TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau terus mempercepat transformasi digital untuk menin meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Melalui berbagai inovasi berbasis teknologi, rumah sakit rujukan utama di Riau ini kini menghadirkan layanan yang lebih cepat, transparan, dan terintegrasi dari hulu ke hilir.
Direktur Utama RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, drg. Yusi Prastiningsih, MM, mengatakan transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak dalam menjawab tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks dan dinamis.
“Transformasi digital ini bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi merupakan upaya nyata kami untuk memberikan pelayanan yang lebih mudah, cepat, dan nyaman bagi pasien,” ujar drg. Yusi saat rapat forum konsultasi publik di ruang serba guna RSUD Arifin Achmad, Senin (9/2/2026).
Salah satu inovasi utama yang telah berjalan adalah MIRAI 2.0 (Mobile Information System of RSUD Arifin Achmad). Aplikasi berbasis Android ini memungkinkan pasien rawat jalan yang sudah memiliki nomor rekam medis untuk melakukan pendaftaran secara mandiri melalui ponsel.
Dengan MIRAI 2.0, pasien dapat mendaftar sehari sebelum jadwal kunjungan, memperoleh nomor antrean poliklinik, dan langsung menuju poli tujuan tanpa harus mengantre di loket pendaftaran.
Baca juga: 180 PMI Bermasalah Dideportasi dari Malaysia Tiba Lewat Pelabuhan Dumai, Terbanyak Asal Jatim
Baca juga: Soal Kisrus BPJS Kesehatan PBI, DPR Umumkan Layanan Ditanggung Pemerintah Selama 3 Bulan ke Depan
“Lewat MIRAI 2.0, waktu tunggu pasien bisa kami pangkas secara signifikan. Ini sangat membantu, terutama bagi pasien kontrol rutin,” jelas drg. Yusi.
Selain itu, RSUD Arifin Achmad juga menghadirkan layanan Pit Stop, yakni titik layanan edukasi pasien yang memberikan informasi menyeluruh terkait dokter penanggung jawab, perawat yang merawat, hingga penjelasan mengenai penyakit dan layanan medis yang akan diterima selama perawatan.
“Pit Stop kami rancang agar pasien dan keluarga mendapatkan informasi yang jelas sejak awal, sehingga tidak ada kebingungan selama proses perawatan,” katanya.
Dalam mendukung pelayanan yang terintegrasi, rumah sakit ini juga mengembangkan RESIKAA (Rekam Medis Elektronik RSUD Arifin Achmad).
Sistem ini mengintegrasikan seluruh layanan mulai dari pendaftaran pasien secara online maupun onsite, pelayanan poliklinik, rawat inap, layanan penunjang seperti laboratorium dan radiologi, hingga sistem keuangan dan billing pasien.
RESIKAA sekaligus menjadi tulang punggung penerapan Electronic Medical Record (EMR) yang mendorong pengurangan penggunaan kertas atau paperless.
“Dengan rekam medis elektronik, pelayanan menjadi lebih cepat, data pasien lebih aman, dan koordinasi antarunit jauh lebih efektif,” tambah drg. Yusi.
Tak hanya itu, transformasi digital juga merambah sektor kefarmasian melalui aplikasi SIFARMAA, sistem pengelolaan farmasi yang mencakup proses pengadaan, penerimaan, distribusi, pengelolaan stok, hingga pelayanan resep pasien.
SIFARMAA telah terintegrasi langsung dengan layanan dokter di poliklinik dan rawat inap, sehingga resep yang ditulis dokter di EMR akan langsung muncul di sistem farmasi.
“Integrasi ini meminimalkan kesalahan, mempercepat pelayanan obat, dan memastikan pasien mendapatkan obat sesuai resep secara tepat waktu,” jelasnya.
Melalui rangkaian inovasi tersebut, drg. Yusi menegaskan komitmen RSUD Arifin Achmad untuk terus berbenah dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi demi pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berorientasi pada pasien.
“Kami terbuka terhadap masukan publik. Transformasi digital ini akan terus kami sempurnakan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat Riau,” katanya.
Saat ini, RSUD Arifin Achmad memiliki 104 dokter subspesialis, 85 dokter spesialis, serta ratusan tenaga dokter umum dan 614 perawat profesional.
Fasilitas pendukung pun terus ditingkatkan. Sejak naik kelas menjadi tipe A pada 2024, rumah sakit ini telah mengoperasikan 533 ruang perawatan.
Peralatan medis yang tersedia bahkan diklaim sebagai salah satu yang terlengkap di Pulau Sumatra, memposisikan RSUD Arifin Achmad sebagai pusat pengobatan rujukan yang mumpuni.
Meski memiliki fasilitas lengkap, tingginya arus pasien dari 12 kabupaten dan kota se-Provinsi Riau tetap menjadi tantangan tersendiri bagi pihak rumah sakit milik pemerintah daerah ini. (Syaiful Misgiono)