TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Sebanyak 1.166 murid Sekolah Dasar (SD) di Bandar Lampung sudah sekitar satu bulan tidak menerima Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai 12 Januari sampai 10 Februari 2026.
Seribu lebih siswa tersebut berasal dari dua SD di Bandar Lampung, yaitu SDN 1 Way Dadi Sukarame dan SDN 1 Harapan Jaya Sukarame.
SDN 1 Way Dadi memiliki 697 siswa dengan total 24 rombongan belajar (rombel). Sedangkan SDN 1 Harapan Jaya mempunyai 469 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, yang terbagi dalam tujuh rombongan belajar.
Kepala masing-masing SD menyebut jika berhentinya MBG bagi murid di sekolah mereka imbas dari pergantian dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dari yang sebelumnya mereka masuk ke dalam dapur SPPG 04 Sukarame, beralih ke dapur SPPG 02 Way Dadi Baru.
Sebelumnya, Dapur SPPG 4 Sukarame mengelola 5 sekolah. Termasuk di dalamnya SD N1 Harapan Jaya dan SD N 1 Way Dadi yang kini tidak menerima MBG.
Namu setelah peralihan, MBG di dua sekolah ini sudah menjadi tanggungjawab Dapur SPPG 2 Way Dadi Baru Muhammadiyah.
Kedua Kepala SD ini mengaku telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan dapur 02 Way Dadi Baru Muhammadiyah minggu lalu. Namun, sampai saat ini sekolah mereka belum menerima MBG kembali.
Kepala SDN 1 Way Dadi Sukarame Yulisa mengatakan penghentian sementara MBG disebabkan adanya proses pemerataan dan pergantian dapur penyedia.
"Kalau dari tanggal 12 Januari sampai hari ini memang belum menerima MBG, karena dapur yang lama itu diberhentikan sementara untuk pemerataan," ujar Yulisa saat dikonfirmasi di sekolah, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, pihak sekolah saat ini hanya bisa menunggu realisasi dari dapur baru yang telah ditunjuk. Padahal sekolah itu sudah beberapa kali mengalami pergantian dapur penyedia MBG.
"Sekarang ini sudah yang keempat. Untuk yang terbaru, minggu kemarin sudah dilakukan penandatanganan MoU dengan dapur MBG Muhammadiyah," jelasnya.
Yulisa menyebutkan, SDN 1 Way Dadi memiliki 697 siswa dengan total 24 rombongan belajar (rombel) yang terdampak belum berjalannya kembali program MBG tersebut.
Sejumlah siswa, dikatakan Yulisa, sempat mempertanyakan keberadaan MBG yang biasanya mereka terima. Namun pihak sekolah telah memberi penjelasan kepada guru, siswa, hingga wali murid terkait kondisi tersebut.
"Anak-anak memang banyak yang bertanya kemana MBG-nya. Alhamdulillah sudah kami jelaskan melalui guru-guru dan juga wali murid bahwa ini bersifat sementara," ujarnya.
Terpisah Kepala SDN 1 Harapan Jaya, Devi Andriyanti Puspita Sari, juga mengaku mengalami hal yang sama. Karena ada pergantian dapur penyedia MBG yang saat ini masih dalam tahap persiapan.
"Hampir mau sebulan ini memang kosong karena baru MOU dengan dapur yang baru. Karena dapur baru, mungkin mereka masih persiapan," ujar Devi saat ditemui di sekolah, Selasa (10/2/2026).
Meski demikian, Devi menegaskan tidak ada permasalahan berarti yang muncul di lingkungan sekolah akibat belum berjalannya program MBG. Ia menyebut, baik pihak sekolah maupun wali murid tidak mempermasalahkan kondisi itu.
"Saya sih nggak mikir macam-macam, berpikir positif. Wali murid juga nggak ada yang tanya atau komplain," katanya.
Menurut Devi, selama ini siswa SDN 1 Harapan Jaya memang terbiasa jajan sendiri di lingkungan sekolah, sehingga keberadaan MBG tidak terlalu memengaruhi aktivitas mereka sehari-hari.
"Sejak sebelum ada MBG, anak-anak memang biasa jajan sendiri. Jadi ada atau nggak ada MBG itu nggak terlalu berpengaruh," jelasnya.
SDN 1 Harapan Jaya sendiri memiliki total 469 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, yang terbagi dalam tujuh rombongan belajar.
Sebelumnya, MBG diberikan dua kali sehari menyesuaikan dengan pembagian sif sekolah, yakni sif pagi dan sif siang. Untuk sif pagi, MBG diberikan kepada siswa kelas 1, 2, 3, dan 6. Sementara sif siang mencakup kelas 4, 5, serta satu kelas 3 lainnya.
Namun, sejak adanya penyesuaian dapur penyedia, distribusi MBG untuk sementara dihentikan.
Devi menyebut dapur yang sebelumnya melayani sekolahnya mengalami kelebihan kapasitas. "Kalau ditotal, jumlah siswa yang dilayani bisa lebih dari 3.000. Mungkin karena kelebihan itu, sekolah kami sementara dikeluarkan dulu," ungkapnya.
Saat ini, SDN 1 Harapan Jaya telah menandatangani MOU baru dengan dapur MBG yang berlokasi di wilayah Way Dadi dan dikelola oleh pihak Muhammadiyah. MOU tersebut baru dilakukan sekitar satu minggu lalu.
"Sekarang sudah MOU, cuma memang belum tahu kapan mulai. Katanya walaupun puasa tetap dapat, tapi bentuknya keringan," ujarnya.
Devi menambahkan, proses penyaluran MBG sepenuhnya berada di bawah koordinasi pihak PPG di tingkat kecamatan, sehingga pihak sekolah masih menunggu kepastian jadwal distribusi.
"Ditunggu saja, nanti katanya sekolah akan didatangi. Ini masih tahap awal karena PPG-nya juga baru," pungkasnya.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )