SERAMBINEWS.COM - Bulan suci Ramadhan 1447 H sudah dekat.
Simak sejumlah informasi terkait amalan sunah saat berbuka maupun sahur. Hal ini juga bisa diajarkan kepada anak-anak untuk belajar berpuasa.
Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi ummat islam. Meninggalkan puasa juga ada ketentuan.
Bagi yang memiliki utang puasa juga wajib membayar.
Nah, bagaimana tata cara dan amalan sunah dianjurkan saat berbuka puasa?
Berbuka puasa merupakan salah satu berkah bagi orang yang berpuasa.
Setiap muslim dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa setelah mendengar adzan Maghrib.
Menjelang Ramadhan, anjuran ini juga menjadi pengingat bagi kaum muslimin yang masih memiliki utang puasa agar segera menunaikannya sebelum datangnya bulan suci.
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 184)
Anjuran menyegerakan meng-qadha puasa juga disebutkan dalam hadis berikut:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Aku pernah memiliki utang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu menggantinya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dikutip dari website Kementerian Agama Sulawesi Barat, berikut bacaan doa berbuka puasa.
Doa Buka Puasa Qadha
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Allāhumma laka ṣumtu, wa ‘alā rizqika afṭartu.
Artinya: "Ya Allah hanya untuk-Mu kami berpuasa dan atas rezeki yang Engkau berikan kami berbuka." (diriwayatkan oleh Mu’adz bin Zuhrah)
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Dhahabaẓ-ẓama’u wabtallatil-‘urūqu, wa thabatal-ajru in syā’ Allāh.
Artinya: "Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala tetap, insyaallah." (diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar)
Sunah Ketika Berbuka Puasa
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam lamannya menjelaskan amalan sunah yang dapat dilakukan ketika berbuka puasa.
1. Menyegerakan Berbuka
Menyegerakan berbuka puasa saat azan Magrib berkumandang merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sikap ini mencerminkan ketaatan seorang muslim terhadap tuntunan Rasulullah SAW, sekaligus menunjukkan keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan jasmani setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Selain bernilai pahala, menyegerakan berbuka juga membawa manfaat bagi tubuh. Ketika puasa dibatalkan tepat waktu, kondisi fisik dapat segera pulih dan energi kembali terisi.
Rasulullah SAW bersabda: “Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” (Hadits Riwayat Bukhari 4/173 dan Muslim 1093).
2. Berbuka dengan Kurma dan Air Putih
Rasulullah SAW memberikan tuntunan sederhana namun penuh hikmah dalam berbuka puasa, yaitu memulainya dengan sesuatu yang manis seperti kurma. Jika kurma tidak tersedia, maka air putih menjadi pilihan yang dianjurkan. Kebiasaan ini bukan hanya sunnah, tetapi juga sangat baik untuk membantu tubuh beradaptasi setelah berpuasa.
Kurma mengandung gula alami yang dapat dengan cepat mengembalikan energi, sedangkan air putih membantu menghidrasi tubuh.
Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad, 3/164, hasan shahih).
3. Awali Berbuka dengan Bismillah
Mengawali berbuka puasa dengan membaca bismillah merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Dengan menyebut nama Allah sebelum makan dan minum, seorang muslim menanamkan kesadaran bahwa nikmat berbuka adalah karunia dari-Nya yang patut disyukuri.
Membaca bismillah juga menjadi pembuka keberkahan dalam setiap suapan yang masuk ke dalam tubuh. Jika seseorang lupa membacanya di awal, Islam tetap memberi tuntunan untuk mengucapkannya di tengah atau di akhir, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca bismillah). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih).
4. Membaca Doa Berbuka Puasa
Setelah membaca bismillah, dianjurkan untuk melanjutkan dengan doa berbuka puasa. Doa ini menjadi ungkapan syukur sekaligus pengakuan bahwa puasa yang dijalani dan rezeki yang dinikmati semuanya berasal dari Allah SWT.
Membaca doa saat berbuka juga menambah nilai spiritual dalam momen tersebut. Tidak hanya sekadar makan dan minum, berbuka menjadi waktu yang penuh makna karena disertai dzikir dan doa, sebagaimana diriwayatkan:
“Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya telah sampai riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu-ed’ (ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka)”
5. Tidak Berlebihan Saat Berbuka
Islam mengajarkan sikap sederhana dan seimbang, termasuk saat berbuka puasa. Setelah seharian menahan lapar, seseorang sering tergoda untuk makan berlebihan. Padahal, makan secukupnya jauh lebih baik bagi kesehatan dan kenyamanan tubuh.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa perut tidak seharusnya diisi secara berlebihan. Tubuh hanya membutuhkan porsi yang cukup untuk menopang aktivitas dan ibadah, sebagaimana sabda beliau:
“Tidak ada tempat paling buruk yang dipenuhi isinya oleh manusia, kecuali perutnya. Karena sebenarnya cukup baginya beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Kalaupun ia ingin makan, hendaknya ia atur dengan cara sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i dan At-Tirmidzi).
