Manado
Rizali Posumah February 08, 2026 10:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Bagi Prof. Dr. Ahmad Rajafi, M.HI., menjadi seorang pengajar di bidang agama adalah suatu panggilan. 

Sedari kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi seperti kakek dan ayahnya serta dapat meneruskan legasi keluarganya yang bergelut di bidang keilmuan Islam.

Kakeknya seorang Kyai yang mengajarkan kajian kitab-kitab klasik Islam. Sementara ayahnya adalah seorang dosen.

Demi mewujudkan cita-citanya itu, ia pun menempuh pendidikan di Pesantren La Tahzan, Banten, tempat di mana Apoy, gitaris Wali Band juga mondok. 

"Apoy gitaris band Wali itu kakak kelas saya di Pesantren," terang dia. 

Kisah inspiratif ini ia ceritakan dengan cukup panjang dalam podcast di Kantor Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kairagi Dua, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara bersama Manager Online dan Liputan Tribun Manado Handhika Dawangi pada Sabtu (7/2/2026).

Pria kelahiran Lampung ini juga berbagi cerita tentang filosofi "mencuci piring" yang membentuk profesionalismenya, hingga ambisi besarnya membawa IAIN Manado bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang dapat menjadi pusat kajian moderasi beragama di Asia Tenggara. 

Berikut petikan wawancaranya: 

Mungkin bisa diceritakan masa kecilnya pak?

Saya masa kecilnya lahir di Provinsi Lampung. Tahun 1984 bulan April. Ayah saya seorang PNS biasa yang waktu itu gajinya tidak seberapa. Anaknya lima dan saya anak bungsu.

Saya mendapat pembelajaran langsung dari ibu saya. Jadi ibu saya itu guru ngaji. Dari kakak saya masih kecil bahkan sampai sekarang di usia 75 tahun pun dia masih ngajar ngaji. 

Dari situ kemudian pendidikan formal SD saya dimulai di Lampung, SDN 2. Kemudian mondok. Dulu mondok itu gak ada orang yang mau mondok. Masuk Pesantren itu dulu susah, dan saya sejak kelas 4 SD itu sudah pengen masuk pondak aja itu. 

Dan saya waktu itu ngomong ke orang tua, saya kalau mau mondok itu harus di Jawa Timur. Pokoknya di Jawa. Bukan di Lampung. Sedangkan ibu saya mau gak usah jauh-jauh.

Akhirnya diputuskan jalan tengah. Saya dimasukkan ke pesantren La Tansa di Banten. Jadi Apoy itu gitaris Wali Band kakak saya di Pesantren La Tansa. 

Setelah itu, saya ingin lanjut enam tahun di La Tansa orang tua bilang nak di sini (Lampung) saja. Pindah. Karena kakak dulu pengen kuliah S2. 

Saya bilang okelah saya tes-tes dulu aja. Saya gak tau ternyata dulu ada Pesanteren Negeri, sekarang baru mulai mau diangkat lagi Pesantren Negeri namanya MAPK, Madrasah Aliyah Program Khusus. Yang kemudian menjadi MAKM, Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri.

Itu produk dari Menteri Agama Pak Munawir Syadzali. Kita dipondokkan, dan beasiswa itu. Kasurnya sudah ada. Yang tes itu saya ingat 200-an. Dan diterima cuma 40 orang dan Alhamdulilah saya masuk dan gratis semua enam tahun di Pondok.

Kemudian sambil saya ngajar di Pondok Pesantren saya kuliah. Dan itu jarak dari Pesantren ke tempat saya kuliah IAIN Lampung itu sekitar 40 menit.

Bawa motor waktu itu, motor zaman dulu yang kalau kena hujan langsung mati itu. Tapi Alhamdulilah dinikmati, lalu saya lanjut. Bahkan saya itu, saya ingat sekali, saat saya ujian skripsi, hari itu juga saya diterima langsung S2 tempat tes. 

