TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf memilih mundur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Dia sebelumnya merupakan Ketua DPW PKB Jateng. Jabatan itu, diemban Gus Yusuf sejak 2013.
Alasan mundurnya Gus Yusuf karena ingin mencurahkan waktu dan tenaganya untuk pesantren.
Mundurnya tokoh PKB Jateng tersebut ditanggapi secara beragam oleh para DPC PKB di masing-masing kabupaten/kota.
Mereka menilai, mundurnya Gus Yusuf dari PKB harus menjadi sinyal bagi partai untuk tidak berleha-leha.
Baca juga: Sosok Gus Yusuf, Mundur dari PKB agar Fokus Urus Pendidikan
• Kisah Bu Nini Guru Honorer Hidupi 4 Anak, Nyambi Jual Pastel di Sekolah: Hidup Harus Berjalan
• "Pak, Sudah Stop" Tangis Nurgiyanti Saksikan Perampok Bekap Anak Gunakan Bantal di Banyumas
"Gus Yusuf merupakan figur karismatik yang selama ini memimpin PKB Jateng hingga bisa mencapai parpol nomor dua dengan suara terbanyak pada Pemilu 2024."
"Ini tantangan baru bagi pengurus DPW baru untuk lebih cerdas dalam berjuang," ujar Ketua DPC PKB Kabupaten Pekalongan, Asip Kholbihi, Rabu (11/2/2026).
Dia meyakini, meskipun Gus Yusuf secara struktural tidak di partai, tetapi secara kultural masih tetap mendukung PKB.
Namun mundurnya Gus Yusuf menjadi tantangan internal partai.
Tantangan itu ditambah dari eksternal berupa munculnya partai baru dan partai-partai penguasa yang memiliki sumber daya mumpuni.
Sementara PKB selama ini hanya mengandalkan kekuatan sosial kapital, bukan ekonomi kapital.
"PKB Jateng sekarang tidak bisa adem ayem, ibarat kendaraan sekarang kecepatan harus 120 (ngebut), tidak bisa seperti kemarin santai-santai karena ada figur sentral (Gus Yusuf)," bebernya.
Dia menilai, PKB saat ini harus bekerja lebih mengutamakan kerja tim dengan mengutamakan kekuatan struktur organisasi.
Dia menyebut, PKB tidak boleh tergantung pada kader melainkan membuka fungsi partai sebagai alat transformasi sosial.
Artinya, partai bisa menjadi kepanjangan tangan masyarakat.
Semisal langkah ini terwujud, maka dengan sendirinya muncul pengikut atau konstituen baru partai.
"Ya kalau PKB tetap adem-adem saja hanya mengandalkan basis kultural tentu akan menghadapi tantangan berat. Terlebih sistem kepartaian PKB sebagian masih menganut sistem patronase," ungkapnya.
Patronase yang kentara di PKB Jateng adalah sosok Gus Yusuf.
Asip menilai, ketika sosok Gus Yusuf tidak lagi di PKB maka berpotensi menggerus suara pemilih PKB.
"Maka ini menjadi cambuk bagi pengurus baru untuk lebih meningkatkan kinerjanya," terangnya.
Baca juga: Gus Yusuf Terima Penghargaan Tokoh Pamomong
• Kecelakaan Tragis Pemotor Tertabrak KA Singasari, Melintas Sembari Telepon, Terseret 30 Meter
• 6 Terdakwa Kasus Korupsi BPR Bank Pasar Rp5,2 Miliar Dilimpahkan ke PN Tipikor Semarang
Asip meyakini, PKB di bawah ketua yang baru Sarif Abdillah bisa mempertahankan capaian partai saat ini, bahkan bisa meningkatkan.
Dia meminta kepada DPW untuk segera melakukan konsolidasi internal terutama melakukan silaturahmi kepada pengurus pondok pesantren yang selama ini sudah sangat baik di orkestrasi oleh Gus Yusuf.
Basis pesantren, lanjut Asip, menjadi ladang penting bagi parpol. Menurutnya, ladang ini jangan sampai digarap partai lain. Sebab, dia khawatir ketua DPW sekarang tidak seluwes Gus Yusuf karena berlatar politisi karir.
"PKB harus merawat betul para kiai dan santri di samping intervensi ke basis lain. Langkah ini Hubungan ini harus dibangun secara longterm (jangka panjang). Tidak bisa pendek-pendek dalam waktu singkat," tuturnya.
Dihubungi terpisah, Ketua DPC PKB Kabupaten Demak Zayinul Fata mengatakan, Gus Yusuf selama memimpin PKB sangat keras kepada para kader terutama dalam meminta kader untuk berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama.
"Beliau bagus sekali dalam memimpin PKB Jateng. Bagi kami, mungkin beliau satu-satunya ketua wilayah yang mewajibkan seluruh politisi PKB di Jawa Tengah agar khidmah kepada Nahdlatul Ulama," ungkapnya.
Menurut Yazin, Gus Yusuf yang meninggalkan PKB tetap akan melanjutkan pengabdiannya yang lagi-lagi dicurahkan untuk NU.
Jauh sebelum masuk ke partai politik, Gus Yusuf sudah mengabdi untuk NU, hal yang sama akak dilakukan selepas dia meninggalkannya.
"Gus Yusuf meninggalkan partai memang dalam rangka untuk menuju ke sana (NU)," paparnya. (*)