Mikayla Bocah 8 Tahun Asal Jeriji Bergantung Hidup pada Alat Pacu Jantung
Hendra February 09, 2026 10:03 AM
  • Mikayla baru berusia 4 bulan saat divonis menderita penyakit jantung bawaan.
  • Awalnya, bocah asal Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan itu berulang kali muntah hingga tujuh kali dalam sehari. Keluarga menduga Mikayla mengalami gangguan pencernaan.
  • Pemeriksaan intensif menemukan kelainan jantung bawaan berupa jantung bocor disertai penyempitan pembuluh darah menuju paru-paru.
  • Mikayla baru dioperasi jantung pada usia 6 tahun. Kini dia semringah dan ceria seperti anak-anak lainnya meski harus memakai alat pacu jantung permanen.

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pagi itu jejak sayatan masih tampak jelas di dadanya. Garis memanjang yang sedikit lebih gelap dari warna kulit sekitarnya menjadi semacam penanda perjalanan panjang yang pernah ia lalui.

Luka yang sudah mengering, rata, tanpa balutan itu menyimpan kisah besar tentang seorang anak yang pernah bertaruh dengan hidupnya sejak bayi.

Di halaman rumahnya di Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Mikayla (8) duduk sambil mengenakan sepatu sekolah, Rabu (4/2).

Seragam merah bertuliskan SD melekat rapi di tubuh kecilnya. Tangannya cekatan mengikat tali sepatu, lalu ia menoleh ke arah pintu.

“Mak (ibu-red)… ayo berangkat,” panggilnya tak sabar, disertai senyum lebar.

Tak ada yang menyangka, keceriaan pagi itu pernah nyaris tidak dimilikinya.

Bekas luka di dadanya merupakan tanda operasi pemasangan alat pacu jantung permanen (pacemaker/PPM). 

Namun dalam keseharian, Mikayla tetap bergerak aktif layaknya anak seusianya. Ia tertawa, berlari kecil, dan tak tampak terganggu oleh perangkat medis yang kini membantu jantungnya berdetak.

Ayahnya, Hendi, memandangi putrinya dengan tenang. “Sekarang dia sudah kelas 2 SD. Sudah bisa bermain seperti anak-anak lainnya,” ujarnya kepada Bangka Pos, Rabu (4/2).

Namun perjalanan menuju pagi yang sederhana itu bukan perjalanan pendek.

Gejala Sejak Bayi

Semua bermula ketika Mikayla berusia empat bulan. Ia muntah berulang, bahkan hingga tujuh kali dalam sehari. Awalnya keluarga mengira itu gangguan pencernaan biasa, sampai suatu hari warna muntahnya berubah.

“Terakhir muntahnya sudah biru. Badannya juga biru, bibirnya biru,” kenang Hendi.

Keluarga panik. Mereka segera membawanya ke fasilitas kesehatan di Toboali. Dari pemeriksaan klinis awal, dokter mencurigai adanya kelainan jantung.

Mikayla kemudian dirujuk berjenjang, dari RSUD setempat ke RS Bakti Timah Pangkalpinang.

Hasil ekokardiografi mengungkap diagnosis Tetralogy of Fallot (TOF), kelainan jantung bawaan berupa jantung bocor disertai penyempitan pembuluh darah menuju paru-paru.

Saat itu, Bangka Belitung belum memiliki dokter spesialis jantung anak.

“Obat hanya untuk menahan jantung supaya tidak berdebar. Tapi dokter bilang penyakit ini tidak ada obatnya. Satu-satunya jalan operasi,” kata Hendi.

Keluarga pun dirujuk ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta. Mikayla bahkan belum genap lima bulan ketika pertama kali dibawa ke ibu kota.

Setelah pemeriksaan CT scan dan ekokardiografi, dokter memastikan operasi tidak bisa ditunda. Namun mereka harus menunggu antrean pasien dari seluruh Indonesia.

Menunggu Antrean

Selama menunggu jadwal operasi, Mikayla hidup dalam pengawasan ketat. Tangis kecil saja bisa membuat bibir, lidah, dan jari-jarinya membiru akibat kekurangan oksigen.

Tumbuh kembangnya pun terhambat. Ia baru bisa berjalan mendekati usia dua tahun. Lalu cobaan yang lebih berat datang.

Pada usia sekitar lima tahun, Mikayla tiba-tiba pingsan dan tak sadarkan diri hampir dua jam. Setelah berpindah beberapa rumah sakit di Bangka, dokter mencurigai adanya infeksi serius di otak. Ia dirujuk ke RSUP Mohammad Hoesin Palembang.

“Hasil CT scan menunjukkan ada abses di otak. Dokter bilang harus segera operasi,” ujar Hendi.

Operasi pengangkatan abses dilakukan setelah kondisi darahnya stabil. Pemulihan memakan waktu hampir dua bulan.

Dokter menjelaskan, abses otak berkaitan dengan kelainan jantung yang belum tertangani. Kekurangan oksigen jangka panjang memicu infeksi berat.

