Sampah Plastik Diubah Jadi Ruang Belajar Layak di Lombok Timur
Idham Khalid February 12, 2026 02:22 PM

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Sebanyak 99 ton sampah diubah menjadi gedung beajar di sekolah SDN 2 Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Hal itu dibuat oleh Organisasi kemanusiaan Happy Hearts Indonesia bersama mitranya, Classroom of Hope (CoH) asal Australia.

Melalui project tersebut, sampah yang selama ini menjadi ancaman lingkungan, kini disulap menjadi ruang belajar yang layak dan ramah anak.

Happy Hearts membuktikan, bahwa pendidikan dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Perwakilan Happy Hearts Indonesia, Tamrin mengatakan, yang membedakan program ini dari pembangunan sekolah pada umumnya adalah bahan baku yang digunakan.

Seluruh bangunan SDN 2 Gunung Malang memanfaatkan material dari sampah plastik daur ulang. Sejak program ini berjalan, sekitar 99 ton sampah plastik telah berhasil dikonversi menjadi material bangunan. Upaya ini setara dengan pengurangan emisi karbon hingga 14 ton.

"Bangunan ini ramah anak, ramah lingkungan, tetapi tetap berkualitas tinggi. Kami harap para guru dapat memanfaatkannya untuk menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan menyenangkan,” ujar Tamrin pada Kamis (12/2/26).

Pembangunan gedung sekolah SDN 2 Gunung Malang ini merupakan proyek ke-12 yang dibangun Happy Hearts Indonesia di Lombok Timur setelah gempa bumi. 

Tamrin menjelaskan melalui project ini, pihaknya telah membangun total 73 ruang kelas dan 48 toilet dari limbah plastik. 

"Kami berharap jumlah ini terus bertambah. Kami ingin lebih banyak anak Indonesia menikmati ruang belajar yang layak," ujar Tamrin.

Baca juga: Ratusan Personel Gabungan Sisir Sampah Pesisir Lembar Lombok Barat

Terpisah Manager Classroom of Hope (CoH), Rachel, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan pascabencana yang meluluhlantakkan sebagian besar fasilitas pendidikan di Lombok Timur. 

Rachel berharap, kehadiran ruang kelas baru ini tidak hanya memperkuat infrastruktur pendidikan di Lombok Timur, tetapi juga menginspirasi gerakan serupa di daerah lain.

"Kami hadir untuk membangun kembali mimpi-mimpi yang sempat runtuh. Dengan bahan daur ulang, kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan dan kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan," pungkas Rachel.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.