Surabaya Bangun Pusat Edukasi Lingkungan di Taman Mozaik
Dyan Rekohadi February 08, 2026 11:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kota Surabaya bersiap menghadirkan sebuah pusat pembelajaran lingkungan terpadu yang menggabungkan edukasi pengelolaan sampah, konservasi alam, hingga pemahaman dampak perubahan iklim.

Fasilitas ini tidak hanya mengajarkan konsep reduce, reuse, dan recycle, tetapi juga mengenalkan ilmu sains tentang cuaca ekstrem dan kaitannya dengan kesehatan manusia.

Grand design telah disiapkan. Lokasi pun sudah ditentukan.

Pusat edukasi lingkungan tersebut akan dibangun di kawasan Taman Mozaik, Jalan Wiyung Praja. 

Ikon utamanya adalah sebuah Paviliun Edukasi Mozaik, bangunan berarsitektur ramah lingkungan dengan dinding bermotif warna-warni.

Kawasan ini dirancang sebagai ruang rekreasi edukatif, pusat konservasi, sekaligus paru-paru kota.

Pembangunannya merupakan hasil kolaborasi  Rotary Club of Surabaya Kaliasin dengan Pemerintah  Kota Surabaya serta berbagai pihak dilibatkan sebagai mentor dan pendamping program, salah satunya dr Paul Agus Dwiyanu, SpP,  Pembina Yayasan Kabar Dokter Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan Pembina PADI Medika Indonesia.

Baca juga: Aksi Siswa Surabaya Sudah Bergerak Kelola Sampah, Rutin Bersih Pantai

 

Peletakan Batu Pertama

Pembangunan kawasan edukasi ini ditandai dengan peletakan batu pertama pada Minggu (8/2/2026). 

Momentum tersebut sekaligus menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan kota.

Rohmawati, S.E. - Program Director Global Grant #2457789 mengatakan kawasan ini akan menjadi ruang belajar lintas generasi dan menjadi program yang berkelanjutan.

“Hari ini kami bersama Pemkot Surabaya melaksanakan kegiatan penanaman  500 pohon/tanaman serta Peletakan Batu Pertama gedung Rotary Educational Park Learning Center di Taman Mozaik. Tempat ini bisa dieksplorasi anak cucu kita untuk belajar lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari program Global Grant #2457789 Rotary Club of Surabaya Kaliasin dan Novato USA yang bertujuan membangun pusat pelatihan lingkungan bagi masyarakat. 

Salah satu fokusnya adalah pengelolaan sampah dan pengembangan produk ramah lingkungan, seperti eco enzyme, yang sudah berjalan sejak Januari 2026.

“Sekarang di mana-mana banjir saat hujan lebat. Dengan adanya taman ini, oksigen bertambah, resapan air meningkat, dan lingkungan menjadi lebih seimbang,” tambahnya.

Baca juga: Surabaya Jadi Percontohan Nasional Pengolahan Sampah, Siap Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Kedua

 

Kolaborasi Lintas Sektor

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, Dedik Irianto, menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. 

Menurutnya, edukasi pemilahan sampah menjadi kunci utama perubahan perilaku masyarakat.

“Sampah ada dua jenis, organik dan anorganik. Keduanya harus dipahami cara pengolahannya. Gerakan mengolah sampah masih menjadi tantangan, sehingga perlu pendampingan berkelanjutan,” ujarnya.

Dedik juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan berkelanjutan. 

“Pembangunan Surabaya tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, TNI-Polri, dan masyarakat harus terus diperkuat,” katanya.

 

Isu Lingkungan

Keterlibatan tenaga medis dan akademisi dalam proyek ini menjadi penting, mengingat isu lingkungan kini semakin erat kaitannya dengan persoalan kesehatan masyarakat.

Perubahan iklim global telah berdampak nyata di tingkat lokal, termasuk di Surabaya.

Suhu udara yang terus meningkat, cuaca ekstrem, serta memburuknya kualitas lingkungan menjadi konsekuensi dari pemanasan global.

 Kondisi ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan warga.

Fenomena urban heat island fenomena suhu di kawasan perkotaan yang jauh lebih panas dibandingkan daerah pedesaan di sekitarnya salah satu dampak paling terasa.

Padatnya bangunan beton, efek rumah kaca, minimnya ruang terbuka hijau, serta tingginya aktivitas kendaraan membuat suhu kota lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. 


Situasi ini memicu risiko dehidrasi, kelelahan, hingga serangan panas, terutama bagi kelompok rentan.

Selain itu, peningkatan suhu dan polusi udara turut memengaruhi pola penyebaran penyakit.

Kondisi ini memicu masalah kesehatan utamanya pernafasan terhadap kelompok rentan.

Karena itu, upaya mitigasi dan adaptasi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak bagi kota besar seperti Surabaya.

“Perubahan iklim dan meningkatnya suhu kota merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Melalui penanaman pohon, penguatan ruang hijau, dan edukasi lingkungan, kita berupaya menekan dampak panas ekstrem sekaligus mencegah meningkatnya angka kesakitan dan kematian,” ujar dr Paul Agus Dwiyanu, SpP, konsultan proyek CoRHAP.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.