Menguak Penyebab Ratusan Siswa di Sidikalang Keracunan Usai Santap MBG, Pemeriksaan Labkesda Sumut
Salomo Tarigan February 12, 2026 07:27 AM

 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Apa penyebab keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) hingga ratusan siswa SMK HKBP Sidikalang, Dairi yang menyantapnya, harus dirawat di rumah sakit?

Saat ini, Dinas Kesehatan Sumut melakukan pemeriksaan terhadap sampel MBG tersebut.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut Hamid Rijal Lubis mengatakan, sampel Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga membuat seratusan Siswa SMK di HKBP Sidikalang, Dairi baru diterima Rabu (11/2/2026). 

Hamid menerangkan, sampel MBG yang diterimanya yakni seluruh menu makanan yang dimakan siswa SMK HKBP Sidikalang pada hari Senin lalu. 

Menurutnya,saat ini masih dalam pemeriksaan Labkesda Sumut.

Dan hasilnya akan keluar setelah 3-4 hari ke depan.

"Sampel makanan yang diduga membuat siswa SMK HKBP Sidikalang keracunan itu baru kami terima hari ini. Dan sedang dalam tahap pemeriksaan di Labkesda Sumut," jelasnya kepada Tribun Medan, Rabu (11/2/2026).

Dikatakannya, ia belum bisa memastikan atau melakukan dugaan awal penyebab seratusan siswa tersebut keracunan MBG.

"Belum bisa kita menduga karena memang seluruh sampel pada menu makanan di hari itu seperti ayam gulai, sayur dan lain-lain masih dalam pemeriksaan. Hasilnya akan keluar 3-4 hari ke depan," jelasnya. 

Diketahui,Sebanyak 154 siswa Sekolah Menengah Kejuruan HKBP Sidikalang, Kabupaten Dairi Sumatera Utara diduga keracunan Makanan Bergizi Gratis viral di Sosial Media.

Dari sejumlah foto yang beredar di sosial media, terlihat seratusan siswa itu sedang dirawat dan diinfus di rumah sakit.    

Menanggapi itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sumut T Agung Kurniawan membenarkan adanya seratusan siswa yang sedang dirawat di rumah sakit. 

"Jadi gini yang harus disampaikan ada beberapa poin, yang pertama itu benar terjadi hal itu (siswa masuk rumah sakit) tetapi belum bisa dikatakan disebabkan kontaminasi pangan," jelasnya Kepada Tribun Medan,Selasa (10/2/2026).

Hal itu dikarenakan, siswa tersebut memakan nasi MBG pukul 10.00-1100 WIB. Sementara banyak anak-anak mulai mengeluh sakit pada malam hingga hari ini. 

"Kejadiannya itu pada Senin (9/2/2026) kemarin. Jadi pagi ke siang hari itu makan nasi MBG. Tapi siswa mulai kesakitan itu di malam hari. Kemudian, puncaknya pagi hari ini," jelasnya. 

Untuk itu,ia belum bisa memastikan apakah itu penyebab penyakitnya dari MBG atau seperti apa.

"Sejauh ini juga hasil lab nya belum keluar. Karena sampel makanan sudah dibawa ke Labkesda Sumut Medan," katanya.
Meski begitu, kata 

 Dijelaskannya, lauk pada hari itu, ada ayam gulai, tahu goreng,selada, timun dan nasi putih. Sementara berdasarkan medisnya, apabila ada kontaminasi makanan itu terjadi 3-4 jam setelah makan.

"Meski begitu, kami turut prihatin dan tetap jadi fokus Tim BGN Sumut untuk kesana besok. Kami minta maaf, apabila itu kejadian benar dari kami," jelasnya.

Saat ini, lanjutnya seratusan siswa tersebut masih dirawat di rumah sakit. Sementara Dapur MBG telah ditutup total.

"Kami masih nunggu hasil pemeriksaan sampel makanan. Dan siswa juga masih sedang dalam perawatan semua. Sementara dapurnya per besok mulai ditutup," jelasnya.

Keracunan MBG Puluhan Siswa SMP Negeri 1 Laguboti

Sebelumnya, puluhan siswa di SMP Negeri 1 Laguboti juga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (15/10/2025).

Sejumlah anak dirawat di RS HKBP Balige. 

Siswa mengaku mulai merasakan gejalanya setelah jam pulang sekolah.

Tak hanya pelajar, relawan SPPG tersebut juga mengalami hal sama sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di RS HKBP Balige.

17 orang dirawat di RSU HKBP Balige, terdiri dari 16 siswa dan 1 relawan SPPG, sementara 30 orang lainnya dirawat di RSUD Porsea. 

Keracunan MBG di Purworejo

Pada awal Oktober 2025, terjadi dugaan keracunan massal yang melibatkan lebih dari 100 siswa SMP Negeri 8 dan SMA Negeri 3 Purworejo, Jawa Tengah, setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Total korban diduga mencapai lebih dari 110-127 orang, termasuk siswa dan guru, dengan gejala mual, muntah, diare, pusing, dan lemas.

KERACUNAN - Para korban keracunan MBG sedang menjalani Perawatan di Puskesmas Bubutan Purworejo pada Jumat (3/10/2025) Para korban keracunan sedang menjalani Perawatan di Puskesmas Bubutan Purworejo pada Jumat (3/10/2025)
KERACUNAN - Para korban keracunan MBG sedang menjalani Perawatan di Puskesmas Bubutan Purworejo pada Jumat (3/10/2025) Para korban keracunan sedang menjalani Perawatan di Puskesmas Bubutan Purworejo. (KOMPAS.COM/BAYU APRILIANO)

Kasus Serupa di SMA Negeri 2 Kudus

Kasus keracunan diduga akibat menu MBG bukanlah yang pertama terjadi.

Sebelumnya, ratusan siswa dan guru di SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, mengalami gejala keracunan setelah menyantap ayam suwir kuah soto pada Rabu, 28 Januari 2026.

Hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengungkap adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E-Coli) pada kuah soto dan sambal yang disajikan.

Temuan ini menjadi dasar evaluasi dan perbaikan program MBG di daerah tersebut.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan bahwa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari yang mengolah makanan tersebut belum memenuhi standar kelayakan, sanitasi, dan higiene pangan.

"Kejadian ini harus menjadi pembelajaran bagi seluruh penyelenggara MBG agar standar kebersihan dan keamanan pangan tidak ditawar," tegas Nanik.

Investigasi Seluruh Dapur

Menanggapi kejadian-kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan investigasi menyeluruh terhadap dapur-dapur penyedia MBG dan memperkuat pengawasan serta pendampingan teknis.

Penegakan standar operasional prosedur (SOP) menjadi fokus utama untuk memastikan program MBG berjalan aman dan berkualitas.

Minta Maaf

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang menimpa para penerima manfaat MBG dan berjanji akan melakukan perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.

Atas kejadian itu Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan permintaan maaf.

BGN telah melakukan investigasi dan analisis terhadap beberapa SPPG yang terlibat dalam kejadian tersebut. 

Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan adanya pelanggaran prosedur yang dinilai cukup berat.

"Saya sebagai kepala Badan Gizi Nasional meminta maaf kepada para penerima manfaat yang mengalami kejadian yang kurang menyenangkan," kata Dadan dikutip dari Tribunnews.com.

 (Cr5/tribun-medan.com/tribunnews)

(Cr5/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.