TRIBUNJOGJA.COM - Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dishub DIY) memastikan kendala layanan Trans Jogja Jalur 14 rute Adisutjipto-Pakem yang dikeluhkan masyarakat merupakan dampak dari masa transisi penyesuaian rute dan pengurangan armada.
Kepala Dishub DIY Chrestina Erni Widyastuti menyatakan, pihaknya tengah mematangkan integrasi dengan layanan bus sekolah ”Si Bulan” milik Kabupaten Sleman sebagai solusi permanen yang ditargetkan beroperasi efektif awal Maret mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan Chrestina merespons keluhan yang mencuat di media sosial dalam sepekan terakhir.
Sejumlah pengguna Trans Jogja menyoroti penurunan kualitas layanan di Jalur 14, mulai dari waktu tunggu yang mencapai 1,5 jam, jadwal yang tidak fleksibel, hingga kondisi armada yang dinilai usang.
Chrestina menjelaskan, gangguan layanan ini tidak terlepas dari proses penyesuaian pasca-penarikan layanan BTS Teman Bus oleh pemerintah pusat, yang sebelumnya melayani koridor tersebut.
Sebagai langkah taktis, Dishub DIY melakukan evaluasi mendalam terhadap efisiensi jalur.
Berdasarkan evaluasi Dishub DIY, keputusan berat diambil dengan memangkas jumlah armada yang beroperasi di Jalur 14. Dari semula empat unit bus yang beroperasi, kini hanya tersisa dua unit.
Pengurangan 50 persen armada inilah yang berdampak langsung pada molornya waktu tunggu penumpang.
”Oh, itu karena kita kan penyesuaian jalur. Jadi, sebenarnya itu kan seharusnya Jalur 14 itu menggantikan sementara BTS yang ditarik Pusat itu. Terus kita akan melakukan penyesuaian jalur. Kita kurangi nanti biar dari Sleman juga mempunyai jalur yang sama,” ujar Chrestina.
Ia menegaskan bahwa unit yang ditarik dari jalur Pakem tidak dikandangkan, melainkan dialihkan ke rute lain yang dinilai lebih mendesak kebutuhannya.
”Tadinya cuma empat. Jadi dua. Terus digantikan dengan ini. Dikurangi, kita alihkan di yang lain. Di jalur Godean,” tambahnya.
Dishub DIY mencatat rata-rata penumpang di jalur Adisutjipto-Pakem hanya berkisar 206 orang per hari. Karakteristik penumpangnya pun sangat spesifik, yakni didominasi oleh pelajar pada jam keberangkatan dan kepulangan sekolah.
Melihat data tersebut, Dishub DIY menjalin komunikasi dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman untuk mengaktifkan bus sekolah ”Si Bulan” (Siswa Bus Sekolah Sleman) di koridor tersebut. Skema ini dinilai lebih tepat sasaran dibandingkan memaksakan operasional penuh Trans Jogja yang sepi di luar jam sekolah.
Chrestina menjelaskan panjang lebar mengenai skema substitusi layanan ini agar masyarakat memahami konteks perubahan yang terjadi.
”Makanya nanti kan dari hasil komunikasi itu kan akan ada 'Si Bulan', tadi bus sekolah anak. Karena memang jalur itu kan padatnya kan hanya jam [berangkat] sekolah dan jam pulang sekolah. Kalau kita lihat dari sisi evaluasi penggunaan Trans Jogja,” jelasnya.
Ia melanjutkan bahwa seharusnya rute tersebut dilayani oleh angkutan pedesaan, namun karena ketiadaan armada tersebut, integrasi dengan bus sekolah menjadi solusi paling rasional saat ini.
”Ya, karena ini kan seperti seharusnya kan ada angkutan pedesaan ya. Dari Adisucipto ke Pakem. Tapi angkutan pedesaannya kan belum ada. Terus menggunakan Si Bulan nanti khusus anak-anak sekolah. Karena memang Sleman punya agenda dengan Si Bulan itu kan bus sekolah itu ya. Untuk jemputan anak sekolah. Dan ini nanti akan diawali besok itu mulai dari Adisucipto sampai ke sekolah anak-anak. Jalurnya sama,” tutur Chrestina.
Terkait keluhan masyarakat soal ketidaknyamanan selama masa transisi ini, Chrestina meminta publik bersabar. Ia mengakui bahwa proses penyesuaian membutuhkan waktu untuk koordinasi teknis, terutama terkait titik pemberhentian dan jadwal pasti Si Bulan.
”Ya, itu karena penyesuaian itu kan butuh masa transisi. Saat ini dalam proses persiapan. Mungkin nanti di awal Maret sudah akan berjalan. Tapi ini masih proses persiapan,” ungkapnya.
Untuk tahap awal, rencananya akan ada dua armada Si Bulan yang diterjunkan untuk menambal kekosongan dua armada Trans Jogja yang dipindahkan. Namun, jumlah ini masih bersifat tentatif menunggu hasil evaluasi lanjutan di lapangan.
”Nah, kalau sementara mungkin dua. Sementara, tapi kita tidak tahu nanti. Kita juga harus evaluasi, toh. Seberapa besar ini pengguna Si Bulan itu,” kata Chrestina.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sleman dikabarkan telah merancang pengusulan anggaran pada tahun 2027 untuk pengadaan armada angkutan yang lebih besar, guna menjamin konektivitas wilayah yang belum terjangkau angkutan umum reguler secara optimal.