TRIBUN-MEDAN.com, TANJUNGBALAI - Selain Bunga, seorang wanita muda lainnya Intan turut mengaku menjadi korban perdagangan manusia sindikat antar negara di Malaysia dengan dugaan jaringan sindikat I seorang wanita yang merupakan warga Bunut, Kisaran, Kabupaten Asahan.
Intan, seorang wanita kurus berhidung mancung mengaku dirinya diiming-imingi oleh I untuk berangkat ke Malaysia bekerja di salah satu tempat permainan yang diduga ketangkasan.
Intan yang masih berusia muda, mengaminkan tawaran I untuk bekerja di lokasi tersebut, dan berangkat ke Malaysia dengan S yang diduga sindikat perdagangan orang.
"Jadi saya awalnya ditawari kerjaan, kemudian dikenalkan dengan I, kemudian setelah saya setuju, saya dihubungkan ke S yang akan mengurus keperluan saya di Indonesia untuk keberangkatan ke Malaysia," kata Intan, Selasa (10/2/2026).
Lanjutnya, setelah diurus oleh S, dia langsung diberangkatkan bersama beberapa orang temannya yang lain dari Dumai untuk berjumpa langsung dengan I di Port Klang Malaysia.
"Disana kami dua hari masuk ke dalam Kondo (Apartemen) milik I, saya jumpa langsung dan diajak untuk belanja pakaian oleh I," katanya.
Setelah bekerja, akhirnya korban Intan diminta untuk melayani lelaki berhidung belang di bilik-bilik kamar di Puchong Malaysia.
"Kami sampai disana, kami beri arahan sama Koko itu, ternyata kami disana disuruh melayani lelaki-lekaki berhidung belang disana," kata Intan.
Katanya, selain dirinya dan beberapa rekan seperjalanannya itu, ada banyak warga Indonesia lainnya yang sudah terlebih dahulu berada di dalam Kondo (Apartemen) milik I.
"Disana ada sekitar 20 orang Indonesia. Ada anak dibawah umur, taunya karena mereka bilang, dia belum cukup umur, tapi kata kakak itu bisa dianya masuk," katanya.
Katanya, anak dibawah umur tersebut tidak bisa pulang karena terkendala dengan paspornya yang sudah mati dan biaya.
"Kasihan, sedih. Dia mau pulang, tapi paspornya mati, mau pulang juga banyak biaya. Saya saja pulang kemarin empat hari kerja, dan 10 hari disana saya harus bayar denda sekitar Rp 17 juta karena tidak menaati kontrak, padahal di Indonesia katanya gaada kerja sistem kontrak," katanya.
Ia mengaku masih trauma apabila mengingat kembali pengalaman kerjanya diluar negeri tersebut. Terlebih, ia yang tinggal jauh di Pedesaan Asahan, masih awam dengan hal-hal yang dilihatnya tersebut.
(cr2/tribun-medan.com)