Lanjut saya lulus S2, saya ingat skali itu pokoknya dapat ijazah saya langsung urus dosen PNS. Langsung lulus. Jadi emang kayak gak ada rem.

S1 saya Hukum Islam, S2 saya Hukum Islam juga. Lalu kemudian di tes itu penempatannya nasional. Jadi saya waktu itu gak mikir bakal ditempatkan ke Manado. Eh tau-tau dari Jakarta penempatan Manado. 

Bagaimana kesan pertama di Manado?

Dulu keluarga suruh jangan diambil. Kan tanda kutip zaman dulu kalau Sulawesi itu dianggap wah mati nih. Peranglah apalah, kan zaman dulu masih ada kerusuhan di Ambon, Maluku, Poso. Jadikan tahun 2009 itu.

Saya bilang saya dulu kan minta sampai di Mekkah doa di situ apa yang kita inginkan. Ketika Allah kasih disuruh lepas, ya gak busa Alhamdulilah saya ambil. Saya ke sini (Manado) dan gak lama saya kuliah lagi S3 dan di Manado sampai sekarang. 

Kenapa kok sejak kecil ingin masuk Pesantren?

Saya itu dulu sering nonton Zainudin MZ. Dulu itukan ada nada dan dakwah yah. Jadi kalau nadanya Rhoma Irama dakwahnya Zainudin. Dan itukan tiap Rhamadan pasti selalu ada Zainudin tuh. Nah kebetulan bapak juga kan Dosen.

Kakek saya kan kyai, saya berpikir kok ilmu bapak ini gak ada, jadi kakek saya dari pihak ibu itu adalah salah satu penggagas Pondok Pesantren modern NU di Lampung. Mungkin dari situlah saya pengen.

Dan dulu waktu SD setiap libur itu saya pasti diantar ke tempat kakek saya. Disuruh ngaji, zaman itukan saya gak ngerti itu ngaji kitab apa pokoknya ngikut aja apa kata kakek.

Dari situlah keinginan saya kuat sekali pengen masuk pondok. Disuruh masuk pondok dekat rumah dulu. Gak mau saya. Kan prinsipnya gini. Orang pondok itu kayaknya ya semakin dekat rumah itu bawaanya semakin ingin pulang. Kalau pulang terus gak dapat ilmunya ini. 

Apa perkataan atau nasehat orang tua yang paling membekas di benak anda? 

Saya itu gini. Ingat betul ya. Karena orang tua saya itu kan karena basis kami memang dari  keagamaan. Ada satu hal yang sering sekali diingatkan nak kalau bisa makan jangan lupa cuci piring. Dalam ini, apa maksudnya. Terus dikasih tahu.

Nak maksudnya banyak orang bisa kerja tapi gak sanggup nyelesain pekerjaannya. Sedangkan kalau kita sudah memulai sesuatu, kerjakan sesuatu itu sampai selesai. Cuci piringya sampai bersih. 

Nah maksudnya apa, itu hidup profesional. Orang yang profesional itu kayak gitu. Yang tau kerja tapi tau finish. Bukan cuman tau kerja tapi gak tay finish. Kan banyak kan gitu ya. Akhirnya minta maaf, dalam konteks bisnis bisa merugi itu.

Jadi selalu saya dalam hidup itu menjadi pribadi yang profesional. Kalau jadi ahli agama jadi ahli agama yang profesional. 

Maksudnya apa jangan setengah-setengah. Kan kalau dalam kitab itu disebutkan orang yang setengah-setengah itu membahayakan. Kalau ada orang setengah ilmu kedokteran itu merusak badan itu. Pasiennya bisa mati itu. Asam lambung dikira jantung dikasi obat jantung terus akhirnya mati kan.

Termasuk orang yang setengah ilmu agamanya merusak dunia ini. Misalnya ada yang nanya pak ini mandi wajib seperti apa, dijawab udah pokoknya mandi aja. Itukan ilmu setengah itu, membahayakan. Akhirnya kan banyak orang yang tersesat. 

Apakah pernah ada cita-cita lain pak Rektor? 

