Dibayangi Aksi Gelombang Jual Asing, IHSG Masih Rawan Koreksi
Vito February 08, 2026 10:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali jatuh ke bawah level 8.000. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (6/2), IHSG ditutup terkoreksi 2,08 persen ke posisi 7.935,26. 

Dalam sepekan, IHSG anjlok hingga 4,73 persen, disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing di seluruh pasar yang mencapai Rp 3,62 triliun.

Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana meramal pergerakan bursa saham domestik masih berada dalam tekanan dan volatilitas yang tinggi untuk perdagangan pekan ini, yakni sepanjang Senin (9/2) hingga Jumat (13/2).

Menurut dia, sentimen negatif dari sejumlah lembaga global seperti Goldman Sachs, UBS, Moody’s, hingga MSCI jelas menjadi beban psikologis bagi pelaku pasar. 

"Penurunan peringkat IHSG menjadi underweight oleh Goldman Sachs, disusul UBS yang menurunkan rekomendasi saham Indonesia ke level netral, memperkuat persepsi bahwa daya tarik pasar domestik di mata investor global sedang menurun," katanya, kepada Kontan, Minggu (8/2).

Hendra menyebut, tekanan itu semakin terasa setelah Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun status investment grade masih dipertahankan. Artinya, risiko memang belum terjadi, tetapi arah risikonya kini dinilai memburuk.

Di tengah kondisi tersebut, dia menambahkan, IHSG berpotensi kembali mengalami koreksi terbatas dalam jangka pendek, terutama jika belum ada katalis positif baru yang mampu memulihkan kepercayaan investor. 

Secara teknikal, Hendra menyatakan, area support IHSG diperkirakan berada di kisaran 7.850 hingga 7.900. Jika level itu ditembus, maka tekanan bisa berlanjut ke area psikologis berikutnya. 

Sementara, level resistance terdekat berada di kisaran 8.000 hingga 8.050, yang berpotensi menjadi area jual selama sentimen global dan domestik belum membaik. "Dengan kata lain, pergerakan indeks masih cenderung sideways dengan bisa melemah," ucapnya.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto mengamini volatilitas pasar yang masih akan tinggi. Tekanan juga datang dari pergerakan nilai tukar setelah Moody’s menurunkan outlook Indonesia.

Ia berujar, sentimen yang dapat mendorong investor asing kembali ke pasar domestik bergantung pada langkah dan komunikasi kebijakan pemerintah.

"Terutama upaya perbaikan atas berbagai isu yang memicu penurunan kepercayaan investor asing, termasuk risiko fiskal, independensi Bank Indonesia, serta peningkatan transparansi dan keterbukaan informasi emiten sesuai tuntutan MSCI," bebernya.

Dari sisi aliran dana asing, Hendra berpandangan, potensi net sell masih cukup besar dalam jangka pendek hingga menengah.

Investor global cenderung bersikap wait and see terhadap Indonesia, terutama setelah muncul kekhawatiran terkait ruang fiskal yang semakin sempit pada APBN 2026. 

Menurut dia, peringatan dari S&P Global Ratings mengenai potensi penurunan peringkat utang jika kondisi fiskal melemah juga menjadi faktor tambahan yang membuat investor asing lebih berhati-hati. 

"Dalam kondisi seperti ini, asing umumnya akan mengalihkan dana ke pasar yang dianggap lebih defensif atau memiliki visibilitas kebijakan yang lebih kuat," jelasnya.

Rully juga sependapat bahwa jual bersih asing cukup terbuka lebar, terutama di tengah volatilitas pasar saat ini.

Adapun, Hendra menyarankan bagi investor dan pelaku pasar domestik untuk bersikap selektif dan disiplin sebagai strategi yang paling rasional. 

Dia menambahkan, investor jangka pendek disarankan fokus pada saham-saham berfundamental kuat, likuiditas tinggi, serta memiliki katalis spesifik seperti kinerja keuangan yang solid atau aksi korporasi. 

Sementara untuk investor jangka panjang, koreksi pasar justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi bertahap, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki peran strategis dalam menopang IHSG. 

"Di tengah badai sentimen global, pasar tidak membutuhkan euforia, melainkan konsistensi kebijakan, stabilitas fiskal, dan komunikasi yang kredibel, agar kepercayaan investor dapat kembali pulih secara bertahap," tandasnya. (Kontan/Rashif Usman)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.