ERNAWATI, Pustakawan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe
Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, letusan gunung berapi, atau tsunami sering menimbulkan dampak kerusakan yang parah pada infrastruktur, termasuk sekolah.
Gedung-gedung yang seharusnya menjadi tempat anak-anak menimba ilmu berubah menjadi puing-puing.
Dalam situasi seperti ini, prioritas utama masyarakat memang biasanya merujuk pada kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, dan kesehatan.
Namun, pendidikan tidak boleh diabaikan karena merupakan bagian penting dari pemulihan psikologis dan sosial anak-anak.
Bencana besar di Aceh, 26 November 2025 belum hilang dalam ingatan. Karena banjir masih memberikan kenangan yang masih tertinggal dan belum bisa tuntas.
Meskipun bantuan saat ini terus berjalan, tetapi masih banyak juga warga yang terdampak belum selesai dengan kondisi ini.
Selain rumahnya rusak berat berserta harta lainnya, ditambah lagi kondisi infrastruktur yang belum juga bisa digunakan sebagaimana biasanya.
Berganti tahun juga tak memberikan perubahan yang berarti bagi warga yang Terdampak bencana.
Semester baru (2026/2027) juga telah berjalan, tetapi ruang belajar di sekolah belum bisa diisi dengan canda tawa serta semangat siswa untuk menggapai cita-cita.
Banyak sekolah yang masih berlumpur dan fasilitas sekolah pun sudah tidak bisa digunakan lagi.
Namun, kegiatan belajar- mengajar harus terus berjalan. Begitu musibah banjir melanda, tetapi dampaknya belum usai, pendidikan harus tetap jalan. Maka di situlah sekolah tenda darurat berdiri sebagai antisipasi bagi anak-anak untuk terus menyerap ilmu meski tidak di ruang belajar yang sama.
Ruang belajar darurat
Untuk mengatasi ketiadaan fasilitas belajar, organisasi kemanusiaan dan pemerintah kerap mendirikan sekolah darurat dalam bentuk tenda. Tenda ini berfungsi sebagai ruang kelas sementara yang mampu menampung sejumlah murid dengan fasilitas seadanya.
Di dalamnya, anak-anak tetap dapat belajar membaca, menulis, berhitung, bahkan bermain bersama teman-temannya.
Meski sederhana, kehadiran sekolah darurat memberikan rasa normal, bahkan alami, di tengah situasi yang serbasulit.
Peran guru dalam sekolah darurat sangatlah penting. Mereka tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga memberikan dukungan emosional kepada anak-anak yang baru saja mengalami trauma.
Banyak guru yang bekerja tanpa fasilitas yang memadai, dengan papan tulis sederhana, alat tulis terbatas, hingga buku yang jumlahnya minim. Meski demikian, dedikasi guru tetap menjadi penyemangat agar anak-anak tetap bersemangat belajar. Dalam kondisi darurat, guru juga sering berperan sebagai konselor yang membantu anak-anak menata kembali rasa aman mereka.
Tantangan pendidikan darurat Mendirikan sekolah darurat di balik tenda tidak lepas dari berbagai tantangan.
Keterbatasan sumber daya, kondisi cuaca yang sulit diprediksi, serta ketersediaan tenaga menjadi kendala utama.
Selain itu, konsentrasi belajar anak-anak sering terganggu karena kondisi lingkungan yang penuh. Tenda yang panas saat siang dan dingin di malam hari menambah kesulitan tersendiri.
Meski demikian, semangat untuk terus belajar tetap muncul karena adanya kesadaran bahwa pendidikan adalah modal penting untuk masa depan anak-anak. Pendidikan di tengah pengungsian bencana bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan akademis. Lebih
dari itu, sekolah di belakang tenda memberikan ruang aman untuk anak-anak mengekspresikan diri, bermain, serta berinteraksi dengan teman sebaya. Kehadiran sekolah juga menjadi bentuk pemulihan psikologis yang membantu mereka mengatasi trauma. Anak-anak belajar kembali menemukan rutinitas dan harapan di tengah ekses bencana yang belum sepenuhnya reda.
