Asal-usul Kue Lapis Legit, Kuliner Khas Selalu Ada saat Imlek di Solo, Jadi Simbol Rezeki Berlapis
Ika Putri Bramasti February 09, 2026 07:44 AM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Solo nyaris tak bisa dilepaskan dari kehadiran kue lapis legit.

Di meja-meja rumah warga Tionghoa, terutama di kawasan Pasar Gede dan sekitarnya, kue berlapis dengan aroma rempah yang khas ini hampir selalu menjadi hidangan utama saat perayaan tahun baru lunar.

Bukan sekadar camilan, lapis legit menyimpan sejarah panjang yang telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka.

Tradisi menyajikan kue ini saat Imlek pun telah mengakar kuat di Solo dan terus bertahan hingga kini.

Di Solo, perayaan Tahun Baru Imlek biasanya identik dengan kue lapis legit.
Di Solo, perayaan Tahun Baru Imlek biasanya identik dengan kue lapis legit. (Kompas.com)

Baca juga: Tradisi Nyekar Jelang Ramadan di Solo, Bunga Tabur Jadi Simbol Penghormatan Untuk Para Leluhur

Asal-usul kue lapis legit

Lapis legit pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada masa kolonial Belanda sekitar awal abad ke-19.

Dalam buku Jejak Rasa Nusantara karya sejarawan Fadly Rahman, disebutkan bahwa kue ini awalnya dikenal dengan nama spekkoek, berasal dari bahasa Belanda: spek (lapisan) dan koek (kue).

Resep awal spekkoek diyakini terinspirasi dari kue Eropa dan memiliki kemiripan dengan kue Hungaria bernama doboshtorte.

Namun ketika dibawa ke Nusantara, resep tersebut mengalami adaptasi besar-besaran.

Masyarakat lokal menambahkan rempah-rempah khas seperti kayu manis, cengkeh, dan pala, menciptakan cita rasa yang lebih kaya dan sesuai dengan selera Indonesia.

Seiring waktu, spekkoek lebih populer dengan sebutan lapis legit, merujuk pada tampilannya yang berlapis-lapis dan rasanya yang manis legit.

Identik dengan Imlek di Solo

Di Solo, perayaan Tahun Baru Imlek biasanya identik dengan kue lapis legit.

Salah satu hidangan yang hampir selalu hadir di meja perayaan Imlek etnis Tionghoa adalah kue ini. Bahkan, banyak keluarga yang mewariskan resep lapis legit secara turun-temurun.

Rasanya yang manis, teksturnya yang lembut, serta aromanya yang kaya rempah menjadikannya pilihan istimewa untuk momen spesial.

Namun khusus saat Imlek, lapis legit memiliki makna yang lebih dalam.

Simbol rezeki berlapis

Bagi masyarakat Tionghoa, setiap hidangan Imlek mengandung filosofi. Lapis legit dipercaya membawa keberuntungan dan rezeki.

Lapisan-lapisan pada kue ini dimaknai sebagai simbol rezeki yang berlapis ganda serta kehidupan yang terus meningkat di tahun yang baru.

Semakin banyak lapisan pada lapis legit, semakin besar pula harapan akan kemakmuran.

Umumnya, lapis legit klasik memiliki sekitar 18 lapisan atau bahkan lebih, yang melambangkan kelimpahan dan keberuntungan.

Makna simbolis inilah yang membuat lapis legit tak tergantikan dalam tradisi Imlek di Solo.

Proses pembuatan rumit

Di balik tampilannya yang sederhana, lapis legit dibuat melalui proses yang rumit dan membutuhkan ketelatenan tinggi.

Bahan-bahan yang digunakan pun tergolong premium, seperti kuning telur dalam jumlah besar, mentega berkualitas, tepung terigu, gula, serta campuran rempah-rempah.

Adonan dipanggang lapis demi lapis di dalam oven. Setiap lapisan harus matang sempurna sebelum lapisan berikutnya dituangkan.

Proses ini dapat memakan waktu berjam-jam dan membutuhkan ketelitian agar hasilnya lembut, rapi, dan bebas gelembung udara.

Karena proses panjang tersebut, lapis legit memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan kue tradisional lainnya.

Harga sebanding dengan kualitas

Bahan berkualitas dan teknik pembuatan yang tidak sederhana membuat harga lapis legit tergolong tinggi.

Di pasaran, satu loyang lapis legit dijual dengan kisaran Rp200.000 hingga Rp1.000.000, tergantung ukuran dan kualitas bahan.

Untuk versi premium yang menggunakan butter wijsman dan lebih banyak kuning telur, harganya bahkan bisa mencapai jutaan rupiah per loyang.

Meski demikian, menjelang Imlek, permintaan lapis legit di Solo tetap meningkat.

Banyak toko kue legendaris kebanjiran pesanan, membuktikan bahwa kue ini bukan hanya simbol kemewahan, tetapi juga bagian dari tradisi yang terus dijaga.

Lebih dari sekadar hidangan manis, lapis legit telah menjadi simbol akulturasi budaya, warisan kolonial yang berpadu dengan tradisi Tionghoa dan cita rasa Nusantara yang hingga kini tetap menghangatkan perayaan Imlek di Kota Solo.

(TribunStyle.com/Ika Bramasti).

Ikuti dan Bergabung di Saluran Threads TribunStyle.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.