TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Simak sejumlah informasi menarik seputar Kota Padang dirangkum dalam populer Padang setelah tayang 24 jM terakhir di TribunPadang.com.
Pertama, publik figur, Deddy Corbuzier, mengunjungi lokasi terdampak bencana di Kampung Talang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (11/2/2026).
wartawan TribunPadang.com, Muhammad Iqbal, menyaksikan Deddy Corbuzier datang dengan mengenakan syal cokelat serta topi baret dan baju kaos abu-abu.
Kedua, ratusan pedagang Pasar Raya Padang kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan Rumah Dinas Wali Kota Padang, Rabu (11/2/2026) siang.
Aksi tersebut merupakan lanjutan protes atas kebijakan relokasi pedagang ke Pasar Raya Fase VII yang dinilai berdampak pada menurunnya pendapatan mereka.
Ketiga, Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang menurunkan tim untuk melakukan operasi SAR menyusul terjadinya banjir di sejumlah titik di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (11/2/2026) malam.
Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, melalui keterangan resminya menyampaikan bahwa informasi awal diterima pada pukul 20.48 WIB dari seorang warga bernama Feri.
Simak selengkapnya berikut ini:
Publik figur, Deddy Corbuzier, mengunjungi lokasi terdampak bencana di Kampung Talang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (11/2/2026).
Wartawan TribunPadang.com, Muhammad Iqbal, menyaksikan Deddy Corbuzier datang dengan mengenakan syal cokelat serta topi baret dan baju kaos abu-abu.
Kunjungan Deddy Corbuzier itu dalam rangka melihat pembangunan hunian tetap (huntap), dan Surau Buluh Talang yang dibangun di atas tanah kaum di Kapalo Koto.
Kedatangan Deddy Corbuzier disambut antusias oleh masyarakat sekitar. Terlihat ia juga menyapa dan menyalami korban terdampak bencana.
Baca juga: Luka Batin Penyintas Banjir Padang, Murni Trauma Lihat Mendung dan Tidur Tak Lagi Nyenyak
Sekitar pukul 14.01 WIB, Deddy Corbuzier terlihat datang bersama Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari.
Saat datang, ia langsung diarahkan oleh Koordinator Lapangan Pembangunan Huntap, Dasrul, untuk melihat peta pembangunan di daerah tersebut.
Bahkan Feri juga menjelaskan terkait pembangunan huntap yang dibangun di atas tanah kaum Suku Tanjung.
Usai melihat peta pembangunan, Deddy bersama Feri Amsari langsung menuju pembangunan Surau Buluh Talang.
Baca juga: Progres Pembangunan Huntap Kapalo Koto Padang: Tujuh Pondasi Selesai, Tiga Unit Masih Dikebut
Lokasinya sendiri sangat berdekatan, kira-kira beberapa meter dari pembangunan huntap, namun masih satu kawasan.
Di saat melihat pembangunan surau itu yang nantinya menggunakan bambu, Feri menyampaikan kepada Deddy sebuah peribahasa "Bagai aur dengan tebing".
Artinya, hubungan yang sangat erat, akrab, dan saling tolong-menolong atau saling melengkapi satu sama lain.
Ibarat tanaman aur (bambu) yang tumbuh di tebing, keduanya tidak bisa dipisahkan.
Karena aur menahan tebing dari erosi, sementara tebing menopang aur untuk tumbuh.
Baca juga: Hidup Berkelana: Murni Menghalau Bayang Banjir Menjelang Bulan Suci di Huntara Padang
"Ini menurut saya inovasi ya, Tuhan memberikan kita sumber kekayaan yang luar biasa, tinggal kita jangan serakah," ungkapnya saat berbincang satu sama lain.
Bahkan kata Deddy, inovasi tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lainnya yang juga terdampak bencana atau melakukan pembangunan.
Sebab, melihat pembangunan tersebut dimulai dari huntara, dilanjutkan hunian sehat dan layak (hunsela) hingga huntap di atas tanah kaum.
"Ini bisa jadi contoh terkait pembangunan di atas tanah kaum bagi daerah lainnya," sebutnya.
Setelah itu, Deddy dan lainnya menuju ke arah tenda berwarna putih di tengah kawasan pembangunan huntap.
Di perjalanan, ia sesekali meladeni foto dengan masyarakat. Hingga akhirnya berbincang dengan pihak terkait dan meninggalkan huntap sekira pukul 14.39 WIB.
