Pengrajin di Kampung Adat Prailiu Praikamaru Sumba Timur Butuh Ruang Promosi
Oby Lewanmeru February 10, 2026 09:19 PM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Ketua Adat Kampung Raja Prailiu Praikamaru di Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Umbu Remi mengatakan, para pengrajin di kampung adat tersebut membutuhkan ruang promosi untuk menjual hasil kerajinannya.

Umbu Remi juga adalah pengurus Galeri Tenun Ikat Praikamaru di kampung itu. Di situ, tergabung kurang lebih 20 penenun.

Selain galeri tenun, kampung adat itu juga memiliki rumah adat Sumba yang masih terjaga, ada kuburan batu megalitik dan dengan kepercayaan Marapu yang masih kuat.

Di kampung itu, pengunjung juga bisa melihat langsung proses pembuatan tenun kain Sumba Timur.

Baca juga: Korban Penikaman di Alfamart Prailiu Sumba Timur Meninggal Dunia

Umbu Remi menyampaikan hal tersebut karena ia melihat, kunjungan wisata ke galeri masih terbilang rendah. 

Ia menduga, kondisi ini disebabkan oleh keterbatasan akses transportasi udara ke Waingapu.

“Kunjungan wisatawan sudah sangat kurang karena kendala di bandara,” katanya, Selasa (10/2/2026).

Butuh Akses Promosi dan Pemasaran

Kepada POS-KUPANG.COM, Umbu Remi mengatakan, jika pemerintah belum bisa menghadirkan wisatawan ke Sumba Timur, ia berharap pemerintah dapat memfasilitasi pengrajin untuk promosi ke luar daerah.

Ia berkata, pemerintah perlu mencari ruang promosi dan pemasaran. Ia menyebutkan seperti pameran budaya di Jakarta Convention Center (JCC) dengan ajang INACRAFTnya.

Ajang itu diketahui membuka ruang untuk menampilkan berbagai kerajinan wastra (kain) dan produk UMKM lain dari seluruh Nusantara.

“Kita harus main keluar. Ketika ada pameran di JCC, ada INACRAFT, seharusnya pemda membiayai. Karena kan para pengrajin butuh dana untuk menyewa stan atau ruang promosi. Seharusnya perintah ada di situ,” ungkap dia.

Ia mengakui, selama ini pemerintah daerah memang mengikuti kegiatan tersebut. 

Namun, yang pergi ke sana, justru kepala dinas dan para pegawainya. Bukan pengrajin. Kainnya saja yang dipinjamkan untuk dipamerkan.

“Yang terjadi selama ini kan justru pejabat yang ikut ke situ. Bukan pengrajin yang dikirim tetapi pejabat yang pergi, dia bawa kain pinjam di kita pengrajin,” kesalnya.

“Sama saja kepala dinas yang pergi, pegawai yang pergi sama dengan bohong itu,” tambahnya.

Menurut dia, sebaiknya pejabat berangkat bersama pengrajin untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pemerintah seharusnya memfasilitasi.

“Itu kan fungsi pemerintah. Ini malah memfasilitasi diri sendiri. Mereka pejabat yang pergi. Dari dulu begitu,” tuturnya.

Kesal dengan kondisi tersebut, dalam beberapa tahun terakhir Umbu Remi akhirnya berinisiatif menjalin kerja sama dengan pihak luar.

Ia menceritakan, pada tahun 2023 ia berhasil mendatangkan kapal pesiar ke Sumba Timur dan wisatawannya berkunjung ke kampung adat yang dijaganya.

Pada tahun berikutnya, 2024, kapal pesiar itu kembali datang sebanyak empat kali.

“Tahun 2024 sebanyak empat kali kunjungan kapal pesiar itu,” sebutnya.

Terakhir, Umbu Remi mengatakan bahwa ia memahami pemerintah sedang berada dalam tekanan efisiensi anggaran yang berdampak pada pengembangan pariwisata.

Meski begitu, ia berharap pemerintah tetap bisa memberikan dukungan kepada para pengrajin tenun ikat di Sumba Timur. 

Setidaknya kata dia, adalah memberi bantuan benang untuk kebutuhan menenun. (dim)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.