PBTY XXI 2026: Harmoni Akulturasi Budaya Tionghoa di Tengah Bulan Suci Ramadan
Yoseph Hary W February 12, 2026 02:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Ada fenomena berbeda dari rangkaian penyelenggaraan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI tahun 2026 ini. 

Event tahunan yang masuk dalam Calendar of Event DIY tersebut bakal hadir dengan suasana penuh toleransi karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 H.  

PBTY mulai 25 Februari - 3 Maret 2026

​Mengusung tema "Warisan Budaya Kekuatan Bangsa", PBTY 2026 digulirkan selama tujuh hari, mulai 25 Februari - 3 Maret 2026 di kawasan Pecinan Ketandan dan Jalan Suryatmajan.  

​Wakil Ketua Pelaksana PBTY XXI, Subekti Saputro Wijaya, mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan konsep khusus untuk menghormati masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa. 

Alih-alih dimulai pada malam hari, acara justru dibuka lebih awal untuk memfasilitasi ngabuburit, atau kegiatan menunggu berbuka yang begitu populer.

Panggung ngabuburit untuk umat Muslim

​"Kami sajikan panggung untuk ngabuburit teman-teman umat Muslim. Ada Ngabuburit Sehat dengan Taichi, Zumba, hingga Dongeng Anak dan NgabubuRun," ujarnya, Rabu (11/2/26).

​Konsep inklusif dihadirkan untuk menunjukkan identitas Yogyakarta sebagai City of Tolerance, di mana publik dapat menunggu waktu berbuka dalam suasana hangat di tengah kawasan Pecinan.  

​Mengenai festival kuliner yang selalu menjadi primadona pengunjung, panitia menyediakan total 172 slot stand di sepanjang Jalan Ketandan dan Suryatmajan. 

Pisahkan zona halal non halal

Untuk menjaga kenyamanan masyarakat di bulan Ramadan, aturan zonasi pun diperketat, dengan memisahkan area halal dan non-halal secara tegas. 

Stand zona halal dihimbau mulai berjualan pukul 17.00 WIB untuk keperluan berbuka puasa, sementara zona non-halal baru diperbolehkan buka setelahnya.

"Dari 300 pendaftar, hanya 172 stand yang terpilih melalui proses kurasi demi menjaga kualitas sajian. Masyarakat bisa berburu menu taljil. Antara kuliner halal dan non-halal kami berikan penanda," ungkapnya.

Selain itu, jika tahun-tahun sebelumnya PBTY bergulir di area parkir eks-UPN, tahun ini panggung utama bergeser ke Jalan Suryatmajan, di kawasan pertigaan Ketandan - Melia Purosani.  

Menariknya, panggung utama pun didesain dengan teknologi yang bisa dinaik-turunkan agar tidak mengganggu arus lalu lintas di pagi hingga siang hari. 

"Kita sudah audiensi dengan Gubernur DIY, Ngarsa Dalem mengizinkan kita pakai Jalan Suryatmajan sebagai panggung utamanya, di tengah jalan menghadap ke Malioboro," ucapnya.

​"Terus, panggung utama itu bisa diangkat ke atas. Jadi kalau mau kita gunakan baru panggungnya turun ke bawah. Kita hanya turunkan waktu mau kegiatan," tambah Subekti. 

Pameran seni dan budaya

Sepanjang tujuh hari pelaksanaan, pengunjung dapat menjelajahi pameran seni dan budaya mengangkat sejarah Pandu Tionghoa dan Wayang Cina Jawa di Rumah Budaya Ketandan. 

Lalu, panggung utama akan dimeriahkan dengan pentas seni harian, sementara pertunjukan Wayang Po Tay Hee akan menemani pengunjung di Teras Ketandan setiap pukul 19.00 hingga 22.00 WIB. 

Tidak ketinggalan, atraksi Liong dan Naga Barongsai siap tampil memukau penonton yang menyambangi Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta setiap harinya. 

Puncak kemeriahan yang paling dinanti, Malioboro Imlek Carnival atau Karnaval Budaya, dijadwalkan berlangsung hari Sabtu, 28 Februari 2026, sepanjang pukul 20.00 - 22.30 WIB dengan rute mulai dari Gedung DPRD DIY hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.