TRIBUNNEWS.COM - Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, menyebut Merry Riana cocok menjadi juru kampanye (jurkam) nasional partai berlambang mercy tersebut.
Hal itu diungkapkan AHY setelah memberikan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat kepada Merry Riana dan lebih dari 40 sosok lainnya di Kantor DPP Demokrat, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Merry Riana dikenal sebagai seorang motivator, pengusaha, hingga kreator konten yang memiliki jutaan pengikut di dunia maya.
"Tadi kalau dengar Miss Merry sudah siap jadi jurkam ya? Luar biasa sekali, sudah fasih sekali. Bicara nasionalis religius, bicara nilai-nilai Partai Demokrat, yel-yelnya pun udah hafal tadi. Ini siap menjadi jurkam, juru kampanye nasional," ungkap AHY dalam sambutannya, dikutip dari YouTube Partai Demokrat.
Menurut AHY, hal itu tidak terlepas dari pengalaman Merry Riana sebagai motivator.
"Karena sudah biasa menjadi motivator, tinggal dicoba nanti di depan masa besar, di lapangan besar, orasi begitu."
"Juga bisa dicoba dulu menjadi juru bicara, selain jurkam bisa jadi jubir, nanti boleh ada penampilan baru yang berbeda kira-kira begitu," ungkap AHY.
Baca juga: Profil Merry Riana Kader Baru Partai Demokrat: Motivator-Penulis Lulusan Harvard
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan itu juga mengatakan penyampaian Merry Riana sudah tidak diragukan lagi alias paten.
"Tinggal isi substansi politiknya, kan begitu," ungkap AHY.
Pada kesempatan itu, AHY langsung memberi tugas pertama Merry Riana di Partai Demokrat.
"Sebagai tugas pertama Miss Merry, saya tunjuk sebagai Ketua Panitia Perayaan Imlek Nasional Partai Demokrat," ungkapnya.
Merry Riana mengaku, sempat merasa deg-degan saat memutuskan terjun ke dunia politik dan menjadi kader Partai Demokrat.
Ia menyebut, momen tersebut seperti memulai lembaran hidup baru.
Hal itu diungkapkannya saat memberikan sambutan.
“Hari ini saya deg-degan banget karena seperti memulai lembaran baru, hidup baru, seperti hari pernikahan. Rasanya seperti itu. Memulai hidup baru, memakai seragam yang baru, karena saya tahu ini adalah satu keputusan hari ini akan mengubah hidup saya dan Alva selamanya,” ujar Merry.
Ia mengatakan, keputusan tersebut, tidak diambil secara instan. Merry mengaku, sebelumnya tidak pernah membayangkan akan masuk ke dunia politik.
Selama ini, ia lebih dikenal di dunia usaha, pendidikan, dan motivasi.
“Saya enggak pernah membayangkan, terpikir, atau memimpikan untuk terjun ke dunia politik. Sama sekali tidak,” katanya.
Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa ada perubahan yang tidak cukup hanya dilakukan dari luar sistem.
“Ada jenis perubahan yang sesungguhnya niat baik saja tidak cukup. Tapi dia membutuhkan sistem, dia membutuhkan kebijakan, dan dia membutuhkan orang-orang yang berani untuk mengeksekusi kebijakan itu,” ucapnya.
Merry juga mengungkap salah satu momen yang menguatkan keputusannya adalah pidato AHY saat menerima kekalahan dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Ia menyebut, pidato tersebut sebagai pidato seorang kesatria.
Menurut Merry, pemimpin yang baik justru diuji saat menghadapi kekalahan, bukan saat meraih kemenangan.
“Bagi saya kejadian itu bukan hanya sekadar politik, tapi di situ saya melihat sebuah integritas. Di situ saya melihat sebuah kedewasaan. Di situ saya melihat sebuah pemimpin yang tidak menggunakan kekalahan untuk memecah belah, tapi menggunakan kekalahan sebagai sebuah pembelajaran,” tuturnya.
Merry mengaku, selama setahun terakhir belajar dan berproses sebelum akhirnya resmi menjadi kader. Ia menyebut Demokrat sebagai rumah perjuangan.
“Saya menemukan sebuah rumah untuk saya berjuang, dan rumah perjuangan itu namanya adalah Partai Demokrat,” katanya.
Ia juga menyinggung latar belakang dirinya sebagai perempuan, non-Muslim, dan keturunan Tionghoa. Menurutnya, Demokrat memberikan ruang dan penerimaan.
“Saya datang dengan identitas triple minority. Pertama saya perempuan. Kedua saya non-Muslim, saya Katolik. Dan yang ketiga saya juga keturunan Tionghoa. Tapi justru di sinilah saya diterima,” jelasnya.
Merry menyebut, KTA yang diterimanya bukan sekadar kartu identitas, melainkan simbol komitmen.
“Bagi saya ini adalah sebuah komitmen. Komitmen Tiada Akhir. KTA,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/Gilang Putranto, Igman Ibrahim)