Ratusan pedagang Pasar Raya Padang kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan Rumah Dinas Wali Kota Padang, Rabu (11/2/2026) siang.
Aksi tersebut merupakan lanjutan protes atas kebijakan relokasi pedagang ke Pasar Raya Fase VII yang dinilai berdampak pada menurunnya pendapatan mereka.
Aksi dimulai dengan long march dari kawasan Pasar Raya kemudian dilanjutkan ke rumah dinas Wali Kota.
Sampai di rumah dinas, para pedagang kembali menyampaikan keluhan yang dirasakannya.
Baca juga: DPRD Padang Dorong Dialog Relokasi Pasar Raya, Harap Ada Solusi Konkret bagi Pedagang
Bahkan pedagang juga membawa sejumlah dagangannya yang mulai rusak karena kunjung tak terjual.
Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Sumatera Barat, Muhammad Yani, mengatakan para pedagang kaki lima (PKL) menyayangkan sikap Wali Kota Padang yang tidak menemui massa aksi untuk mendengarkan langsung aspirasi mereka.
“Kami tidak mengetahui apa alasan Wali Kota tidak menemui pedagang. Atau mungkin kami dianggap bukan warga Kota Padang,” kata Yani.
Menurutnya, pada aksi sebelumnya para pedagang telah melakukan pertemuan yang diwakili oleh Sekretaris Daerah.
Baca juga: Pedagang Ungkap Sosok Tuan Takur Pasar Raya Padang, Oknum Dinas Perdagangan Diduga Ikut Main
Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan solusi atas tuntutan pedagang.
Pada aksi kedua ini, mereka kembali tidak dapat bertemu langsung dengan Wali Kota.
Yani menyebutkan, pihaknya mendapat informasi bahwa Wali Kota menghadiri pembukaan MTQ di Kecamatan Padang Barat. Sementara lokasi rumah dinas juga berada di kawasan yang sama.
“Kami mendapat informasi beliau menghadiri pembukaan MTQ di Padang Barat. Rumah dinas juga di Padang Barat, tidak sampai lima menit untuk hadir menemui masyarakat. Namun sampai hari ini beliau tidak hadir,” ujarnya.
Para pedagang meminta agar relokasi pedagang selasar ke basement Fase VII ditunda sementara waktu, terutama menjelang bulan Ramadan.
Baca juga: Pemko Padang Tegaskan Relokasi Pedagang Pasar Raya Final, Tak Ada Pengecualian Ramadan
Mereka berharap setelah Lebaran nanti, para pedagang dapat kembali beraktivitas seperti semula.
“Kami mengharapkan tuntutan kami digubris. Kami juga meminta agar pedagang diizinkan berdagang mulai pukul 17.00 WIB, karena pada sore hingga malam hari itulah ada sedikit aktivitas jual beli,” tuturnya.
Selain itu, pedagang berencana melanjutkan aksi dengan menggelar long march pada momentum Car Free Day (CFD) di Kota Padang.
Rencananya, massa akan berjalan kaki menuju kawasan GOR H Agus Salim agar masyarakat mengetahui persoalan yang mereka hadapi.
“Agar masyarakat Kota Padang tahu permasalahan di Pasar Raya. Kami juga berencana pada hari Senin meminta jadwal ke DPRD Kota Padang untuk hearing dan meminta anggota DPRD memanggil Wali Kota agar bisa hadir dalam pertemuan tersebut,” tutup Yani.
Pemerintah Kota (Pemko) Padang menegaskan kebijakan relokasi pedagang Pasar Raya Padang tidak dapat dikembalikan seperti kondisi sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan menanggapi aksi unjuk rasa ratusan pedagang yang menyampaikan keberatan atas pemindahan lokasi berjualan, Senin (9/2/2026).
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa, mengatakan Pemko Padang sejak awal telah melakukan sosialisasi kepada para pedagang terkait konsep revitalisasi dan digitalisasi Pasar Raya.
“Kita sudah dari awal menyosialisasikan seperti apa konsep digitalisasi pasar. Pak Wali Kota juga sudah menjelaskan prinsip memindahkan pedagang ke lokasi yang lebih baik,” kata Raju Minropa kepada wartawan.
Baca juga: Pendapatan Merosot, Pedagang Pasar Raya Usul Jualan Sore hingga Malam di Luar Bangunan
Ia menegaskan, Pemko Padang terbuka terhadap masukan pedagang terkait kekurangan fasilitas di lokasi relokasi. Namun, permintaan untuk kembali berjualan seperti kondisi lama tidak dapat dipenuhi.
