Mohammad Saleh: Peralihan LPG ke DME Perlu Sosialisasi Masif
raka f pujangga February 12, 2026 01:54 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemerintah berencana mengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) dengan Dimethyl Ether (DME) untuk keperluan sehari-sehari.

Langkah ini diambil selain untuk menekan impor LPG, juga mempertimbangkan dampak lingkungan. 

Mengingat DME dinilai mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20 persen. 

Baca juga: Jelang Puasa, DPRD Jateng Wanti-wanti Maraknya LPG 3 Kg Oplosan

Proses penggantian dari LPG ke DME ini akan dimulai tahun ini.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh pun mengingatkan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat terhadap pergantian itu. 

Pasalnya, selama ini masyarakat sudah terbiasa menggunakan LPG untuk keperluan sehari-hari, khususnya memasak.

"Sosialisasi kepada masyarakat sangat dibutuhkan karena terjadi perubahan kebiasaan. Seperti sebelumnya ketika LPG hadir menghapus penggunaan minyak tanah," ujar Mohammad Saleh.

Dengan sosialisasi, lanjut politisi dari Partai Golkar itu, masyarakat bisa mendapatkan manfaat informasi yang jelas tentang perbedaan LPG dan DME. 

Hal itu akan membuat mereka merasa aman dan tenang ketika menggunakannya.

"Jadi, ketika program pemerintah itu dijalankan, masyarakat sudah lebih siap menghadapi dan menerima kebijakan energi baru itu serta beradaptasi," ujar Mohammad Saleh.

Seperti diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa konsumsi LPG nasional lebih banyak dibandingkan produksi. 

Saat ini konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 10 juta ton metrik ton (MT) per tahun. Namun, produksi LPG dalam negeri baru sekitar 1,6 juta MT ton. 

Itu artinya Indonesia harus impor 8,4 juta MT ton untuk menuhi kebutuhan dalam negeri sehingga pengeluaran devisa negara cukup besar. 

Untuk mengurangi impor LPG, maka pemerintah mengoptimalkan hilirisasi batu bara dengan memproduksi DME.

DME yang berasal batu bara kalori rendah dinilai bersifat ramah lingkungan, tidak merusak ozon, dan bisa menggunakan infrastruktur tabung LPG eksisting. 

"Selain sosialisasi secara masif, untuk menarik perhatian masyarakat agar mau berpindah dari LPG ke DME, maka harga DME diupayakan harus lebih murah dari LPG," ungkap Mohammad Saleh.

Mengutip situs Kementerian ESDM, karakteristik DME memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG.

Lantaran mirip, DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang, seperti tabung, storage dan handling eksisting. 

Campuran DME sebesar 20?n LPG 80?pat digunakan kompor gas eksisting.

Baca juga: Modus Mafia LPG yang Dibongkar Polda Jateng, Sebabkan Kelangkaan, Rugikan Negara Miliaran Rupiah

DME memiliki kandungan panas (calorific value) sebesar 7.749 Kcal/Kg, sementara kandungan panas LPG senilai 12.076 Kcal/Kg.

Kendati begitu, DME memiliki massa jenis yang lebih tinggi sehingga kalau dalam perbandingan kalori antara DME dengan LPG sekitar 1 berbanding 1,6.

Di samping itu, kualitas nyala api yang dihasilkan DME lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikulat matter (pm) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.