TRIBUN-TIMUR.COM - Muhammad Thohad Hasil menjalankan budidaya magot selama dua tahun terakhir sebagai upaya pengelolaan sampah organik di RW 004, Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Magot atau Hermetia illucens adalah larva lalat yang mampu mengurai sampah organik dengan cepat.
Pemanfaatannya efektif untuk mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan pupuk organik.
Thohad telah memulai budidaya ini sebelum menjabat Ketua RW.
Sejak resmi memimpin RW 004 pada akhir 2025, pengelolaannya dilakukan lebih terstruktur dan melibatkan warga.
Budidaya magot merupakan bagian dari program Urban Farming, salah satu prioritas Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang mendorong peran aktif RT dan RW dalam pengelolaan lingkungan serta pengurangan sampah dari sumbernya.
“Setelah jadi ketua RW, konsistensinya lebih meningkat,” kata Thohad saat ditemui di Jalan Cendrawasih, Makassar, Rabu (11/2/2026).
Di RW 004 terdapat sekitar 40 rumah.
Untuk mendukung pemilahan sampah dari sumbernya, Thohad menyiapkan ember kecil di setiap rumah, khusus untuk menampung sisa makanan rumah tangga.
Sampah yang terkumpul kemudian dipindahkan ke media budidaya magot berupa ember cat besar yang dimodifikasi, dengan kran di bagian bawah untuk menyalurkan cairan hasil penguraian.
Cairan tersebut merupakan pupuk organik yang Thohad gunakan untuk menyuburkan tanaman, termasuk tanaman obat keluarga yang ditanam di sepanjang lorong menuju rumahnya.
“Pupuknya sudah dipakai, sudah menumbuhkan tanaman obat,” ujarnya.
Siklus perkembangan magot berlangsung cepat.
Dalam sekitar dua hari, satu ember besar bisa terisi penuh.
Jika jumlah magot berlebih, sebagian digunakan sebagai pakan ayam ternak miliknya karena belum ada saluran pemasaran rutin.
“Kita berikan sebagai pakan ayam, karena belum tahu mau dijual ke mana,” jelasnya.
Selain budidaya magot, Thohad kini tengah merampungkan bank sampah untuk pengelolaan sampah anorganik.
“SK kelompoknya sudah terbentuk, sebentar lagi kita jalankan,” tambahnya.(*)