“Kalau ada kekurangan-kekurangan, itu yang mau kita perbaiki. Tapi kalau masih mengajukan permohonan tetap seperti dulunya, itu tidak bisa, tidak mungkin,” tegasnya.
Raju menyebutkan, proses sosialisasi relokasi bukan baru dilakukan saat ini, melainkan sudah berlangsung cukup lama melalui Dinas Perdagangan Kota Padang.
“Ini bukan hari ini saja. Sudah satu bulan kita sosialisasikan, kita siapkan tempat dengan konsep yang lebih baik sesuai arahan Pak Wali Kota dan Pak Wakil Wali Kota,” ujarnya.
Baca juga: Relokasi Dinilai Asal-asalan, Pedagang Selasar Pasar Raya Padang Minta Penataan Ulang
Menurutnya, seluruh masukan pedagang terkait kondisi lokasi relokasi, termasuk akses kendaraan dan kenyamanan pembeli, menjadi catatan penting bagi Pemko Padang untuk dilakukan pembenahan ke depan.
“Apapun yang disampaikan pedagang tentang perbaikan tempat yang sudah kita sediakan, itu menjadi catatan penting bagi kita. Artinya ke depan tidak kita diamkan, akan kita benahi,” katanya.
Ia juga menegaskan konsep utama revitalisasi Pasar Raya tetap mengacu pada aktivitas jual beli yang tertib dan sesuai aturan. Pemko Padang menetapkan jam operasional pedagang dimulai pada pukul 15.00 WIB.
“Konsepnya di ujungnya adalah jual beli. Yang boleh buka mulai jam 15.00 WIB,” jelasnya.
Terkait permintaan pedagang untuk kembali berjualan di lokasi lama, termasuk selama bulan Ramadan, Raju menegaskan hal tersebut tidak dapat dikabulkan.
Baca juga: Pedagang Pasar Raya Padang Tolak Pindah ke Basement: Di Sana Sudah Ada Orang, Kami Tak Mau Bentrok
“Untuk kembali berdagang seperti sebelumnya atau di lokasi lama, tentu tidak. Walaupun hanya untuk bulan Ramadan,” tegasnya.
Sementara itu, mengenai persoalan praktik-praktik di pasar yang dinilai melanggar aturan, Pemko Padang memastikan akan menindaklanjutinya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Kita selesaikan sesuai aturan, baik ranah administrasi maupun pidana. Tentu kita tidak akan keluar dari aturan,” pungkas Raju.
Pemko Padang menegaskan tetap membuka ruang dialog dengan pedagang selama masukan yang disampaikan berada dalam kerangka evaluasi dan penyempurnaan konsep revitalisasi Pasar Raya Padang.
Ratusan pedagang Pasar Raya Padang menggelar aksi unjuk rasa di depan Rumah Dinas Wali Kota Padang, Senin (9/2/2026).
Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap kebijakan relokasi pedagang yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemko) Padang beberapa waktu lalu.
Para pedagang menyampaikan keberatan atas pemindahan lokasi berjualan ke area basement Pasar Raya Fase VII.
Mereka menilai lokasi relokasi tersebut tidak mendukung aktivitas jual beli karena minimnya pengunjung, sehingga berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang.
Baca juga: Breaking News: Pedagang Pasar Raya Padang Geruduk Rumah Dinas Wali Kota, Tolak Relokasi
Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Sumatera Barat, Muhammad Yani, mengatakan para pedagang pada dasarnya bersedia mengikuti kebijakan pemerintah, asalkan tetap diberi ruang untuk bertahan hidup.
“Izinkan kami berdagang setelah jam 5 sore sampai malam. Kami kawan-kawan pedagang sebenarnya bersedia pindah ke dalam bangunan, tetapi karena tidak ada kehidupan di sana, tidak ada akses jual beli, maka berilah kami kehidupan dari jam 5 sore sampai malam,” kata Yani.
Ia menjelaskan, sebelumnya aktivitas perdagangan di Pasar Raya Padang berlangsung hingga tengah malam dan menjadi kebiasaan masyarakat Kota Padang. Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya bisa dipertahankan dengan penataan yang lebih baik.
“Biasanya kami berdagang sampai jam 12 malam. Dulu Pasar Raya hidup sampai tengah malam. Permintaan kami sederhana, izinkan kami berdagang di luar bangunan mulai jam 5 sore sampai malam dan ditata rapi,” ujarnya.
