TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Wakil Bupati Siak Syamsurizal secara terbuka mengusulkan agar tagline daerah “Siak The Truly Malay” diganti dengan versi berbahasa Indonesia.
Usulan itu disampaikannya langsung di hadapan pencetus tagline tersebut, Syamsuar, Bupati Siak periode 2011–2019.
Pernyataan itu disampaikan Syamsurizal dalam acara Simposium Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu yang digelar di Balairung Datuk Empat Suku, Kompleks Abdi Praja, Siak, Selasa (10/2/2026).
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh Melayu serta menghadirkan sejarawan nasional Prof. Dr. Anhar Gonggong sebagai narasumber.
Syamsurizal menyebut penggunaan bahasa Inggris dalam tagline tersebut menggelitik dirinya. Ia mempertanyakan relevansi penggunaan bahasa asing bagi daerah yang secara identitas kuat sebagai wilayah Melayu.
“Tagline yang disampaikan tadi itu menggelitik saya. Siak the truly Malay. Kenapa kita menggunakan bahasa Inggris, padahal kita Melayu?” kata Syamsurizal dalam forum tersebut.
Ia bahkan secara langsung menyebut nama Syamsuar saat menyampaikan gagasan penggantian tagline tersebut. Menurut Syamsurizal, bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu justru lebih mencerminkan jati diri Siak.
“Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Kenapa tidak kita ganti saja dengan tagline Siak Melayu Sebenarnya?” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Syamsurizal juga menekankan bahwa perubahan tagline bukan sekadar wacana. Namun dianggap sebagai aja pembuktian.
“Ini upaya membuktikan kemajuan Siak ke depan dengan identitas kebahasaan yang lebih Melayu,” ujarnya.
Syamsuar yang hadir dalam forum tersebut, tampak mendengarkan tanpa memberikan tanggapan langsung.
Padahal, tagline “Siak The Truly Malay” pertama kali diperkenalkan dan diresmikan pada periode awal kepemimpinannya sebagai Bupati Siak.
Pada masanya, pemilihan tagline tersebut disebut melalui proses riset, kajian, dan pertimbangan birokrasi yang panjang.
Tagline itu dirancang sebagai strategi branding untuk memperkenalkan Siak ke tingkat internasional.
Sejumlah agenda berskala internasional juga digelar pada periode tersebut, antara lain Tour de Siak, Serindit Boat Race, kejuaraan BMX, karnaval budaya internasional, serta kegiatan sastra Siak Bermadah yang melibatkan peserta dari luar negeri.
Di tengah forum yang membahas kegelisahan tokoh-tokoh Melayu Riau terhadap melemahnya perhatian pada kebudayaan Melayu, sebagaimana disampaikan penggagas simposium, Wan Abubakar, usulan penggantian tagline tersebut memunculkan diskursus baru tentang konsistensi identitas dan arah branding Kabupaten Siak ke depan.
(tribunpekanbaru.com/mayonal putra)