Keutamaan Menyegerakan Berbuka Puasa
Kementerian Agama menjelaskan, setiap muslim yang berpuasa dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa apabila sudah waktunya.
Ada beberapa keutamaan menyegerakan berbuka puasa yang perlu diketahui oleh muslim, di antaranya:
1. Dicintai Allah Swt
Menyegerakan berbuka puasa termasuk amalan yang mendatangkan kecintaan Allah Swt.
Ketika seorang muslim berbuka tepat waktu, ia menunjukkan ketaatan terhadap aturan puasa yang telah ditetapkan, tanpa menunda atau menambah waktu berpuasa atas kemauan sendiri.
Rasulullah SAW bersabda: "Manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa menyegerakan berbuka bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk kebaikan yang bernilai ibadah dan mendapat tempat istimewa di sisi Allah Swt.
2. Meneladani Sunnah Rasulullah Saw
Berbuka puasa tepat waktu juga menjadi wujud nyata dalam meneladani sunnah Rasulullah Saw.
Setiap kali berpuasa, Rasulullah Saw selalu membatalkan puasanya segera setelah azan Maghrib berkumandang, tanpa menunda-nunda.
Beliau berbuka dengan cara yang sederhana, yakni memakan kurma atau meminum seteguk air sebelum menunaikan salat Maghrib.
3. Waktu Mustajab untuk Berdoa
Momen berbuka puasa merupakan salah satu waktu yang sangat dianjurkan untuk memanjatkan doa.
Dalam kondisi tubuh yang telah menahan lapar dan dahaga seharian, doa seorang yang berpuasa memiliki keistimewaan tersendiri di hadapan Allah Swt.
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika saat berbuka ada doa yang tidak ditolak." (HR. Ibnu Majah)
4. Memberikan Energi bagi Tubuh
Selain bernilai ibadah, berbuka puasa tepat waktu juga membawa manfaat bagi kesehatan tubuh.
Setelah seharian berpuasa, tubuh membutuhkan asupan energi untuk mengembalikan stamina dan menjaga keseimbangan fungsi organ, sehingga berbuka puasa dapat mengembalikan energi tubuh.
Bimas Islam Kementerian Agama dalam postingan akun Instagram-nya @bimasislam, menjelaskan hal sunah yang dapat dilakukan bagi muslim yang berpuasa.
1. Makan Sahur
Sahur merupakan salah satu amalan sunah yang sangat dianjurkan bagi orang yang hendak menjalankan puasa.
Aktivitas makan sebelum terbit fajar ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk persiapan fisik agar tubuh memiliki energi dan daya tahan selama berpuasa seharian.
Rasulullah Saw menganjurkan umatnya untuk tidak meninggalkan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan.
Rasulullah bersabda: “Bersantap sahurlah kalian, karena dalam sahur itu ada keberkahan,” (HR. Bukhari)
Keberkahan tersebut tidak hanya berupa kekuatan jasmani, tetapi juga pahala dan kebaikan yang Allah Swt limpahkan kepada hamba-Nya yang menjalankan sunah Nabi.
2. Menyegerakan Berbuka Puasa
Menyegerakan berbuka ketika waktu magrib telah tiba termasuk amalan sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Berbuka tepat waktu mencerminkan ketaatan seorang muslim terhadap perintah Allah Swt dan sunnah Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw bersabda: “Jika seseorang berpuasa, hendaknya berbuka dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka dengan air. Sebab, air menyucikan,” (HR. Abu Dawud)
Kesederhanaan ini mengajarkan bahwa berbuka puasa bukan soal kemewahan, melainkan bentuk syukur dan ketaatan setelah menahan diri sepanjang hari.
3. Membaca Doa Berbuka Puasa
Berdoa saat berbuka puasa menjadi salah satu amalan sunah yang penuh makna.
Momen berbuka adalah waktu mustajab, di mana doa-doa seorang yang berpuasa memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah Swt.
Doa berbuka umumnya berisi ungkapan rasa syukur atas kekuatan, kesehatan, dan kesempatan yang diberikan Allah hingga puasa dapat ditunaikan.
4. Mandi Junub Sebelum Terbit Fajar
Bagi seseorang yang berada dalam keadaan junub dan akan melaksanakan puasa, disunahkan untuk segera mandi junub sebelum waktu fajar tiba.
Hal ini dilakukan agar ibadah puasa dimulai dalam keadaan suci dari hadas besar.
Mandi junub sebelum fajar bukan syarat sah puasa, tetapi sangat dianjurkan demi kesempurnaan ibadah.
5. Berkata yang Baik-baik
Menjaga lisan selama berpuasa merupakan amalan sunah yang memiliki dampak besar terhadap nilai puasa itu sendiri.
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari ucapan yang buruk, menyakitkan, atau tidak bermanfaat.
Ucapan yang tidak terjaga dapat mengurangi bahkan menggugurkan pahala puasa.
Rasulullah Saw mengajarkan agar orang yang berpuasa senantiasa berkata baik atau memilih diam, sehingga puasanya tidak hanya sah secara lahir, tetapi juga bernilai di sisi Allah Swt.