TRIBUNJOGJA.COM - Malam kerap menjadi waktu yang dekat dengan perenungan dan keheningan batin.
Setiap puisi menghadirkan sudut pandang berbeda tentang malam, mulai dari sunyi yang menenangkan hingga kehilangan yang perlahan diterima.
Bahasa yang digunakan sederhana namun sarat makna, membuat pembaca mudah larut dalam suasana yang dibangun.
Melalui bait-bait reflektif, malam tidak digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai teman yang setia menemani perjalanan batin manusia.
Kumpulan 12 Puisi tentang "Malam" ini, suasana gelap digambarkan sebagai ruang untuk menyimpan rindu, mengenang masa lalu, hingga memanjatkan doa secara diam-diam.
Malam turun perlahan dari langit tua
Membawa sunyi di lipatan angkasa
Bintang bergetar seperti doa renta
Angin pun bicara dengan suara senja
Di beranda jiwa aku duduk sendiri
Menyimak gelap yang kian berseri
Waktu berhenti langkah pun mati
Tinggal rindu yang enggan pergi
Lampu minyak mengeluh pucat
Menggigil di hadapan malam pekat
Bayang menari di dinding sekarat
Seolah kisah lama ingin berdebat
Malam menampung segala rahasia
Tangis doa dan luka manusia
Aku simpan namamu dalam kata
Agar tak larut bersama gelapnya dunia
Malam adalah kitab tanpa judul
Tintanya pekat maknanya berlapis pilu
Langit membungkuk menahan beku
bulan pucat menatap waktu
Aku membaca sunyi dengan dada terbuka
Tiap barisnya perih dan setia
Terbuai ntara gelap dan cahaya
Aku temukan diriku yang lama
Jalan tua terdiam tanpa suara
lampu berdiri bagai penjaga asa
Langkahku gugur di sela malam
menghitung rindu yang kian dalam
Angin membawa bau kenangan
tentang pulang yang tak pernah genap
Malam mengajari arti kehilangan
dengan tenang tanpa sikap
Bulan menggantung di langit kelam
Layaknya doa yang tak terucap diam
Cahayanya jatuh ke tanah hitam
Menyentuh luka yang telah padam
Di balik malam aku bersujud
Menyerahkan lelah pada Yang Mahawujud
Biarlah sunyi menjadi penuntun
Menuju pagi yang lebih teduh
Kujenguk malam dari balik jendela
Langit retak oleh cahaya bintang tua
Sunyi menetes seperti air mata
Perlahan namun penuh makna
Aku menunggu tanpa janji
Sebab malam pandai menyimpan misteri
Jika esok masih bernama hari
Biarlah gelap ini mengerti
Baca juga: 30 Puisi Melankolis tentang Hujan Pagi, Sunyi yang Menenangkan Hati
Malam menyanyi dengan nada rendah
Lagu sunyi yang kian pasrah
Daun bergeser angin pun lelah
Semesta tunduk pada gelap
Aku dengarkan dengan jiwa terbuka
Tiap nada mengiris rasa
Dalam gelap aku belajar setia
Pada luka pada asa
Waktu memejam di pangkuan malam
Dentangnya berhenti tanpa salam
Segala gaduh menjadi kelam
Tinggal hati yang terus berdeham
Berjalan tertatih di lorong pikiran
Mencari arti dalam keheningan
Malam seakan mengeja teori pelajaran
Bahwa diam pun adalah jawaban
Jangan kira gelap selalu kejam
malam pun tahu cara memeluk diam
Ia sembunyikan duka yang tajam
Agar hati tak kian tenggelam
Di dadanya aku bersandar
Menyimpan lelah yang berputar
Malam menjadi sahabat sabar
Tak pandai menghakimi sadar
Satu bintang jatuh dari langit tua
Seperti harap yang lepas dari doa
Malam menelan cahaya itu
Tanpa suara tanpa ragu
Aku belajar dari jatuhnya terang
Bahwa kehilangan tak selalu perang
Kadang ia datang dengan tenang
Mengajarkan ikhlas yang panjang
Ingatan bangkit bersama malam
mengendap di kepala tak tenggelam
Nama-nama berbisik kelam
seperti puisi yang tak sempat salam
Aku biarkan ia singgah sebentar
sebelum pagi datang menyambar
Malam tahu cara mengantar
kenangan pulang dengan sabar
Malam menipis di ujung waktu
Bulan pamit pada langit kelabu
Sunyi mulai berkemas perlahan
Menunggu pagi mengambil peran
Aku ucap terima kasih pada gelap
Yang setia menemani penat
Sebab tanpa malam yang lelap
Pagi takkan terasa hangat
(MG Zahrah Suci Al Aliyah)