Rumah Tua 100 Tahun di Kampung Ulu Mentok Masih Bertahan dengan Atap Genteng 
Hendra February 11, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM,BANGKA - Suara air sungai yang mengalir, kicauan burung, serta hembusan angin sepoi-sepoi terasa menenangkan jiwa.

Suansana asri masih terasa di Kampung Ulu, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Rabu (11/2/2025) pagi. 

Perkampungan tua tampak lengang. Sejumlah warga beraktivitas di dalam rumah, sementara sebagian lainnya telah berangkat bekerja.

Kampung Ulu dikenal sebagai Kampung Melayu yang memiliki ciri khas rumah panggung, berdinding papan dan beratap genteng di Mentok.

Permukiman ini telah ada sejak ratusan tahun lalu, dan masih mempertahankan bahan serta arsitektur tradisionalnya.

Penggunaan atap genteng membuat suasana di dalam rumah terasa lebih sejuk ditambah dengan banyaknya jendela pada dinding rumah.

Keberadaan percetakan genteng pada masa lalu, menjadi alasan mengapa masyarakat setempat banyak menggunakan material tersebut untuk hunian mereka.

Ketua RW 07 Kampung Ulu, Mentok, Ahmad Repilianto, ditemui sedang menyapu halaman belakang rumahnya, menceritakan banyak hal terkait ciri khas rumah di Kampung Ulu yang masih menggunakan genteng.

Ia mengatakan, sebagian besar rumah di Kampung Ulu, Mentok, sudah berusia lebih dari 100 tahun.

“Sejak awal dibangun, rumah-rumah di sini memang menggunakan genteng. Karena alasan lebih adem, namun sekarang sebagian sudah diganti karena rusak,” ujar Okto sapaan akrab Ahmad Repilianto kepada Bangkapos.com, Rabu (11/2/2026) ditemui di kediamannya.

Dia menyebutkan, dulunya hampir seluruh rumah di Kampung Ulu beratap genteng. Tetapi seiring berjalanya waktu, banyak warga beralih menggunakan asbes atau seng.

“Sekarang ada yang pakai asbes karena gentengnya rusak dan karena faktor harga genteng sekarang sudah mahal,” katanya.

Meski begitu, katanya, masih ada rumah yang mempertahankan atap genteng, salah satunya rumah milik almarhum Parhan Ali, mantan Bupati Bangka Barat.

“Sekitar 40 persen atau hampir separuh warga di sini masih menggunakan genteng,” tambahnya.

Okto menambahkan, rumah-rumah tua di Kampung Ulu umumnya menggunakan genteng jenis genteng pepeh atau tipis yang sudah dipakai sejak lebih dari 100 tahun lalu. Dinding rumah kebanyakan terbuat dari papan kayu asal Kalimantan. 

Sementara genteng yang digunakan dulu merupakan produksi lokal, dicetak di daerah tersebut. Bahkan, dahulu pernah ada pabrik percetakan genteng di Desa Air Belo, namun kini sudah tidak lagi beroperasi.

"Jadi dulunya hampir semua rumah awalnya pakai genteng asli. Tapi sekarang banyak yang diganti karena kondisinya sudah rusak,” jelasnya.

Menurutnya, meski banyak warga beralih ke seng atau asbes, genteng tetap menjadi pilihan terbaik dari segi kenyamanan rumah.

Ia juga menyambut baik wacana program gentengisasi Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai membantu mempertahankan ciri khas rumah tradisional sekaligus membuat hunian lebih sejuk dan nyaman.

“Bagus, yang jelas, kalau pakai genteng itu paling adem,” tutupnya.

Genteng Sejak Abad ke-18

Pengamat sejarah Bangka sekaligus Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Bangka Barat, M Ferhad Irvan, menjelaskan, penggunaan genteng di wilayah Pulau Bangka, khususnya Mentok dan sekitarnya, sudah berlangsung sejak abad ke-18.