Baca juga: Tata Pasar Raya Padang Fase VII, Satpol PP Bantu Dinas Perdagangan Data Ulang Kepemilikan Blok Toko
Yani juga mengungkapkan kekecewaan atas hasil pertemuan dengan Pemko Padang. Menurutnya, jawaban yang disampaikan pemerintah terkesan normatif dan belum menyentuh persoalan utama pedagang.
“Jawaban Pemko indah-indah saja, tetapi mengecewakan bagi kami. Kami tidak butuh event, kami butuh pengunjung pasar yang benar-benar membeli. Kebiasaan masyarakat Padang itu belanja sambil lewat, bahkan dari atas motor atau mobil. Tidak mungkin mereka masuk ke dalam bangunan hanya untuk beli satu barang,” jelasnya.
Ia menambahkan, para pedagang juga menyayangkan ketidakhadiran Wali Kota Padang dalam pertemuan tersebut. Meski demikian, pihaknya tetap menghargai Pemko Padang yang diwakili Sekretaris Daerah dan jajaran.
“Kami kecewa karena tidak ada Bapak Wali Kota dan tidak ada keputusan yang jelas. Tuntutan kami seolah tidak digubris. Yang ada hanya rencana-rencana, sehingga hasilnya terasa ngambang,” katanya.
Baca juga: Selasar Pasar Raya Padang Dibersihkan, Puluhan Pedagang Terpaksa Pindah ke Basemen Fase VII
Terkait langkah selanjutnya, Yani menyebutkan pihaknya akan menggelar rapat internal bersama para pedagang untuk menentukan sikap ke depan, termasuk kemungkinan melanjutkan aksi.
“Malam ini kami akan rapat dengan kawan-kawan pedagang. Apapun keputusan pedagang, saya siap mendampingi. Kami juga berharap tuntutan ini bisa disampaikan kepada Gubernur Sumatera Barat,” ucapnya.
Ia menilai solusi sebenarnya bisa dicapai apabila Pemko Padang mau turun langsung dan melakukan survei kondisi pasar secara menyeluruh.
“Pemko harus melihat langsung situasi pasar dari pagi sampai sore. Yang merasakan kondisi pasar itu pedagang, bukan orang Pemko. Kami butuh pengunjung yang berbelanja, bukan sekadar meramaikan pasar atau foto-foto saja,” tutup Yani.
Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang menurunkan tim untuk melakukan operasi SAR menyusul terjadinya banjir di sejumlah titik di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (11/2/2026) malam.
Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, melalui keterangan resminya menyampaikan bahwa informasi awal diterima pada pukul 20.48 WIB dari seorang warga bernama Feri.
Laporan tersebut menyebutkan curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir dan warga membutuhkan evakuasi.
“Pada Rabu malam sekitar pukul 20.45 WIB, curah hujan yang terlalu tinggi mengakibatkan banjir di Kota Padang dan warga membutuhkan evakuasi,” ujar Abdul Malik.
Baca juga: Diguyur Hujan Sejak Sore, BPBD Padang Catat Banjir Genangan di Tiga Kecamatan Rabu Malam
Menindaklanjuti laporan tersebut, enam personel rescuer diberangkatkan pada pukul 21.00 WIB menuju lokasi kejadian untuk melaksanakan operasi SAR.
Dalam operasi ini, tim SAR dilengkapi sejumlah peralatan, di antaranya satu unit rescue car, perahu rafting, peralatan SAR air, peralatan mountaineering, peralatan medis, serta peralatan komunikasi.
Abdul Malik menyebutkan, salah satu kendala di lapangan adalah debit air yang meningkat dan arus yang cukup deras.
Sementara kondisi cuaca saat operasi berlangsung masih diguyur hujan dengan kecepatan angin sekitar 6 knot.
Hingga saat ini, data korban masih dalam proses pendataan dan akan disampaikan lebih lanjut setelah tim melakukan asesmen di lokasi.
“Kami terus melakukan pemantauan dan operasi sesuai prosedur. Perkembangan selanjutnya akan kami informasikan kembali,” tutupnya.
Hujan lebat yang mengguyur sebagian wilayah Kota Padang, Sumatera Barat, sejak Rabu (11/2/2026) sore, menyebabkan genangan air dan banjir di sejumlah titik.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan berdasarkan laporan sementara petugas di lapangan, banjir terjadi di beberapa kawasan.
