Napas, Otot, Irama Hingga Mimik Dibalik Kostum Barongsai
M Iqbal February 09, 2026 12:29 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Tentunya banyak yang kagum dengan penampilan barongsai yang selalu banyak muncul pada momen Imlek seperti ini. Namun dari kepiawaian para pemain, gerakan barongsai ternyata tidak sekadar lompatan dan tabuhan musik. Di balik kepala singa yang tampak hidup, ada koordinasi rumit antara pemain depan dan belakang yang harus menyatu dalam satu napas.

Kepala barongsai tak boleh sekadar bergerak, tapi harus 'bermimik', kadang waspada, gembira, takut, atau penasaran. Semua ekspresi itu ditampilkan lewat gerakan tangan, kedipan mata singa, dan ritme langkah yang presisi. Sementara di bagian ekor, pemain harus kuat menahan beban, menjaga keseimbangan, dan mengikuti setiap perubahan arah tanpa terlihat ragu.

Yonaldo Pratama, pria 27 tahun yang akrab dengan nama Aldo, merupakan salah satu pemain barongsai di Klenteng Hok Tek Tong Pekanbaru, merasakan betul betapa luar biasanya peran itu. Pria muslim ini mulai bergabung sejak 2013, saat masih duduk di bangku SMP. 


Walau bukan merupakan dari etnis Tionghoa, ketertarikannya tumbuh karena rumahnya dekat dengan klenteng Dewi Sakti Karya Indah, tempat barongsai rutin tampil dalam berbagai perayaan, sejak ia masih berumur 6 tahun. Baru pada bangku SMP ia bergabung. Meski sempat memulai dari pemain musik simbal, setahun kemudian Aldo dipercaya mengenakan kostum singa dan merasakan langsung luar biasanya latihan barongsai.


Latihan menjelang Imlek pun tidak main-main. Dalam sepekan, latihan dilakukan tiga kali, bahkan bisa lebih padat saat jadwal tampil meningkat. Fisik menjadi prioritas utama, karena barongsai menuntut stamina, kekuatan kaki, dan kekompakan. 


Tantangan terbesar, menurut Aldo, adalah menyelaraskan gerakan kepala dan ekor. Sedikit saja tidak serasi, barongsai bisa kehilangan bentuk dan ekspresinya. "Yang depan harus menampilkan ekspresi, lompatan harus sesuai juga seimbang dengan yang di belakang, dan juga gerakan tangan. Yang belakang harus kuat menahan dan mengikuti dengan selaras," ujarnya.


Tak hanya Aldo, regenerasi pemain barongsai di Pekanbaru juga diisi oleh anak-anak muda. Salah satunya Sella Gracia, siswi kelas 12 Sekolah Tunas Bangsa Pekanbaru, anggota barongsai Vihara Surya Dharma. Sella berperan sebagai pemain musik, bagian penting yang menentukan irama dan suasana pertunjukan. Menjelang Imlek, jadwal latihan mereka nyaris setiap hari karena padatnya undangan tampil di berbagai tempat.


Meski demikian, Sella mengatakan aktivitas barongsai tidak mengganggu sekolah. Ia tetap belajar seperti biasa dan justru bangga bisa terlibat dalam pelestarian budaya. "Luar biasa padat jadwal kalau jelang Imlek, tapi senang. Ini bagian dari budaya yang harus dijaga," katanya. Baginya, barongsai bukan sekadar pertunjukan, tapi ruang belajar disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab.


Ketua Barongsai Hok Tek Tong Pekanbaru, Hendra Hartanto, mengakui antusiasme anak-anak muda menjadi kekuatan utama organisasi barongsai saat ini. Banyak di antara mereka masih berstatus pelajar. Latihan rutin biasanya berlangsung pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, dimulai dari latihan fisik dan kuda-kuda sebelum masuk ke seni gerakan barongsai.


Namun, melatih anak-anak sekolah tentu punya tantangan tersendiri. Hendra bercerita, ada kalanya anak-anak kelelahan atau salah paham saat latihan. "Namanya juga masih anak-anak, kadang ngambek. Biasanya kita bujuk, diajak makan yang mereka suka, didekati pelan-pelan, nanti mereka semangat lagi latihan," ujarnya. Ia memaklumi kondisi mereka yang sudah lelah belajar di sekolah sejak pagi hari, sehingga pendekatan persuasif menjadi hal utama dalam menjaga semangat latihan mereka.


Dari sisi pendanaan, dikatakan Hendra, kegiatan barongsai dijalankan dengan semangat gotong royong. Sumbangsih anggota menjadi sumber utama, didukung pengelolaan divisi keuangan organisasi. Jika ada kebutuhan, dibahas bersama dalam forum untuk mencari solusi bersama. Selain itu, mereka juga aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk merekrut anggota baru. Hasilnya, minat anak muda terus tumbuh.


Lebih dari sekadar atraksi Imlek, barongsai di Pekanbaru kini menjadi ruang perjumpaan lintas usia dan latar belakang. Banyak pemainnya berasal dari generasi muda, bahkan lintas agama dan budaya. Di tengah lompatan yang presisi dan mimik singa yang hidup, barongsai menjelma sebagai simbol kerja keras, toleransi, dan semangat menjaga warisan budaya agar tetap bernyawa di tangan generasi berikutnya. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.