TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Empat penari tampil begitu apik. Gerakannya luwes khas gerakan tarian tradisional Jawa. Namun di balik itu tersemat gerakan rancak yang energik dan ritmis selaras dengan alunan musik yang mengiringinya.
Dengan mengenakan baju adat khas Kudus, empat penari yang mengenakan kebaya encim berwarna biru lengkap dengan selendang yang menyampir di pundak kanan sukses membawakan tari caping kalo saat peluncuran tari tersebut di Hotel @Hom Kudus, Minggu (8/2/2026) malam.
Sorotan pencahayaan yang didominasi warna biru semakin menyelaraskan penampilan para penari.
Tepuk tangan meriah tamu undangan menjadi penanda tari caping kalo secara resmi telah diluncurkan. Tari ini merupakan buah karya dari seorang koreografer Kinanti Sekar Rahina.
Dia sengaja menciptakan tarian ini sebagai bentuk apresiasi atas perempuan Muria yang terlihat anggun, lincah, suka srawung, dan setia menjaga nilai-nilai tradisi.
Baca juga: Perjalanan Marijah Antarkan 2 Cicit Berobat Terhambat, Longsor Tutup Akses Jalan Desa Rahtawu Kudus
Memang caping kalo sebagai bagian dari pakaian adat khas Kudus merupakan penutup kepala bagi perempuan. Bentuknya bulat utuh dan terbuat dari anyaman bambu yang halus.
Caping kalo ini biasa dikenakan bareng dengan kebaya beludru dan selendang yang menyampir di pundak. Sementara bawahannya merupakan kain batik khas pesisiran Jawa dengan warna yang mencolok dan berani.
Sebagai simbol yang kemudian dituangkan dalam bentuk gerakan tari, Kinanti sengaja menyusun gerakan tari caping kalo ini seolah-olah mendeskripsikan perempuan Kudus yang anggun nan lincah.
Tanpa harus dijelaskan, semua itu bisa terlihat dari setiap detail koreografi tari caping kalo.
Proses kreatif sehingga lahir tari caping kalo bukanlah sesuatu yang mendadak. Semua telah disiapkan secara matang oleh Kinanti Sekar Rahina. Sebelumnya Kinanti lebih dulu melakukan riset.
Termasuk mendatangi langsung pengrajin caping kalo di Kudus yang saat ini hanya tersisa dua orang, yaitu Rudipah dan Kamto yang tinggal di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.
“Dari situ saya menemukan makna mendalam dan filosofis dari caping kalo,” kata Kinanti.
Sebelum tari caping kalo, sebelumnya Kinanti Sekar Rahina terlebih dulu merilis tari lajur caping kalo yang telah diluncurkan pada 7 Oktober 2022.
Secara kasat mata, tari lajur caping kalo ini memiliki gerakan yang lebih energik. Setiap gerakannya merupakan gambaran dari proses pembuatan caping kalo.
Misalnya mulai dari pemilihan bambu yang tidak asal tebang sebagai bahan dasar caping kalo, membuat potongan-potongan bambu, dan menganyamnya sehingga tercipta caping kalo.
Sementara tari caping kalo yang saat ini diluncurkan, merupakan gambaran utuh atas caping kalo itu sendiri. Oleh karenanya dalam tarian tersebut caping kalo sebagai rujukan dalam proses kreatif dalam menciptakan tarian, Kinasih menilai bahwa manusia haruslah berpasrah diri secara bulat—sesuai dengan bentuk caping kalo—kepada sang pencipta.
Bagi Kinanti Sekar Rahina, tari caping kalo merupakan gambaran dari perempuan yang lincah. Ia menjalani hidup sebagaimana tergambar dalam caping kalo, misalnya anyaman halus dan rapat dalam caping kalo merupakan gambaran dari hidup rukun dan guyub bersama seluruh masyarakat.
Kerangka bambu yang kokoh dan liat menggambarkan jiwa yang kuat dan setia menjaga nilai tradisi nurani baik saat remaja, menjadi ibu di rumah tangga, maupun di tempat kerja. Dari semua itulah kemudian tercipta tari caping kalo. (*)