Saat Bupati Malinau Cerita Akuarium dan Ikan di Rapat Intimung, Sinyal Rotasi Jabatan
Cornel Dimas Satrio February 11, 2026 09:44 PM

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Di Ruang Tebengang kantor Bupati Malinau, Selasa (11/2/2026), puluhan pejabat teras duduk berjejer. ​Ada sekretaris daerah, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat se-Kabupaten Malinau, ASN lengkap hingga kepala desa.

​Rapat Intimung, sebutan rapat hari ini serupa high level meeting. Sebuah forum akbar ASN Malinau mengawali tahun yang biasanya berisi evaluasi kerja-kerja pemerintahan, menyambut lembar pembangunan baru.

​Biasanya, forum serupa diisi paparan data, laporan capaian, dan target kinerja.

​Apalagi Rapat Intimung 2026 memiliki makna khusus: tepat satu tahun periode kedua kepemimpinan Bupati Malinau, Wempi W Mawa dan Wakil Bupati, Jakaria sejak dilantik Februari 2025.

​Di tengah agenda yang sarat angka dan target itu, Wempi W Mawa justru memilih membuka sambutannya dengan sebuah cerita, alegori inovasi yang hilang.

​"Ada seorang ayah. Dia sangat hebat. Dia memiliki keterampilan membuat akuarium dengan seni dan keindahan yang menarik dibanding produk perajin lain. Tapi sayangnya, tiap tahun tidak ada pembelinya," ujar Wempi W Mawa memulai cerita.

​Ruangan hening.

​Sang ayah, kata dia, adalah perajin kaca terbaik. Dia tahu keunggulan dan kelemahan produknya.

​Tahun demi tahun memproduksi akuarium berkualitas tinggi, tapi tak laku.

​Hingga suatu hari dia bertukar pandangan dengan putranya, seorang yang selama ini tak diajak bicara soal usaha.

​"Cara-cara biasa yang ayah lakukan selama ini tidak memberi dampak terhadap hasil, kata si anak," lanjut Wempi mewakili dialog sang putra.

11022026 Rapat Intimung, Pemkab Malinau 01
​RAPAT INTIMUNG 2026 - Rapat Intimung 2026, sebuah rapat akbar Pemkab Malinau semua level pemerintahan, Rabu (11/2/2026).Bupati Malinau, Wempi W Mawa membuka Rapat Intimung dengan cerita tentang akuarium dan ikan, yang menekankan birokrasi jangan hanya sibuk membuat program tapi harus menciptakan kebutuhan nyata masyarakat.

Baca juga: ‎Tim Pansel Umumkan Seleksi Terbuka Direktur Utama Perumda Intimung Malinau, Berikut Jadwalnya 

​Usulannya sederhana, tapi di luar kebiasaan: beli ikan, lepaskan ke danau.

​Sang ayah bingung.

​"Untuk apa beli ikan? Kita tidak menjual ikan."

​Tapi anak itu tetap melepas ikan-ikan cantik ke danau yang ramai pengunjung.

Singkat cerita, orang-orang yang melihat berusaha menangkap ikan itu, lalu kebingungan harus menyimpannya di mana.

​Mereka memburu akuarium. 

Semua akuarium di kota habis terjual, bahkan dengan harga berlipat.

​"Bukan akuariumnya yang menjadi persoalan, tapi bagaimana ikan-ikan ini bisa selamat," kata Bupati mengutip pesan sang anak.

​Dia berhenti sejenak. Lalu menatap pejabat yang duduk rapi.

​"Jika kita sudah tahu bahwa apa yang kita kerjakan sebagai pimpinan dan tahu bahwa itu tidak pernah sampai pada target yang kita inginkan, maka ajaklah semua kekuatan yang ada di sekitar untuk mencari langkah-langkah apa yang bisa dilakukan," katanya.

​Dia mengajak birokrat memaknai alegori akuarium dan ikan sebagai masalah dan solusi.

​Ayah dan anak juga serupa dengan kepala dinas dan staf atau administrator dan fungsional.

​Selama ini, kata dia, birokrasi Malinau hanya sibuk 'memproduksi akuarium' membuat program, menyusun perencanaan, menuangkan anggaran, menyelesaikan administrasi.

​Tapi lupa menciptakan situasi di mana masyarakat benar-benar membutuhkan layanan. Autokritik adalah tanda pemerintahan masih ada harapan.

​Dia menyebut pola kerja yang monoton, OPD yang hanya bergerak jika diperintah, pejabat yang menunggu instruksi, perencanaan yang sekadar 'copy paste' dari tahun ke tahun.

Sinyal Rotasi Jabatan

​Forum evaluasi tersebut juga sekaligus sinyal bagi rencana rotasi pejabat eselon dua pada 18 Februari 2026 mendatang.

​Mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah melalui proses. 

Dan proses itu sedang berjalan: uji kompetensi pejabat akan segera digelar, manajemen talenta dimulai Februari ini.

​"Penempatan pejabat tidak sekadar syarat formal, tapi mampu bergerak bersama menjabarkan visi-misi," tegasnya.

​Bupati tidak hanya bercerita. Di sela-sela paparan, dia mencontohkan inovasi yang ingin dilihat masyarakat hasilnya.

​MBG yang berjalan di tiga dapur Malinau harus menjadi lokomotif ekonomi lokal, semua telur, ikan, sayur, dan buah yang masuk harus produksi Malinau.

​Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan ditantang: studi banding selama ini hasilnya mana?

​Rapat Intimung tahun ini berlangsung lebih dari tiga jam. Bupati sendiri berbicara hampir dua jam, yang menurutnya setengah dari durasi pidato Presiden RI pada Rakornas 2026 yang berdurasi empat setengah jam.

​Di akhir sambutan, dia kembali ke cerita akuarium.

​"Kenapa saya cerita ini? Karena kita terlalu lama menjadi ayah yang hanya bangga dengan produknya, tapi lupa melepas ikan ke danau. Kita punya SDM, punya anggaran, punya fasilitas. Tapi kalau caranya masih biasa-biasa, percayalah, apa yang mau dihasilkan tidak akan pernah terwujud," ungkapnya.

​(*)

​Penulis: Mohammad Supri

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.