TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak injil katolik hari ini Selasa 10 Februari 2026.
Injil katolik hari ini lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.
Selasa 10 Februari 2026 merupakan hari Selasa, Perayaan Wajib Santa Skolastika, Perawan, Santo Zenon, Pertapa, dengan warna liturgi putih.
Adapun bacaan liturgi Katolik hari Selasa 10 Februari 2026 adalah sebagai berikut:
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 10 Februari 2026, Hati yang Taat, Bukan Sekadar Tradisi
"Engkau telah bersabda, "Nama-Ku akan tinggal di sana." Dengarkanlah permohonan umat-Mu Israel."
Pada hari pentahbisan rumah Allah, Raja Salomo berdiri di depan mezbah Tuhan di hadapan segenap jemaah Israel. Ia menadahkan tangannya ke langit, lalu berkata, “Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas, dan di bumi di bawah.
Engkau memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu.
Benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sedangkan langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, apalagi rumah yang kudirikan ini!
Karena itu berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya Tuhan Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini!
Kiranya siang malam mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, terhadap tempat yang tentangnya Kaukatakan: ‘Nama-Ku akan tinggal di sana’.
Dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel, yang mereka panjatkan di tempat ini; dengarkanlah dari tempat kediaman-Mu di surga; dan apabila Engkau mendengarnya maka Engkau akan mengampuni.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 84:3.4.5.10.11
Ref. Betapa menyenangkan kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!
Jiwaku merana karena merindukan pelataran rumah Tuhan; jiwa dan ragaku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.
Bahkan burung pipit mendapat tempat dan burung laying-layang mendapat sebuah sarang, tempat mereka menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya Tuhan semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!
Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang memuji-muji Engkau tanpa henti. Lihatlah kami, ya Allah, perisai kami, pandanglah wajah orang yang Kauurapi.
Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik.
Bait Pengantar Injil Mzm 119:36a.29b
Ref. Alleluya
Condongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku.
Bacaan Injil Markus 7:1-13
"Kamu akan mengabaikan perintah Allah untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
Sebab orang-orang Farisi – seperti orang-orang Yahudi lainnya – tidak makan tanpa membasuh tangan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat-istiadat nenek moyang. Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.
Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus,
“Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat-istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?”
Jawab Yesus kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis:
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadat kepada-Ku, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat-istiadat manusia.” Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri.
Karena Musa telah berkata: ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu!’ Dan: ‘Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati’. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapa atau ibunya: ‘Apa yang ada padaku,
yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk kurban, yaitu persembahan kepada Allah’, maka kamu membiarkan dia untuk tidak lagi berbuat sesuatu pun bagi bapa atau ibunya.
Dengan demikian sabda Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat-istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan!”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
Hati yang Taat, Bukan Sekadar Tradisi” Injil: Markus 7:1–13
"Ketika Iman Tinggal di Permukaan"
Banyak orang mengira bahwa iman yang baik adalah iman yang tampak rapi dari luar: tata cara dijalankan, aturan ditaati, kebiasaan dijaga. Semua itu memang penting. Namun Injil hari ini membawa kita lebih dalam melewati lapisan luar menuju inti hati.
Dalam Markus 7:1–13, Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang sangat taat pada tradisi, tetapi kehilangan makna terdalam dari iman itu sendiri. Mereka sibuk menjaga kebiasaan lahiriah, namun lupa memelihara hati yang taat kepada Allah.
Melalui renungan Katolik hari ini, kita diajak bercermin:
Apakah imanku hidup di hati, atau hanya berhenti di kebiasaan?
Tradisi yang Baik, Tetapi Bisa Kehilangan Jiwa
Yesus tidak menolak tradisi. Ia sendiri hidup dalam tradisi Yahudi. Namun Ia menegaskan satu hal penting: tradisi harus mengantar pada kehendak Allah, bukan menggantikannya.
Orang-orang Farisi menegur murid-murid Yesus karena tidak mencuci tangan menurut adat sebelum makan. Bagi mereka, ketaatan lahiriah menjadi ukuran kesalehan.
Namun Yesus menjawab dengan tegas:
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Mrk 7:6)
Ini adalah kritik yang tajam, tetapi penuh kasih. Yesus tidak sedang menghina, melainkan membangunkan hati yang tertidur dalam rutinitas religius.