Dulu cita-cita awal itu menggantikan bapak saja. Bapak itu tukang ngajar agama. Keliling ke mana-mana gitu. Istiah zaman dulu itu Turba. Turba itu turun ke bawah. Jadi ngajar bapak itu. Bahkan mahasiswa itu diajarkan kitab-kitab kuning. Ikhlas gitu. Makanya Alahuakbar ya saya sampaikan. Saya itu sama bapak itu kayak gayung bersambut.

Jadi ketika bapak saya terima SK Pensiun saya terima SK PNS. Mungkin karena doa orang tua gitu ya. Karena kan namanya doa orang tua itu tembus itu ke langit. Doanya kan gak bersekat. Kami lima beradik, yang benar-benar menggantikan posisi bapak sebagai dosen saya. 

Apakah Pak Rektor dulu istilahnya bandel pada ibu atau pada ayah? 

Kalau bandel itu biasa itu anak-anak ya. Saya itu pernah dipukul mamak saya itu, kalau sekarang masuk penjara mamak saya itu. Mamak saya itu paling keras kalau masalah salat. Kayu sapu itu bisa sampai patah itu. 

Waktu kuliah bagaimana aktivitas di organisasi?

Saya termasuk aktif. Saya memang dari pondok sudah akif berorganisasi. Bahkan saya sampai jadi leader waktu itu. Saya bahkan pernah waktu Aliyah itu ngajak kawan-kawan aksi sampai ke Jakarta. Sampai kuliah itu saya jadi Gubernur Mahasiswa. Itu mahasiwanya ya.

Saya dulu itu tergabung di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan terus berorganisasi. Organisasi itu penting untuk gembleng kita. Gembleng bukan dari aspek pengetahuan tapi dari aspek tenggang rasa. Seperti merasa kita punya saudara, merasa kita punya teman yang harus saling bersama.

Saling bantu, saling jaga. Kalau kita pintar cuman di otak doang, kita punya teman dia luka atau apa udah tinggalin aja tuh. Dengan organisasi kita tau, dia teman nih. Orang organisasi itu kan tau ya, 10 orang bersama paling cuman satu orang yang punya uang. Jadi gimana caranya satu gorengan bisa makan sama-sama nah itulah organisasi yang semua itu.

Dulu siapa dosen atau guru yang paling membentuk metode berpikir pak rektor?

Saya itu ada dua, pertama di pondok. Waktu itu di angkatan saya itu ada Kiyai Haji Ahmad Rifai Arif. Itu Pimpinan Pondok Pesantren La Tansa. Itu beliau itu Subahanallah ya. Meski masih muda beliau meninggal tapi gerakannya hebat sekali. Pondoknya di mana-mana dan keikhlasannya sangat kuat.

Saya ingat betul itu ada istilah meskipun kita makan ikan berjaket tapi otak kita itu bisa seperti otak Jepang. Ikan berjaket itu, ikan yang dibungkus, bungkusnya lebih tebal daripada ikannya. Itu artinya hidup harus maju. Boleh kita nampak susah dengan makanan yang kita punya tapi pola pikir kita harus maju.

Yang kedua saya punya guru namanya Kyai Haji Wahidin Rais itu guru kami yang di MAPK. Beliau itu guru yang sampai sekarang, kalau ngobrol dengan siapapun santrinya atau alumni pasti pakai bahasa Arab, gak pernah dia pakai bahasa Indonesia. Bahkan bahasa Indonesianya susah padahal orang Indonesia, orang Jawa. Dan beliau itu mengajarkan kami alharkah barokah, terus gerak, produktif, itu menghasilkan berkah.

Makanya saya biar capek bagaimana pun pasti tersenyum karena berkah kita itu karena ketemu orang. Karena kita bergerak terus, itulah berkahnya. Yang ketiga spritualitas saya itu terbangun dari Abuya Syamsyuddin yang mengajarkan tentang akhlak kesufian dan tauhid dan sebagainya. 