Sejak saat itu, operasi jantung menjadi prioritas mutlak.

9 Jam Operasi

Pada usia enam tahun, Mikayla kembali ke Jakarta melalui rujukan BPJS Kesehatan. Awal 2023, operasi jantung terbuka akhirnya dilakukan.

Selama sembilan jam, dokter menutup kebocoran jantung sekaligus memperbaiki penyempitan pembuluh darahnya. Ia dirawat hampir satu bulan, termasuk di ICU. Seluruh biaya ditanggung BPJS.

Namun setelah operasi, muncul komplikasi baru: aritmia atau gangguan irama jantung.

“Sudah diberi obat tapi tidak membaik. Dokter bilang satu-satunya jalan pasang alat pacu jantung permanen,” kata Hendi.

Prosedur pemasangan PPM dilakukan melalui kateterisasi kurang dari dua jam. Dokter memilih tipe single chamber, menyesuaikan usia dan kondisi jantungnya. Harga alat itu, sepengetahuan Hendi, sekitar Rp85 juta, dan kembali ditanggung BPJS.

Kini setiap detak jantung Mikayla dibantu alat kecil di dalam tubuhnya.

“Kalau bahasa kami seperti baterai. Untuk kelistrikan jantung,” ujar Hendi.

Pagi hari itu, Mikayla berangkat sekolah bersama ibunya dan adik kecilnya. Tas pink tergantung di punggungnya saat ia duduk di belakang motor, memegang bagian belakang jok dengan tubuh tegak. Ia tertawa sepanjang jalan.

“Yang jelas kami sangat terbantu BPJS. Dari operasi jantung, operasi otak, sampai pasang PPM semuanya ditanggung. Kalau tanpa BPJS, mungkin biayanya bisa ratusan juta,” tutup Hendi yang sehari-harinya bekerja serabutan seperti mengelola kebun sawit orang lain dan pekerjaan lainnya.

Anggaran Terbesar

Terpisah, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pangkalpinang, Apt. Aswalmi Gusmita, MSM., AAK, mengatakan penyakit jantung kronis menjadi penyerap anggaran terbesar BPJS Kesehatan Bangka Belitung, dengan total biaya lebih dari Rp53 miliar, atau lebih dari setengah dari total dana Rp96,075 miliar yang dialokasikan untuk penyakit kronis pada tahun 2025.

Dominasi biaya ini menegaskan bahwa penyakit jantung bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga tantangan finansial terbesar bagi program JKN di Bangka Belitung.

Posisi kedua ditempati stroke dengan anggaran sekitar Rp14,9 miliar, diikuti kanker Rp14,4 miliar, sementara gagal ginjal dan thalassemia masing-masing menelan Rp5–6 miliar.

“Penyakit jantung menempati anggaran terbesar karena pasien membutuhkan layanan rutin dan tindakan lanjutan yang tidak murah. Stroke dan kanker juga menjadi beban utama, tapi totalnya masih jauh di bawah jantung. Sementara penyakit langka seperti hemofilia atau thalassemia, jumlah pasien lebih sedikit sehingga total anggarannya lebih rendah,” kata Aswalmi, Jumat (6/2).

“Besarnya anggaran untuk jantung menunjukkan bahwa layanan ini harus dijalankan secara berkelanjutan, karena pasien kronis membutuhkan perawatan seumur hidup,” tambahnya.

Dengan kombinasi pembiayaan kuratif, promotif, dan preventif, serta dukungan gotong royong masyarakat, BPJS Kesehatan Bangka Belitung berupaya memastikan pasien penyakit jantung kronis tetap mendapatkan layanan optimal tanpa terhambat biaya.

“Program JKN hadir untuk seluruh masyarakat Indonesia, baik yang sakit maupun yang sehat. Dengan gotong royong, kita pastikan layanan kesehatan berkualitas tetap tersedia, terutama bagi pasien penyakit jantung kronis yang paling besar menyerap anggaran,” kata Aswalmi.

Dia menjelaskan konsep gotong royong sebagai pilar utama program JKN.

“Pasien yang membutuhkan perawatan mahal tentu tidak bisa membiayai sendiri. Dukungan masyarakat yang sehat melalui iuran memastikan layanan tetap tersedia bagi pasien yang membutuhkan, terutama pasien jantung kronis,” ujarnya.

Menurutnya, peserta yang sehat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan program, karena iuran yang dibayarkan menjadi penopang bagi peserta yang sedang sakit dan membutuhkan biaya besar.

“Tidak tepat jika ada narasi ‘saya tidak sakit jadi tidak perlu bayar iuran’ atau ‘saya belum sakit jadi tidak perlu mendaftar’. JKN justru dibangun agar semua saling membantu. Yang sehat membantu yang sakit, dan ketika yang sehat itu sakit, sistem akan bekerja sebaliknya,” tegasnya. (x1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.