Krisis Bahan Bakar di Kuba karena Tekanan AS, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui
Endra Kurniawan February 10, 2026 06:33 PM


TRIBUNNEWS.COM – Kuba, negara kepulauan di Karibia bagian utara yang dulunya menjadi destinasi favorit banyak negara, kini hampir lumpuh akibat sanksi Amerika Serikat.

Puluhan penerbangan dari dan ke Havana serta bandara Kuba lainnya dibatalkan setelah otoritas penerbangan negara itu memperingatkan bahwa tidak ada bahan bakar yang tersedia untuk bulan depan.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kuba telah mengeluarkan peringatan baru mengenai pemadaman listrik di seluruh pulau.

Beberapa di antaranya berlangsung lebih dari 24 jam akibat kekurangan bahan bakar untuk generator.

Mengutip The Independent, berikut lima hal yang perlu diketahui tentang krisis bahan bakar ini.

1. Pemicu Krisis Bahan Bakar

Pada awal Januari lalu, setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, pasokan utama minyak Kuba mulai terganggu.

Pemasok dari Meksiko sempat menutupi kekurangan tersebut.

Namun, dalam perintah eksekutif yang mulai berlaku pada 30 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump menyatakan:

“Kebijakan, praktik, dan tindakan pemerintah Kuba secara langsung mengancam keselamatan, keamanan nasional, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.”

Trump mengatakan bahwa tarif hukuman akan dikenakan pada negara mana pun yang secara langsung atau tidak langsung menjual atau memasok minyak ke Kuba.

Akibatnya, pasokan minyak ke Kuba semakin menipis.

Baca juga: PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan di Kuba Jika Pasokan Energi Terhenti akibat Blokade Minyak AS

2. Berdampak pada Penerbangan

Kuba memiliki jumlah penerbangan yang relatif sedikit, dan kini penerbangan tersebut semakin langka.

Peringatan ini berlaku untuk bandara-bandara di Havana, Varadero, Santiago de Cuba, Holguin, Santa Clara, Cayo Coco, dan lainnya.

Akibat kondisi tersebut, Air Canada membatalkan seluruh program mingguan yang mencakup 32 penerbangan antara bandara di Kanada dan Kuba.

Maskapai itu menyatakan:

“Diperkirakan mulai 10 Februari, bahan bakar penerbangan tidak akan tersedia secara komersial di bandara-bandara di pulau tersebut.”

Maskapai WestJet Kanada juga mulai membatalkan sejumlah penerbangan.

Beberapa wisatawan Inggris yang menuju Kuba melakukan perjalanan melalui Kanada.

Jika mereka telah memesan tiket lanjutan melalui Air Canada atau WestJet, mereka berhak memperoleh pengembalian dana penuh.

3. Nasib Turis yang Berniat Pulang

Lantas, apa yang akan terjadi pada turis atau penumpang yang berada di Kuba dan hendak pulang?

Ribuan penumpang yang menunggu penerbangan pulang dari Kuba akan diterbangkan menggunakan penerbangan khusus.

Air Canada menyatakan:

“Untuk penerbangan yang tersisa, Air Canada akan mengisi bahan bakar tambahan (tanker) dan melakukan pemberhentian teknis seperlunya untuk mengisi bahan bakar pada perjalanan pulang jika diperlukan.”

Istilah “tanker” berarti pesawat yang terbang ke Kuba akan membawa bahan bakar lebih banyak dari kebutuhan perjalanan pergi.

Jika sisa bahan bakar tidak mencukupi, Air Canada akan mengalihkan penerbangan ke lokasi seperti Bahama untuk mengisi ulang tangki.

4. Keputusan Maskapai Lain

Saat ini, banyak penerbangan penghubung ke Havana dan bandara Kuba lainnya berasal dari bandara terdekat, termasuk Miami, yang tidak mengalami masalah pasokan bahan bakar.

Penerbangan utama dari Eropa meliputi rute Iberia dan Air Europa dari Madrid ke Havana, Air France dari Paris ke Havana, serta Turkish Airlines dari Istanbul ke Havana.

Kemungkinan besar, pesawat-pesawat ini akan melakukan pemberhentian teknis untuk mengisi bahan bakar sebelum penerbangan pulang.