Sebagai seorang cendekiawan bagaimana Pak Rektor menyeimbangkan antara tradisi keilmuan Islam dengan tuntutan modernitas di lingkungan kampus?

Saya itu memegang betul gagasan bahwa sanya sesuatu yang lama itu tidak boleh ditinggal tetapi yang baru itu juga jangan alergi. Karena yang lama itukan bagian dari tradisi, bagian dari kita, tapi yang baru juga jangan sampai kita gak mau nerima. Karena yang baru itu pasti. Dan kita harus menerima itu. Tapi bukan berarti menerima secara penuh itu lalu kemudian menafikan yang lama.

Di situlah saya itu dalam konteks keilmuan, saya masih mengajarkan kitab tapi kitabnya udah berubah udah pakai Ipad gak lagi kayak dulu pakai kitag kuning kena air ilang. Kemudian kita juga mengajarkan di YouTube.

Zaman dulu kita cuman bisa mengajar beberapa santri saja. Sekarang lewat YouTube banyak yang bisa menyaksikan. Ada istilahnya Kyai Influenser kali ya. Intinya tetap memberi manfaat. Karena kan setiap manusia itu yang paling keren itu adalah yang memberikan manfaat kepada orang lain. 

Ini kan sedang diperjuangkan IAIN Manado ke UIN. Nah apa yang diprioritaskan dalam mentransformasi IAIN ini? 

Moderasi beragama itu substansi kami ya. Jadi IAIN Manado itu telah men-declare sebagai kampus pengabdian dengan model moderasi beragama dan multikulturalisme. Itu model kami. 

Jadi ketika kita menjadi UIN itu pun UIN yang betul-betul mengimplementasikan moderasi beragama.

Contohnya begini. Sebelum menjadi UIN, apakah non Muslim bisa kuliah di sini? Saya sebut saja sudah beberapa yang jadi alumni. Yang alumni Kristen kita ada, yang alumni Katolik kita ada. Ilmu apa yang dia dapatkan? Bukankah ilmu pendidikan, meskipun dia ada nama Islamnya tapi kan dia pendidikan, dan gelarnya adalah gelar umum.

Artinya apa? Ketika mereka masuk di sana, bukan berarti dipaksa untuk memahami tentang Keislaman tapi dia harus paham tentang model pendidikan cara Islam. Jadi substansi itu yang kemudian diterima kemudia ada yang masuk ke kita (IAIN). Ada yang masuk ke Ilmu Hukum, Fakultas Syariah, S1 bahkan ini sudah S2, kalau tidak salah sudah mau wisuda ini S2nya dia lanjut.

Saya tanya apa kok kamu pengen skali masuk ke IAIN? Saya dapat nikmat pembelajaran yang mungkin gak bisa saya dapat di tenpat lain. Itulah moderasi beragama, kita gak paksa dia untuk bisa ngaji Quran tapi dia setidaknya tahu, kitab yang dia baca kemudian bisa jadi bahan penelitian dalam kajian pendidikan yang dia bahas. 

Sejauh mana persiapan IAIN Manado menuju UIN?

Setelah kita paham dengan betul posisi kita, IAIN Manado ini dan kita ingin menjadi UIN kami mendudukkan bahwa Universitas Islam Negeri Manado ini harus betul-betul menjadi rumah besar pendidikan dan peningkatan SDM di Sulawesi Utara menuju nanti di 2035 menjadi pusat kajian moderasi beragama di Asia Tenggara. Oleh karenannya saat ini Alhamdulilah seluruh berkas kami sudah selesai semuanya. Harapan saya itu cuma satu, di 2026 mudah-mudahan UIN Manado sah. 

Kalau untuk bangunan bagaimana pak?

Ya Alhamdulikah kita punya tiga kampus sekarang. Kampus satu kita di Jalan Ring Road yang sekarang. Itu untuk S1 keagamaan. Jadi empat fakultas: Syariah, Tarbiyah, Usuludin dan yang terakhir Ekonomi dan Bisnis Islam. 

