79 Tahun HMI: Masih Relevankah Sintesis Islam dan Nasionalisme?
Zaenal February 09, 2026 10:03 AM

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

PADA 5 Februari lalu, organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam, memasuki usia 79 tahun. 

Usia yang biasanya dirayakan sebagai tanda kematangan. 

Tetapi bagi organisasi kader, kematangan bisa berarti dua hal: “kedewasaan intelektual”, atau “kenyamanan yang perlahan mematikan daya kritis”. 

HMI kini berdiri di antara keduanya.

Di titik inilah perayaan berubah menjadi ujian. 

Bukan ujian sejarah, karena sejarah telah lama berpihak pada HMI. 

Bukan pula ujian eksistensi, karena nama dan jaringannya masih sangat hidup. 

Yang diuji justru sesuatu yang lebih sunyi dan lebih menentukan: apakah HMI masih menjadi “kekuatan gagasan”, atau telah menjelma menjadi organisasi besar yang hidup dari ingatan akan kebesarannya sendiri.

Baca juga: Latihan Kader HMI Langsa, Dr Dayyan : Mahasiswa Harus Memiliki Nilai Tauhid Sebagai Insan Akademis

Menjawab Kegelisahan Zaman

Fondasi HMI sejak awal tidak dibangun untuk sekadar bertahan. 

Ia dibangun untuk menjawab kegelisahan zaman. 

Ketika Lafran Pane mendirikan HMI pada 1947, Indonesia bahkan belum sepenuhnya yakin ingin menjadi apa. 

Negara belum selesai, ideologi saling berbenturan, dan kampus menjadi medan pertarungan intelektual. 

Dalam situasi itu, Lafran melakukan pilihan yang, jika dibaca hari ini, terlihat nyaris subversif. 

Ia menolak dua godaan besar sekaligus: menjadikan Islam sebagai alat kekuasaan, dan menjadikan nasionalisme sebagai proyek sekuler tanpa jiwa.

Yang ia tawarkan bukan teriakan revolusioner, melainkan “sintesis sunyi”. 

Islam diposisikan sebagai sumber nilai dan etika, nasionalisme sebagai tanggung jawab sejarah. 

Keislaman tidak dilawankan dengan keindonesiaan, dan keindonesiaan tidak dibersihkan dari nilai keimanan. 

Sintesis ini bersifat praksis, bukan ideologis sempit. 

Ia tidak menuntut keseragaman, tetapi kedewasaan. Tidak mencetak massa, tetapi kader.

Cak Nur dan Tantangan yang Berubah

Beberapa dekade kemudian, sintesis ini tidak ditinggalkan, tetapi “diperdalam dan diperluas” oleh Nurcholish Madjid. 

Cak Nur hadir ketika tantangan berubah. 

Indonesia relatif stabil secara politik, tetapi Islam menghadapi bahaya baru: penyempitan makna. 

Islam mulai direduksi menjadi identitas politik, slogan, dan kendaraan kekuasaan. 

Di titik ini, fondasi Lafran Pane masih kokoh, tetapi membutuhkan pendalaman intelektual agar tidak membeku menjadi rutinitas organisasi.

Cak Nur melakukan apa yang jarang dilakukan tokoh gerakan: ia mengajak berpikir ke dalam. 

Tauhid ia tafsirkan sebagai “pembebasan”, iman sebagai “etika publik”, dan Islam sebagai sumber nilai kemanusiaan, bukan ideologi kekuasaan.

Slogan terkenalnya, “Islam yes, partai Islam no”, bukan penolakan politik, melainkan penolakan terhadap penyempitan Islam. 

Islam terlalu besar jika dipenjarakan dalam satu kendaraan politik jangka pendek.

Jika Lafran Pane membangun fondasi historis dan moral HMI, maka Cak Nur menaikkan “arsitektur pemikiran Islam Indonesia modern”. 

Keduanya saling melengkapi. 

Tanpa Lafran, Cak Nur melayang. 

Tanpa Cak Nur, Lafran berisiko membeku. 

Sintesis inilah yang membuat HMI mengambil jalan yang tidak spektakuler, tetapi tahan lama.

Baca juga: Ini 9 Presidium KAHMI Aceh Periode 2022-2027, Ahmad Doli Kurnia: Jaga Eksistensi HMI

Memilih Akumulasi Sejarah 

Sejarah global memberi banyak contoh organisasi mahasiswa Islam yang memilih jalan sebaliknya. 

Di Mesir, Ikhwanul Muslimin membangun jaringan pemuda yang mengesankan, hanya untuk berakhir sebagai musuh utama negara. 

Di Asia Selatan, Jamaat-e-Islami dan sayap mahasiswanya tampil disiplin dan ideologis, tetapi sering terjebak dalam kekakuan doktrin. 

Di Malaysia, ABIM mendekati model HMI, namun kedekatan dengan negara pada fase tertentu menggerus jarak kritis. 

Di Tunisia, generasi muda Islam pasca Arab Spring lahir dengan semangat demokrasi, tetapi tanpa kesabaran kaderisasi jangka panjang. 

Polanya nyaris seragam: “terlalu ideologis”, atau “terlalu politis”. Hasilnya pun serupa: represi, fragmentasi, atau stagnasi.

