SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Tengah malam yang sunyi di Jalan Abikusno,Kelurahan Kemang Agung, Kertapati, Kota Palembang mendadak riuh setelah terdengar teriakan "kebakaran kebakaran", Kamis (12/2/2026).
Di tengah amukan si jago merah yang melahap 15 rumah, terselip sebuah kisah heroik sekaligus memilukan tentang seorang istri yang rela bertaruh nyawa demi harta paling berharga bagi keluarganya, sebuah becak.
Evi Susanti (45) duduk termenung dengan jahitan di kepalanya. Baru saja keluar dari RS BARI Palembang, luka di belakang kepalanya harus menerima tujuh jahitan.
Meski trauma masih membekas jelas di wajahnya, Evi merasa beruntung masih bisa bernapas.
Malam itu, saat api mulai menjilat rumah, Evi dan suaminya sempat berhasil keluar menyelamatkan diri.
Namun, saat menoleh ke belakang dan melihat kobaran api mendekati alat transportasi roda tiga milik suaminya, langkah kaki Evi terhenti.
"Saya teringat becak suami. Itu satu-satunya mata pencaharian kami sehari-hari. Saya dan suami nekat menerobos kerumunan untuk menarik becak itu menjauh dari api," kenang Evi.
Nahas, saat sedang sekuat tenaga mendorong becak di lorong yang sempit dan licin, Evi terjatuh. Kepalanya menghantam batu jalanan dengan keras.
Darah segar mengucur, namun becak itu berhasil selamat. Bagi Evi, luka di kepala tidak sebanding dengan hilangnya harapan untuk mencari nafkah esok hari.
Nasib berbeda dialami oleh Rusmiati (40). Jika rumah Evi luput dari jilatan api, Rusmiati harus menelan pil pahit melihat empat rumah keluarganya luluh lantak.
Kini, ia hanya memiliki baju yang melekat di badan.
"Tak ada yang bisa diselamatkan. Motor untuk ngojek, mesin es tebu, semua surat penting hangus," ujarnya dengan suara bergetar.
Berdasarkan data dari pihak Kelurahan Kemang Agung, api setidaknya menghanguskan 11 rumah dan berdampak pada 4 rumah lainnya.
Sebanyak 15 Kepala Keluarga (KK) dengan total 50 jiwa kini harus kehilangan tempat tinggal.
Lurah Kemang Agung, Budi Laksana, bertindak cepat dengan mendirikan posko bantuan dan posko kesehatan sejak Kamis siang.
"Kami sedang berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan BPBD Kota Palembang untuk segera mendirikan tenda penampungan dan dapur umum bagi warga," jelas Budi saat meninjau lokasi.