Sekolah darurat yang berdiri di belakang tenda menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dapat terus berlangsung meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas.
Keberadaan tenda belajar ini menunjukkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk tetap belajar, meskipun rumah dan sekolah mereka telah hancur.
Dari balik kain atau tenda sederhana, tumbuh semangat dan harapan baru yang menjaga agar masa depan anak-anak tidak ikut hilang bersama bencana.
Sekolah di belakang tenda merupakan wujud nyata dari keteguhan manusia dalam menjaga hak pendidikan di tengah bencana.
Meski sarana terbatas dan penuh tantangan, sekolah darurat mampu memberikan harapan, ketenangan, serta semangat bagi anak-anak yang terdampak.
Dari sini terlihat bahwa pendidikan bukan hanya soal gedung megah atau fasilitas lengkap, melainkan tentang harapan yang tidak boleh terhenti meski bencana datang.
Sukarelawan pendidikan
Sukarelawan pendidikan biasanya berasal dari mahasiswa, lembaga sosial, atau komunitas lokal. Mereka melakukan kegiatan seperti membagikan modul cetak, membantu siswa memahami materi, dan memfasilitasi jalur komunikasi antara guru dan orang tua.
Hubungan langsung yang mereka bangun dengan siswa menjadi aspek penting, terutama ketika siswa mengalami trauma.
Sukarelawan sering kali menjadi figur yang memberikan rasa aman dan motivasi tambahan.
Selain pendistribusian materi belajar, sukarelawan juga berperan dalam menyediakan ruang belajar alternatif. Di beberapa daerah di Aceh, sukarelawan mendirikan tenda-tenda belajar di area pengungsian. Tenda ini digunakan sebagai pusat pembelajaran, tempat diskusi, atau sesi konseling kelompok kecil.
Dengan adanya ruang fisik sementara, siswa tetap dapat merasakan atmosfer belajar walaupun kondisi darurat masih berlangsung. Ruang seperti ini telah terbukti membantu dalam mengembalikan rutinitas belajar siswa.
Kehadiran sukarelawan juga penting untuk memonitor perkembangan akademik siswa.
Guru yang berada jauh sering kesulitan menilai apakah siswa benar-benar belajar.
Sukarelawan dapat membantu mengumpulkan tugas, mengecek pemahaman, dan memberikan laporan kondisi siswa kepada sekolah. Komunikasi yang terjalin membantu guru merancang pembelajaran lebih baik, meskipun mereka tidak dapat hadir secara fisik.
Sukarelawan juga berperan dalam literasi digital darurat. Mereka membantu siswa yang memiliki perangkat, tetapi tidak memahami cara menggunakan aplikasi pembelajaran.
Pelatihan singkat mengenai penggunaan kamera, pengiriman tugas, atau mengakses materi online sangat membantu siswa tetap terhubung dengan pembelajaran.
Tanpa bantuan sukarelawan, banyak siswa mungkin tertinggal hanya karena ketidaktahuan teknis.
Kerja sama antara sukarelawan dan guru sangat diperlukan agar aktivitas pendampingan tetap terarah. Guru perlu memberikan panduan yang jelas tentang materi apa yang harus disampaikan, tugas apa yang harus dikumpulkan, dan bagaimana sukarelawan memberikan laporan perkembangan siswa.
Sukarelawan yang bekerja tanpa pedoman berisiko memberikan informasi yang tidak konsisten. Oleh karena itu, pelatihan singkat bagi sukarelawan juga penting dilakukan, seperti yang dilakukan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Bireuen, dan Pidie pada Desember dan Januari lalu.
Pada akhirnya, sukarelawan pendidikan bukan sekadar pengganti guru, melainkan elemen pendukung yang memperkuat ekosistem pendidikan selama bencana. Peran mereka menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi manusia yang peduli.
Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dapat mengembangkan sistem sukarelawan terstruktur sebagai bagian dari manajemen pendidikan kebencanaan jangka panjang. Dengan demikian, keberlangsungan pendidikan tetap terjaga meskipun bencana datang tiba-tiba.