Menurutnya, genteng identik dengan bangunan permanen yang stabil, umumnya berdinding bata. Produksi awal genteng di Bangka diperkirakan sudah ada sejak masa Kesultanan Palembang.

Genteng pertama kali digunakan di pulau Bangka dan Bangka Barat, yaitu pada bangunan Gudang di Tempilang, Bunut, Biat, Bendul dan Rambat yang didirikan sekitar tahun 1769 -1770 atas perintah Tumenggung Dita Manggala di Mentok, ciri khas genteng ini adalah tipis dan disebut tipe genteng bambu.

"Jejak bangunan beratap genteng dapat ditemukan di sejumlah kawasan tua seperti Kota Panji di Belinyu, Tempilang, hingga Pangkal Rambat. Bangunan-bangunan tersebut umumnya menggunakan dinding beton tumbuk atau bata dan ditutup dengan atap genteng," kata Ferhad ditemui di tempat kerjanya, Selasa (10/2/2026).

Ia mengatakan, genteng pada masa awal memiliki ciri khas tipis, bahkan tidak setebal jari kelingking, dengan bentuk menyerupai bambu bertangkup. 

"Jenis ini dikenal sebagai genteng bambu. Saat ini sebagian masih ditemukan tertimbun di dalam tanah, meski banyak pula yang sudah rusak atau hilang karena bangunan aslinya roboh menjelang tahun 1800-an atau pada awal abad ke-19," lanjutnya.

Dikatakannaya, ketika Mentok menjadi pusat pemerintahan kolonial Inggris, bangunan  awal masih didominasi kayu. Namun tidak menutup kemungkinan penggunaan genteng sudah mulai dikenal, terutama dengan adanya peran para perajin Tionghoa. 

"Produksi genteng pada masa itu diduga berkembang di wilayah Ranggam, Belo Laut. Beberapa bangunan rumah di Mentok kala itu sudah menggunakan atap genteng," lanjutnya.

Kemudian, memasuki masa kolonial Belanda, penggunaan bata dan genteng semakin meluas. Sejumlah bangunan tua yang masih tersisa hingga kini, seperti Kantor Syahbandar Mentok dan bangunan cagar budaya di sekitar rumah dinas camat Mentok, menjadi bukti penggunaan genteng pada abad ke-19. 

"Catatan juga menyebutkan adanya warga kaya di Mentok yang memiliki pabrik bata sendiri di Ranggam," terangnya.

Dijelaskannya, bangunan bergaya Eropa dan Tionghoa umumnya menggunakan genteng, sedangkan rumah Melayu yang semula berdinding kayu dan beratap daun pun banyak yang beralih menggunakan atap genteng. 

"Di kawasan Kampung Ulu Mentok, misalnya, hampir seluruh rumah lama menggunakan genteng. Namun, penggunaan genteng lokal mulai meredup setelah memasuki era modern, terutama sejak 1990-an, masyarakat lebih banyak beralih menggunakan atap seng dan asbes karena harganya lebih murah dan pemasangannya lebih praktis," terangnya.

Genteng menjadi semakin jarang digunakan. Ia menilai, upaya menghidupkan kembali industri genteng lokal menghadapi banyak tantangan. 

Meski bahan baku tanah liat tersedia, keterampilan perajin sudah hampir hilang. Selain itu, proses pembakaran genteng pada masa lalu sangat bergantung pada kayu bakar, sementara saat ini ketersediaan kayu semakin terbatas. 

"Faktor energi dan biaya produksi juga membuat harga genteng menjadi kurang kompetitif dibanding bahan atap modern," tutupnya.

Karena itu, menurutnya perlu ada evaluasi kebijakan jika ingin menghidupkan kembali produksi genteng lokal di Pulau Bangka, baik dari sisi kearifan lokal, ketersediaan energi, maupun keberlanjutan industrinya.

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.