Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Petrus Piter
POS-KUPANG.COM,TAMBOLAKA - Meriah, pelaksanaan tradis budaya pasola Homba Kalayo di Desa Waikaninyo, Kecamatan Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, Senin (9/2/2026).
Kegiatan budaya tahunan tersebut berlangsung meriah dan disaksikan ribuan masyarakat yang memadati lapangan kegiatan budaya pasola.
Sejumlah pejabat Sumba Barat Daya terlihat hadir menyaksikan acara tersebut seperti Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alphawan Rangga Kaka, Ketua DPRD Sumba Barat Daya, Rudolf Radu Holo, Kapolres Sumba Barat Daya, Wakil Kapolres Sumba Barat Daya, Komandan Batalyon C Pelopor, anggota DPRD Sumba Barat Daya, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Christofel Horo, S.H, tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat.
Atraksi budaya pasola dimulai setelah para rato atau tua adat resmi melepasnya.
Baca juga: Rato Tetapkan Jadwal Pelaksanaan Pasola Kodi Sumba Barat Daya
Atraksi budaya pasola merupakan permainan ketangkasan tradisional masyarakat Sumba yang mempertandingkan dua kelompok penunggang kuda yang saling berhadapan dengan tangan memegang lebing yang siap dileparkan ke arah lawan.
Para peserta memacu kuda dengan kecepatan tinggi untuk saling melemparkan lembing ke arah lawan masing-masing diiringi teriakan khas Sumba sebagai penyemangat peserta atraksi pasola.
Ketua DPRD Sumba Barat Daya, Rudolf Radu Holo ditemui diselah-selah acara itu mengatakan pasola merupakan tradisi budaya warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan.
Baginya tradisi budaya pasola bukan sekadar pertunjukan budaya tetapi merupakan bagian penting dari ritual adat masyarakat penganut kepercayaan Marapu yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi budaya pasola dilaksanakan setiap Bulan Februari dan Maret pada setiap tahun.
"Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya leluhur, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memperkenalkan kearifan lokal Sumba kepada masyarakat luas," katanya.
Seperti disaksikan POS-KUPANG.COM, suasana atraksi budaya pasola berlangsung meriah.
Terlihat para penunggang kuda dari dua kelompok, saling berhadap-hadapan dengan memacu kudab dalam kecepatan tinggi diikuti lemparan lembing sasar ke arah lawan.
Nampak pula peserta ada yang terkena lemparan lembing bahkan sampai jatuh dari kuda.
Namun, hal itu tidak menimbulkan keributan karena telah menjadi bagian dari risiko dalam tradisi Pasola yang sarat makna filosofis dan spiritual.
Secara umum pelaksanaan atraksi budaya hari berlangsung aman dan lancar. Hal itu berkat kerjasama seluruh komponen masyarakat Sumba Barat Daya baik tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah mulai desa, kecamatan hingga pemerintah kabupaten, aparat keamanan dan berbagai pihak terkait lainnya. (pet)