Pilu Musrik, Kakek Sebatang Kara Bakar Motor di Kebun Sawit Pasangkayu karena Putus Asa
Nurhadi Hasbi February 12, 2026 12:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Di balik aksi nekatnya membakar sepeda motor karena kesal biaya perbaikan yang terus membengkak, tersimpan kisah pilu kehidupan Musrik (70), warga Desa Tikke, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu.

Kakek yang sempat viral di media sosial itu ternyata hidup seorang diri di tengah kebun sawit miliknya.

Rumah kayu yang ia tempati tampak renta dan lapuk dimakan usia.

Dindingnya mulai renggang, sebagian papan terlihat kusam, sementara atap sengnya berkarat dan berbunyi nyaring saat diterpa angin.

Baca juga: Kakek di Pasangkayu Bakar Motor Sendiri, Kesal Sudah Habiskan Rp7 Juta untuk Perbaikan

Baca juga: Polisi Buru OTK yang Sengaja Bakar Motor Warga Tapalang Mamuju

Di rumah sederhana itulah Musrik menjalani hari-harinya tanpa pendamping.

Ia memiliki tiga orang anak.

Namun, dua di antaranya telah lebih dulu meninggal dunia.

Satu-satunya anak yang masih hidup kini menetap di Kota Medan bersama istri dan tiga anaknya.

Jarak ribuan kilometer membuat pertemuan tak bisa sering terjadi.

Dua istri Musrik pun telah meninggal beberapa tahun silam.

Sejak saat itu, ia menjalani hidup sendirian, mengurus kebun dan kebutuhannya tanpa kerabat yang mendampingi.

“Kalau di rumah ya sendiri saja. Sudah biasa,” ujarnya pelan saat ditemui di kediamannya, Kamis (12/2/2026).

Sehari-hari, Musrik menggantungkan hidup dari bertani sawit dan kelapa.

Di usia yang tak lagi muda, ia tetap berusaha mengelola kebunnya meski tenaga tak sekuat dulu.

Untuk memanen sawit, ia kerap meminta bantuan tetangga.

“Sekarang sudah tidak kuat panjat atau angkat berat. Jadi biasa panggil tetangga bantu panen,” katanya.

Hasil kebun itulah yang menjadi sumber penghidupannya.

Untuk kebutuhan makan, ia memasak sendiri dengan peralatan seadanya.

Bahkan, untuk bahan bakar memasak, ia kerap memanfaatkan sabut kelapa kering.

“Saya sering pakai sabut kelapa untuk masak,” tuturnya.

KAKEK BAKAR MOTOR- Viral aksi seorang kakek bakar sepeda motornya di bawah pohon sawit di Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), Rabu (11/2/2026).
KAKEK BAKAR MOTOR- Viral aksi seorang kakek bakar sepeda motornya di bawah pohon sawit di Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), Rabu (11/2/2026). (Istimewa)

Sesekali, tetangga sekitar datang menjenguk atau memberinya makanan.

Namun sebagian besar waktu, Musrik menjalani rutinitas seorang diri di tengah hamparan kebun yang sunyi.

Ia mengaku sudah lebih dari 50 tahun tinggal di Tikke Raya.

Musrik berasal dari Sulawesi Tengah, namun merantau dan menetap di Pasangkayu sejak usia muda untuk membuka lahan dan bertani.

“Sudah lama sekali di sini. Dari muda sampai sekarang,” kenangnya.

Kesunyian semakin terasa saat hari-hari besar tiba.

Saat Lebaran, ia kadang merayakan sendiri di rumah kayunya.

Jika memiliki cukup biaya dan kondisi memungkinkan, barulah ia pulang kampung ke Sulawesi Tengah untuk bertemu keluarga besarnya.

“Kadang sendiri saja di sini. Kadang kalau ada rezeki, pulang kampung,” ucapnya.

Di tengah keterbatasan fisik dan usia yang terus bertambah, Musrik tetap bertahan.

Tak ada keluhan panjang yang keluar dari mulutnya.

Hanya sorot mata lelah yang seolah menyimpan cerita panjang tentang perjuangan hidup.

Aksi membakar motor beberapa waktu lalu mungkin menjadi luapan emosi dari akumulasi kelelahan dan kekecewaan yang dipendam lama.

Motor itu bukan sekadar kendaraan, melainkan alat utama untuk pergi ke kebun dan ke pasar.

Saat kendaraan tersebut terus rusak dan menguras biaya hingga Rp7 juta, frustrasi pun memuncak.

Kini, tanpa motor dan hanya mengandalkan sepeda kayuh, Musrik tetap menyusuri jalan kebun yang berdebu.

Pelan namun pasti, ia mengayuh sepeda tuanya, menembus panas dan sepi, demi menyambung hidup dari tanah yang telah ia garap lebih dari setengah abad.

Di usia senja, Musrik mungkin tak lagi mengejar banyak hal.

Ia hanya bertahan, hari demi hari, di rumah kayu tua di tengah kebun sawitnya menjalani hidup sederhana, dalam sunyi yang panjang.

Aksi Bakar Motor

Musrik, kakek 70 tahun asal Desa Tikke, Pasangkayu, menjalani hidup sendiri setelah kehilangan pasangan dan sebagian anaknya.

Kesendirian, keterbatasan fisik, dan biaya hidup yang tinggi membuatnya hidup sederhana di tengah kebun sawit.

Aksi membakar motor menjadi luapan frustrasi dari perjuangan panjangnya.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.