Kampus dua kita itu ada di Wori, Minahasa Utara, untuk Pasca Sarjana itu untuk S2 dan S3, termasuk untuk ballroom besar di siu jadi kita tidak lagi susah-susah nyewa hotel kalau wisuda. Kampus tiga kita nanti di Bolmong di Tapaaok. Dari Kotamobagu itu sekitar 15 menit, dari Lolak 20 menit, dari Boltim sejam dan kemudian dari Bolsel juga sejam. Yang jauh mungkin dari Bolmut. 

Yang sebagaimana arahan Pak Menteri Agama ketika beliau datang ke sini untuk Fakultas Kesehatan dan Kedokteran kita. Mudah-mudahan sukses tahun ini. Kita sedang membangun gedung satu lantai tapi kita rencanakan untuk bisa tiga lantai.

Dan mudah-mudahan IsnyaAllah kalau Allah ridhoi semuanya 2027 sudah ada Fakultas Kesehatan kita dan jangan-jangan Fakuktas Kedokterannya juga akan sudah mulai. 

Saat ini sudah berapa guru besar di IAIN Manado? 

Sudah 14. 2023 bulan jadi sewatu saya pertama kali menjabat rektor itu baru satu orang Guru Besar.

Itu Prof Dr Hj Rukmina Gonibala. Kemudian di Agustus dan September ketambahan dua. Sampai di Desember jadi lima orang. Kemudian setiap tahun ada dan Alhamdulilah sekarang sudah 14. Dan mudah-mudahan ini mau nambah lagi tiga orang. 

Jika pak rektor bisa merangkum dalam satu kalimat, kira-kira apa legasi atau warisan terbesar yang ingin ditinggalkan ke IAIN yang akan menjadi UIN?

Satu. Ada tagline yang selalu saya sampaikan kepada kawan-kawan IAIN Manado maju bersama. Apa maksudnya? Begini Ahmad Rajafi itu akan mati. Ahmad Rajafi itu 10 atau 20 tahun yang akan datang itu dia mungkin pindah, hilang. Tapi kebersamaan tidak akan pernah hilang.

Dan saya tidak pernah mengatakan bahwa keberhasilan itu karena saya. Tidak pernah. Dan saya mengharamkan untuk mengatakan kenapa ada ini, karena saya. Tapi kenapa kita sama-sama bisa? Karena kita sama-sama melakukannya. 

Bayangkan ketika saya belum satu tahun menjabat sebagai rektor, pertama kali IAIN yang terakreditasi unggul di Indonesia itu IAIN Manado. Waktu itu yang unggul di UIN seingat saya baru tiga. Dan itu kemudian kita tuh jadi pemantik sampai kemudian ada istilah "Manado kok bisa ya." Karena kan minta maaf zaman dulu itu orang itu menganggap ujung itu apa sih? Akhirnya karena itu orang-orang mau datang belajar ke kita di Manado.

Kita PPG terbaik karena kita tercepat menyelesaikan tugas-tugas untuk PPG. Dan Alhamdulilah semua itu bisa terjadi karena kebersamaan. Jadi Manado itu hebat karena punya tim hebat. Jadi saya ingin ngomong membangun kampus itu cuma satu? Maju bersama.

Apa Harapan Besar Pak Rektor ke depan untuk UIN dalam moderasi beragama dan pusat keunggulan di Sulut?

Saya itu punya harapan besar sekali. Jadi gini kadang kala orang merasa UIN itu hanya milik mereka yang bekerja di sana. Padahal gak loh, UIN itu aset Sulawesi Utara. Dan saya pengen moderasi beragama itu betul-betul tertanam baik di temoat kita.

Bukan hanya pada aspek pengetahuan tapi juga pada aspek imolementasi di lapangan dalam bersosial. Saya ingin sekali UIN Manado menjadi jalan kebersamaan yang bukan saja punya orang Islam. Jangan. Ini punya Sulawesi Utara.

Dan kalau orang belajar dengan baik. SDM kita baik. Yang merasakan nikmatnya nanti Sulawesi Utara.

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.