NU di Abad Kedua: Tantangan Digital, Politik, hingga Kemandirian Ekonomi Umat
Budi Sam Law Malau February 12, 2026 01:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan era sebelumnya.

Jika pada abad pertama NU berhasil meneguhkan diri sebagai penjaga tradisi Islam Nusantara berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), kini organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dituntut beradaptasi dengan disrupsi teknologi, dinamika politik, serta perubahan sosial global.

Kiai Imam Jazuli menilai NU berada di persimpangan antara menjaga tradisi dan melakukan transformasi.

Baca juga: Tekad Baja Prabowo Di Hadapan NU, Tegaskan Tak Akan Mundur Setapak Pun Untuk Berantas Korupsi

“NU tidak boleh terjebak romantisme masa lalu. Tradisi tetap dijaga, tetapi visi, strategi, dan cara kerja harus diperbarui agar benar-benar hadir sebagai pelayan umat di abad modern,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).

Salah satu isu krusial yang disorot adalah relasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebagai partai yang lahir dari rahim NU, PKB dinilai seharusnya menjadi instrumen perjuangan aspirasi nahdliyin.

Namun, hubungan keduanya kerap diwarnai konflik elite dan tarik-menarik kepentingan, terutama menjelang Pemilu 2024.

Menurut Imam Jazuli, NU perlu tetap menjadi pengawal moral politik tanpa bersikap antipati terhadap PKB sebagai saluran aspirasi warga NU.

Kebutuhan “Ulama Digital”

Di era kecerdasan buatan dan media sosial, dakwah konvensional dinilai tak lagi cukup.

Konten moderat sering kalah cepat dibanding narasi ekstrem di ruang digital.

Karena itu, NU didorong melahirkan “Ulama Digital” — figur yang kuat dalam sanad keilmuan sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Transformasi dakwah digital, penguatan literasi siber, serta produksi konten Aswaja yang menarik bagi generasi muda menjadi kebutuhan mendesak.

Baca juga: Sulis Raih Inspiring Moslem Women 2026, Dorong Peran Perempuan Fatayat NU

NU juga didorong memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui revitalisasi kurikulum pesantren dan LP Ma’arif.

Integrasi ilmu agama dengan literasi digital, STEM, dan kewirausahaan dinilai penting untuk mencetak nahdliyin yang berdaya saing global.

Selain pendidikan, isu kesehatan dan ekonomi umat menjadi perhatian.

Pembangunan klinik NU di tiap kecamatan serta penguatan pengawalan program BPJS bagi warga miskin disebut sebagai langkah konkret.

Di sektor ekonomi, digitalisasi UMKM jamaah dinilai krusial agar NU tidak tertinggal dalam arus modernisasi.

Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban Harus Membumi

Gagasan Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban, menurutnya, tidak cukup berhenti pada wacana intelektual.

Konsep tersebut harus diterjemahkan ke dalam program nyata yang menyentuh kebutuhan riil warga di akar rumput.

Prinsip al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah — menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik — dinilai menjadi kunci keberlanjutan NU.

“Abad kedua adalah ujian bagi NU untuk tetap menjadi pelayan umat dan teladan moral, tanpa kehilangan jati diri serta tetap menjaga independensi dalam relasi politik kekuasaan,” tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.