HMI mengambil jalan yang tampak membosankan bagi kaum revolusioner dan terlalu kritis bagi kaum pragmatis. 

Ia tidak mengejar kekuasaan, tetapi pengaruh. 

Tidak membangun massa, tetapi manusia. 

Dalam istilah yang lebih tajam, HMI tidak memilih ledakan sejarah, melainkan “akumulasi sejarah”. 

Dan seperti banyak institusi yang bertahan lama, kekuatannya bukan pada kemenangan singkat, tetapi pada daya tahannya.

Hasilnya terlihat hari ini. 

Kader HMI tersebar di hampir semua jalur kekuasaan dan pengaruh. 

Di kampus, mereka menjadi dosen, peneliti, dan rektor. 

Di politik, mereka hadir di parlemen, partai, kabinet, dan oposisi. 

Di birokrasi, mereka menjadi teknokrat dan administrator negara. 

Di dunia usaha, mereka menjadi pengusaha dan profesional. 

Di masyarakat sipil, mereka menjadi aktivis dan pengkritik negara. 

Ini bukan klaim romantis, melainkan “fakta sosiologis”.

Yang lebih menarik, mereka sering saling berhadapan. 

Di satu ruangan, seorang kader HMI membela kebijakan negara; di ruangan lain, kader HMI lain menggugatnya. 

Mereka berbeda kamar, berbeda kepentingan, bahkan berbeda ideologi praktis. 

Namun pada momen tertentu, ketika negara goyah dan krisis datang, mereka tampak seperti satu generasi yang berbagi “alfabet moral yang sama”. 

Mereka mungkin tidak sepakat, tetapi mereka saling memahami. 

Dalam dunia politik yang semakin tribal: terpecah oleh sekat-sekat identit sempit, ini bukan hal kecil.

Dari Mimpi Lafran Pane ke Tantangan Algoritma

Di sinilah mimpi Lafran Pane terasa nyaris profetik. 

Ia tidak bermimpi menciptakan barisan seragam. 

Ia bermimpi menciptakan manusia yang mampu berbeda tanpa saling meniadakan. 

Dalam bahasa yang lebih tajam, HMI tidak dimaksudkan untuk memenangkan satu faksi, tetapi untuk memastikan bangsa ini selalu memiliki “stok akal sehat”. 

Itulah sebabnya HMI bisa melahirkan elite yang saling berhadapan, tetapi masih saling menghormati.

Namun justru di sinilah bahaya terbesar mengintai. 

Ketika kader tersebar di mana-mana, organisasi mudah tergoda untuk hidup dari jaringan, bukan dari gagasan. 

Nama besar menjadi mata uang. 

Sejarah menjadi legitimasi. 

HMI berisiko berubah dari dapur kaderisasi menjadi “klub alumni raksasa” yang sibuk mengingat masa lalu sambil mengatur masa depan masing-masing. Banyak institusi besar runtuh bukan karena diserang, tetapi karena “terlalu nyaman”.

Tantangan hari ini juga jauh lebih kejam daripada era Lafran Pane dan Cak Nur. 

Musuhnya bukan tentara kolonial, melainkan “algoritma”. 

Bukan sensor negara, melainkan “pasar atensi”. 

Bukan ideologi besar, melainkan “pragmatisme kecil yang menumpuk”. 

Dalam dunia seperti ini, Islam mudah direduksi menjadi identitas, nasionalisme menjadi slogan, dan kaderisasi menjadi formalitas.

 

HMI sering disebut nyaris ideal. 

Bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia dirancang untuk bertahan dalam ketidaksempurnaan. 

Ia tidak mengikat kader pada satu partai, satu tafsir, atau satu agenda kekuasaan.

Ia mengikat mereka pada “tanggung jawab moral” untuk berpikir dan bertindak bagi bangsa. Inilah yang membuat HMI lentur. 

Namun kelenturan tanpa disiplin selalu berisiko berubah menjadi oportunisme.

Maka pertanyaan paling jujur hari ini bukan apakah HMI masih relevan, melainkan apakah HMI masih berani. 

Berani mengkritik dirinya sendiri. 

Berani menolak kenyamanan jaringan. 

Berani mengutamakan intelektualitas di tengah godaan pragmatisme. 

Lafran Pane tidak mendirikan HMI agar ia menjadi besar; ia mendirikannya agar ia menjadi “penting”.

Jika HMI terus melahirkan kader yang beriman tanpa fanatisme, nasionalis tanpa kekosongan nilai, dan intelektual tanpa kesombongan, maka sintesis Islam dan nasionalisme bukan hanya relevan, ia menjadi “kebutuhan sejarah”. 

Jika tidak, HMI akan tetap hidup, tetapi hanya sebagai bayangan dari mimpinya sendiri.

Sejarah tidak pernah kehabisan organisasi besar. 

Yang langka adalah organisasi yang tetap gelisah setelah menjadi besar. 

Pada usia 79 tahun, HMI sedang diuji bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh keberhasilannya sendiri. 

Dan seperti sejak 1947, mimpi Lafran Pane menunggu satu hal yang sama: keberanian kader untuk tidak sekadar hadir di mana-mana, tetapi bermakna di mana pun mereka berada.

*) PENULIS adalah Senior dan Inspirator Kaderisasi HMI, serta Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (UKS).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.