SURYA.co.id, Surabaya - Dahlan Dahi menerima PWI Awards 2026 atas perannya menyatukan kembali Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setelah konflik dualisme kepemimpinan.
Penghargaan tersebut disampaikan saat puncak peringatan Hari Pers Nasional di Serang, Banten, Senin (9/2/2026).
Ketua Umum PWI Ahmad Munir adalah yang menyerahkan penghargaan kepada Dahlan Dahi.
Munir menilai Dahlan sebagai figur yang ikhlas dan telaten menyelesaikan konflik panjang antara kubu Hendry Ch Bangun dan Zulmansyah Sakedang.
“Beliau bisa merajut kembali perbedaan-perbedaan keras antara Bang HCB dan Bang Zul. Berkat ketelatenan, keikhlasan, dan ketulusan mas Dahlan Dahi, akhirnya tercapai kesepakatan untuk digelar Kongres Persatuan PWI 2025,” ujar Munir.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid turut menyampaikan rasa sukacita atas persatuan PWI.
Ia menegaskan pemerintah bersyukur organisasi wartawan tertua di Indonesia kembali bersatu setelah dualisme kepengurusan.
Konflik PWI bermula dari isu dana bantuan BUMN untuk Uji Kompetensi Wartawan (UKW) pada 2024.
Persoalan ini memicu ketegangan antara Ketua Umum Hendry Ch Bangun dan Dewan Kehormatan Sasongko Tedjo, hingga berujung pada Kongres Luar Biasa yang melahirkan kepemimpinan tandingan Zulmansyah Sakedang.
Dahlan Dahi, yang terpilih sebagai anggota Dewan Pers 2025-2028, segera bertindak sebagai mediator.
Ia mempertemukan Hendry dan Zulmansyah dalam rapat virtual, menghasilkan kesepakatan untuk menggelar Kongres Persatuan PWI pada Agustus 2025.
Kongres tersebut akhirnya memilih Ahmad Munir sebagai Ketua Umum PWI periode 2025-2030, menandai berakhirnya dualisme.
Kilas balik konflik PWI 2024-2025:
Dahlan Dahi lahir di Wanci, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, tahun 1971. Naluri jurnalistiknya tumbuh sejak aktif di media kampus FISIP Universitas Hasanuddin, Makassar. Karier profesionalnya dimulai di Harian Surya pada 1994.
Awal era reformasi, ia terlibat dalam penerbitan tabloid politik Bangkit. Tahun 2003, Dahlan ditugaskan meliput konflik Teluk dan penggulingan Saddam Hussein di Irak untuk berbagai koran daerah Kompas Gramedia serta TV7. Sepulang dari Irak, ia mendirikan Harian Tribun Timur pada 2004, kemudian menjadi Pemimpin Redaksi pada 2009.
Kariernya terus menanjak, berikut rangkuman karir dari Dahlan Dahi:
Pada 2025, Dahlan terpilih sebagai anggota Dewan Pers melalui konstituen Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI).
Ia menjabat Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers. Meski bukan anggota PWI, Dahlan menjadi mediator penting yang mempertemukan Hendry Ch Bangun dan Zulmansyah Sakedang, hingga tercapai kesepakatan Kongres Persatuan PWI 2025.
Kongres tersebut menandai berakhirnya konflik, dengan Ahmad Munir terpilih sebagai Ketua Umum PWI periode 2025–2030.