Dalam renungan Injil Markus 7:1–13, kita belajar bahwa iman bisa tetap aktif secara lahiriah, tetapi mati secara batiniah.
Hati: Pusat Iman yang Sejati
Yesus selalu membawa orang kembali ke satu tempat: hati.
Hati bukan sekadar perasaan, tetapi pusat keputusan, niat, dan arah hidup. Di sanalah iman sejati bertumbuh.
Ketaatan lahiriah tanpa hati yang taat hanya melahirkan kesalehan palsu. Sebaliknya, hati yang sungguh mengasihi Allah akan secara alami mengekspresikan diri dalam tindakan nyata.
Dalam kehidupan Katolik hari ini, kita bisa saja:
rajin mengikuti Misa,
aktif dalam pelayanan,
fasih dalam bahasa rohani,
namun masih menyimpan hati yang keras, menghakimi, dan enggan berubah.
Renungan Katolik harian ini mengingatkan: Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi mengapa kita melakukannya.
Ketika Tradisi Menutupi Kebenaran
Yesus menyoroti contoh konkret: tradisi “korban” (korban) yang dipakai untuk menghindari kewajiban terhadap orang tua. Dengan dalih religius, orang membenarkan ketidakpedulian.
Inilah bahaya besar iman formal:
agama dipakai untuk membenarkan ego.
Tradisi yang seharusnya menolong orang semakin mengasihi sesama, justru dipakai untuk menghindari tanggung jawab moral.
Yesus menyebut ini dengan sangat jelas:
“Kamu pandai mengesampingkan perintah Allah untuk memelihara adat istiadatmu sendiri.”
Ini bukan hanya masalah zaman Yesus. Ini juga masalah zaman kita.
Dalam renungan Katolik Selasa ini, kita diajak bertanya dengan jujur:
Apakah aku memakai agama untuk membenarkan sikapku?
Apakah imanku sungguh membuatku lebih mengasihi, atau justru lebih mudah menghakimi?
Relevansi di Zaman Sekarang
Di era media sosial, iman sering tampil sebagai identitas visual: simbol, kutipan, unggahan rohani. Semua itu baik. Namun Injil hari ini bertanya lebih dalam: apakah hati kita ikut berubah?
Iman sejati terlihat ketika:
kita bersedia mengampuni,
kita mau mendengarkan,
kita rendah hati mengakui salah,
kita peduli pada yang lemah dan tersisih.
Dalam The Katolik renungan harian, Injil ini menjadi pengingat penting bagi remaja, Gen Z, dan orang tua milenial: iman bukan sekadar apa yang kita tampilkan, tetapi bagaimana kita hidup setiap hari.
Dari Rutinitas Menuju Pertobatan
Yesus tidak datang untuk menghancurkan tradisi, tetapi untuk memurnikannya. Ia ingin iman kembali bernapas, bukan sekadar berjalan di jalur lama.
Rutinitas religius tanpa refleksi akan membuat iman tumpul. Sebaliknya, rutinitas yang disertai pertobatan akan membuat iman semakin matang.
Tradisi + hati yang taat = iman yang hidup
Tradisi – hati yang taat = agama yang kosong
Refleksi Pribadi
Luangkan waktu sejenak hari ini:
Tradisi iman apa yang selama ini aku jalani tanpa lagi aku hayati?
Di bagian mana hatiku mulai menjauh dari Tuhan meski aku tampak “religius”?
Perubahan kecil apa yang Tuhan undang untuk kulakukan hari ini?
Doa Penutup
Tuhan yang Maharahim, Engkau mengenal hati kami lebih dari siapa pun.
Engkau tahu betapa mudahnya kami bersembunyi di balik kebiasaan dan tradisi.
Sucikanlah hati kami, agar iman kami tidak berhenti di bibir, tetapi hidup dalam kasih dan ketaatan sejati.
Ajarlah kami menjalani tradisi iman dengan hati yang terbuka dan siap diubah oleh-Mu. Amin.
Penutup: Iman yang Bernapas
Yesus tidak mencari kesalehan yang sempurna, tetapi hati yang mau dibentuk.
Semoga renungan Katolik Markus 7:1–13 ini menolong kita untuk kembali ke inti iman: mengasihi Allah dengan segenap hati dan mewujudkannya dalam kasih kepada sesama. (Sumber the katolik.com/kgg).