5. Mengapa AS "Mengganggu" Kuba?

MINYAK VENEZUELA - Tangkap layar YouTube The White House 10 Januari 2026, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump saat menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak dan gas. Donald Trump mengumpulkan 17 eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih untuk mendorong investasi kembali ke Venezuela setelah penggulingan Maduro.
KEBIJAKAN TRUMP - Tangkap layar YouTube The White House 10 Januari 2026, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump saat menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak dan gas. (Tangkap layar YouTube The White House)

Pada Kamis (29/1/2026), Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba.

Pernyataan Gedung Putih menyebut pemerintah Kuba sebagai ancaman yang tidak biasa dan luar biasa terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Usulan pengenaan bea masuk ini bukan tanpa alasan.

AS menuduh pemerintah Kuba bersekutu dengan sejumlah negara yang dianggap sebagai musuh, termasuk Rusia, China, Iran, Hamas, dan Hizbullah.

Pada Januari lalu, laporan Wall Street Journal menyebut pemerintah AS berupaya melakukan perubahan rezim di Kuba untuk menggulingkan pemerintahan komunisnya, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Menciptakan blokade total impor minyak ke Kuba merupakan salah satu kemungkinan strategi tersebut, lapor Politico.

Laporan WSJ juga menyatakan bahwa penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menjadi peringatan bagi Kuba.

Siapa yang Akan Terdampak oleh Tarif Tersebut?

Jika diberlakukan, tarif ini terutama akan menargetkan Meksiko, Rusia, dan Aljazair, tiga dari empat negara pemasok utama minyak Kuba.

Meksiko memasok 44 persen impor minyak Kuba, Rusia sekitar 10 persen, dan Aljazair dalam jumlah lebih kecil, menurut data Financial Times.

Sebelum penangkapan Maduro, Venezuela memasok sekitar 33 persen impor minyak Kuba.

Namun, pasokan tersebut terhenti setelah penculikan tersebut.

Pada 11 Januari, Trump menulis:

“TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG MASUK KE KUBA – NOL! Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan sebelum TERLAMBAT.”

Setelah itu, Kuba sepenuhnya bergantung pada Meksiko untuk pasokan minyaknya.

Laporan terbaru menyebut perusahaan minyak milik negara Meksiko, Pemex, mengirim sekitar 20.000 barel minyak per hari ke Kuba dari Januari hingga September 2025.

Negara itu berupaya menyeimbangkan hubungannya dengan Kuba di tengah tekanan AS.

Mengapa AS Menginginkan Perubahan Rezim di Kuba?

Laporan WSJ menyebut pemerintahan Trump secara aktif bekerja sama dengan pihak internal di pemerintahan Kuba untuk memfasilitasi perubahan rezim di negara tersebut, yang saat ini dipimpin Presiden Miguel Diaz-Canel.

Laporan itu juga menyatakan bahwa penerapan strategi yang sama seperti di Venezuela mungkin tidak menghasilkan dampak serupa di Kuba.

Kuba terletak sekitar 150 kilometer dari negara bagian Florida di selatan AS.

Ribuan warga Kuba telah meninggalkan pulau itu menuju AS dengan alasan kesulitan ekonomi.

AS juga menuduh Kuba melindungi kelompok teroris transnasional seperti Hizbullah, menampung fasilitas intelijen Rusia, serta membangun kerja sama pertahanan dengan China.

Gedung Putih menyatakan bahwa tarif terhadap negara pengekspor minyak ke Kuba merupakan bagian dari keadaan darurat nasional yang dianggap mengancam keamanan AS.

Kuba telah lama terjebak dalam krisis bahan bakar, energi, obat-obatan, dan devisa akibat embargo ekonomi AS sejak 1960-an yang membatasi perdagangan dengan Havana.

Minyak bersubsidi dari Venezuela sebelumnya memungkinkan sistem negara yang bergantung pada minyak tersebut tetap berfungsi.

Dengan Venezuela tidak lagi menjadi pemasok utama, AS dinilai berupaya memanfaatkan situasi Kuba melalui dorongan perubahan rezim.

Jika perubahan rezim terjadi, perusahaan minyak AS yang asetnya disita saat Revolusi Kuba beberapa dekade lalu berpotensi menggugat Kuba untuk memperoleh kembali ratusan juta dolar.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.