Laporan wartawan TribunBanten.com, Ade Feri Anggriawan
TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL - Kebakaran gudang bahan kimia insektisida di Kawasan Pergudangan Taman Tekno, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten diduga berdampak pada tercemarnya air Sungai Jalatreng.
Kebakaran gudang bahan kimia yang terjadi pada Senin (9/2/2026) sekira pukul 06.00 WIB disinyalir menjadi biang maslah atas perubahan warna air Sungai Jalatren.
Air Sungai Jalatreng sempat memutih, disertai bau menyengat menyerupai aroma minyak tanah. Hal itu menggegerkan warga Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Tak lama berselang, ikan-ikan di sungai tersebut ditemukan mati massal dan mengambang di permukaan air.
Baca juga: Perjuangan Damkar Tangsel: Tujuh Jam Lawan Api Beracun, Tumbang Kelelahan hingga Butuh Oksigen
Warga menduga sisa pembakaran gudang tersebut terbawa aliran drainase dan bermuara ke Sungai Jalatreng sehingga mencemari ekosistem perairan.
Berdasarkan pantauan TribunBanten.com, terlihat berbagai jenis ikan, mulai dari mujair, nila, hingga ikan sapu-sapu, mengapung dalam kondisi mati di sepanjang aliran Sungai Jalatreng yang diketahui terhubung langsung dengan Sungai Cisadane.
Meski sekitar pukul 13.00 WIB warna air sungai telah kembali berubah menjadi cokelat, aroma menyengat masih tercium di sekitar lokasi.
Sungai tersebut berada di wilayah Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, dan berjarak sekitar 3,3 kilometer dari gudang insektisida yang terbakar, serta tepat berada di belakang Kantor DPRD Kota Tangerang Selatan.
“Pagi sekira pukul 06.00 WIB baunya sudah sampai ke rumah saya. Kata saya, ‘siapa yang bakar ini?’, kayak bau minyak tanah itu. Bau menyengat banget, padahal rumah saya sekitar 100 meter dari sungai ini,” kata warga sekitar, Romo (54), kepada TribunBanten.com.
“Terus selang beberapa jam kami baru tahu kalau ternyata dari sekitar Taman Tekno ada kebakaran gudang kimia, terus limbahnya mengalir ke sini, sampai akhirnya biota air habis, ikannya mati semua,” sambungnya.
Ia mengaku kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga terkait dampak lanjutan dari pencemaran yang terjadi.
Terlebih, kata dia, aliran Sungai Jalatreng terhubung langsung dengan Sungai Cisadane yang selama ini digunakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tangerang Selatan untuk mengaliri air bersih ke rumah-rumah warga.
“Kalau lihat kondisi begini ya khawatir. Air ini kan tembus ke Cisadane. Takutnya pencemaran ini meluas,” ucapnya.
“Apalagi saya juga pakai air dari PDAM, sedangkan PDAM-nya mengambil air dari Sungai Cisadane,” jelasnya.
Ia berharap pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangerang Selatan dapat mengambil tindakan agar pencemaran yang terjadi tidak meluas.
“Mudah-mudahan ada penanganan, tapi sampai sekarang dari pagi saya di sini belum kelihatan ada dari DLH yang turun,” pungkasnya.
Upaya konfirmasi terhadap Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Pengawasan Lingkungan (PPPL) DLH Tangerang Selatan, Deni Danial, telah dilakukan, baik melalui pesan singkat maupun panggilan telepon.
Namun, hingga lebih dari empat jam, yang bersangkutan belum memberikan respons.