“Berdasarkan informasi sementara, titik-titik banjir berada di kawasan Nanggalo, Koto Tangah, Tabing Banda Gadang, serta Lubuk Begalung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, curah hujan yang cukup tinggi sejak sore hari membuat sejumlah drainase meluap sehingga air menggenangi badan jalan dan permukiman warga.
Baca juga: Breaking News: Hujan Lebat Guyur Kota Padang, Banjir Rendam Jalan Pirus Lubuk Begalung
“Karena hujan lebat sejak sore tadi menyebabkan sejumlah kawasan banjir,” katanya.
Meski demikian, Hendri menyebutkan ketinggian air rata-rata tidak terlalu tinggi atau ekstrem. Genangan air berkisar setinggi mata kaki orang dewasa hingga betis.
Selain itu, BPBD juga menerima laporan banjir di kawasan Pegambiran, Kecamatan Lubuk Begalung. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan dan evakuasi warga yang terdampak.
“Iya, kita sudah mendapatkan informasi terkait banjir di kawasan Pegambiran. Anggota sudah kita kirimkan untuk melakukan evakuasi,” jelasnya.
Hingga saat ini, BPBD masih melakukan pendataan terhadap dampak banjir, termasuk jumlah warga terdampak dan kerugian yang ditimbulkan.
“Untuk data lengkap dampak dari banjir ini belum kita dapatkan. Nanti akan kita informasikan kembali,” tutup Hendri.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Padang, Sumatera Barat sejak Rabu (11/2/2026) sore mengakibatkan sejumlah titik mulai terendam banjir.
Salah satu kawasan yang terdampak cukup signifikan berada di Kecamatan Lubuk Begalung.
Luapan air dilaporkan menggenangi ruas jalan di Pegambiran Jalan Pirus, Kelurahan Ampalu Nan XX.
Kondisi ini membuat aktivitas warga sekitar mulai terganggu akibat debit air yang meningkat dengan cepat setelah waktu Magrib.
Baca juga: Hari Kedua Aksi di Rumah Dinas Wali Kota, Pedagang Pasar Raya Padang Kembali Kecewa Tak Ditemui
Alda Amelia, salah seorang warga setempat, mengonfirmasi bahwa genangan air di sepanjang Jalan Pirus saat ini telah mencapai ketinggian semata kaki orang dewasa.
Menurutnya, air mulai naik sesaat setelah hujan lebat melanda kawasan tersebut.
"Banjir mulai terjadi setelah Magrib. Hingga saat ini, kondisi air di jalanan terpantau masih mengalir cukup deras karena hujan pun belum menunjukkan tanda-tanda akan reda," ujar Alda saat dihubungi Tribunpadang.com, Rabu malam.
Meskipun genangan air di jalan utama terpantau cukup tinggi, Alda menyebutkan bahwa hingga laporan ini diterima, air belum sampai masuk ke dalam area bangunan rumah warga secara merata.
Baca juga: Luka Batin Penyintas Banjir Padang, Murni Trauma Lihat Mendung dan Tidur Tak Lagi Nyenyak
Namun, kewaspadaan warga mulai meningkat seiring terus turunnya hujan.
"Setahu saya untuk saat ini belum ada air yang masuk sampai ke dalam rumah warga. Tapi kalau di jalanan memang alirannya masih sangat deras dan cukup tinggi," tambah Alda menjelaskan kondisi terkini di lingkungannya.
Berdasarkan rekaman video yang diterima tim redaksi, terlihat aliran air berwarna cokelat pekat mengalir di depan pemukiman.
Dalam video tersebut, tampak luapan air bahkan sudah menyentuh pagar rumah warga dan nyaris meluap ke bagian teras.
Baca juga: Progres Pembangunan Huntap Kapalo Koto Padang: Tujuh Pondasi Selesai, Tiga Unit Masih Dikebut
Warna air yang keruh kecokelatan mengindikasikan adanya luapan dari saluran drainase atau kiriman dari dataran yang lebih tinggi.
Meski demikian, akses lalu lintas di Jalan Pirus dilaporkan masih bisa dilewati oleh kendaraan bermotor.
"Akses jalan masih bisa dilalui, kendaraan baik roda dua maupun roda empat masih terlihat melintas meski harus lebih berhati-hati karena derasnya arus air di permukaan jalan," tutupnya.(*)