TRIBUNLOMBOK.COM - Sesungguhnya puasa memiliki rahasia dan manfaat yang besar. Para ilmuwan telah meneliti, lalu mendapatkan rahasia dan hikmah puasa.
Mereka melihat bahwa puasa adalah pengobatan terbesar, sebaik-baik pencegah datangnya penyakit, dan obat paling mujarab untuk penyakit-penyakit badan, serta diet yang sempurna dan sehat (Buku Tentang Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis, karya Ahmad Syarifudin).
Allah tidak mensyariatkan ibadah kecuali untuk mendidik manusia agar terbiasa taat kepada perintah Allah dan bertakwa. Adapun rahasia atau hikmah disyariatkannya puasa yaitu:
Puasa adalah ibadah kepada Allah dan wujud ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya, serta memelihara diri dari yang diharamkan Allah.
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Setiap amalan manusia untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan memberikan balasan untuknya. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya untuk-Ku." Maka, perasaan manusia agar dekat dengan Allah, tunduk kepada perintah-Nya, serta sikap penghambaan, itulah tujuan tertinggi dalam beribadah.
Puasa adalah pendidikan jiwa dan diri agar berjuang disertai kesabaran. Puasa mendidik manusia agar mempunyai manajemen pengendalian diri yang baik. Puasa mendidik manusia menjadi penguasa dan pengendali hawa nafsunya.
Orang yang berpuasa semestinya tidak menjadi hamba atau budak dari nafsu syahwatnya. Justru orang yang berpuasa, dirinyalah yang menjadi pengendali bagi nafsunya agar selalu menaati syariat dan aturan Allah. Justru dirinyalah yang mengarahkan diri dan nafsunya untuk berjalan di atas cahaya iman.
Ada perbedaan besar antara manusia yang menjadi hamba Allah dan yang menjadi hamba nafsu. Manusia yang menjadi hamba nafsu akan dikendalikan oleh syahwat dan hawa nafsunya, sehingga dia hidup seperti binatang, hidup hanya untuk perut dan nafsu syahwatnya. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
"Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka." (QS. Muhammad: 12).
Adapun manusia hamba Allah, ia mampu mengendalikan nafsu dan syahwatnya untuk ibadah, sehingga dia akan menjadi mulia seperti para nabi, syuhada, dan orang saleh.
Puasa mendidik manusia agar memiliki karakter penyayang, penyantun, dan lembut. Puasa tidak melarang manusia sama sekali agar tidak makan dan minum, namun puasa mengendalikan nafsu sesaat untuk menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sosial. Sikap peduli terhadap nasib masyarakat di sekitarnya, di kanan dan kirinya.
Puasa mengajarkan kita untuk membentuk kekuatan ruhiyah pada diri sendiri agar merasakan perasaan saudaranya yang mengalami kelaparan, kesusahan, dan penderitaan, lalu mengulurkan bantuan.
Puasa mendidik manusia untuk muraqabah, merasa diawasi Allah. Dalam keadaan sunyi sendiri, atau di hadapan banyak orang, tetap sama saja, tetap ikhlas dan taat melaksanakan perintah dan ketentuan Allah.
Dalam kesempatan apa pun, orang yang berpuasa tidak mau menggunakan kesempatan itu untuk menyeleweng dari aturan Allah.
Puasa menjadikan kita orang yang jujur karena puasa membentuk sifat takwa. Takwa adalah hasil pendidikan Ramadan untuk patuh kepada aturan Allah dengan mengendalikan nafsu syahwatnya.
Puasa sebulan penuh selama Ramadan, jika dilakukan dengan tepat, baik, dan benar, dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan jiwa raga.
Namun, sayang sekali, banyak orang yang melakukan puasa asal berpuasa saja, sehingga Rasulullah mengatakan, "Berapa banyak orang yang berpuasa namun mereka tidak mendapatkan apa pun selain lapar dan haus saja."
Selanjutnya berkaitan dengan hal ini, Rasulullah menegaskan bahwa sesungguhnya puasa itu ada tiga tingkatan, yakni puasanya orang awam, puasa khawas, dan puasa khawasul khawas.
Puasa orang awam (umum) adalah sekadar menahan lapar dan haus sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.
Orang khawas, yaitu kelompok orang kelas iman menengah, puasanya adalah dengan menahan makan dan minum serta perbuatan yang membatalkan pahala puasa, seperti bergunjing, mengumpat, atau mencela orang lain. Matanya terpelihara dari memandang hal yang dapat membangkitkan syahwat. Telinganya terpelihara dari mendengarkan hal dan ucapan yang sia-sia, seperti gosip atau musik yang melalaikan.
Orang khawasul khawas, yaitu kelompok orang yang punya tingkatan iman yang sangat kuat, yakni orang ikhlas dan alim.
Model puasa mereka adalah di samping menahan makan minum, menahan dari perbuatan yang membatalkan pahala puasa, dan menjaga pancaindra dari hal tercela, mereka juga berlomba-lomba meningkatkan ibadah yang dicintai dan diridhai oleh Allah, seperti memperbanyak membaca dan menghayati Al-Qur'an, mendengar ayat suci Al-Qur'an, berzikir mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan berbaring, baik dengan lisan maupun di dalam hati, memperbanyak shalat sunah, dan lain sebagainya (Buku Tentang Puasa Sepanjang Tahun, karya Yunus Hanis Syam).
Setiap kita diperintahkan untuk meningkatkan kualitas puasa kita. Bermula dari puasa model orang awam, ditingkatkan kepada puasa model orang khawas, kemudian ditingkatkan menjadi puasa model khawasul khawas. Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10).
Puasa Ramadan adalah salah satu cara yang diajarkan Allah kepada orang beriman untuk membersihkan jiwanya dari berbagai kotoran dan penyakit. Hasil nyata dari puasa khawasul khawas ini adalah peningkatan ketakwaan pada Allah Swt.