Oleh: Bambang Ari Satria - Ketua Tim Organisasi dan Tata Laksana Kanwil Kemenag Babel
SUNGAI dalam sejarah peradaban selalu menjadi simbol kehidupan, pergerakan, dan kesinambungan. Ia tidak pernah lahir begitu saja sebagai arus besar yang kuat, melainkan berawal dari mata air yang jernih, mengalir perlahan dari hulu, lalu bertambah daya ketika bertemu anak-anak sungai yang menopangnya.
Dalam perjalanannya, sungai menghadapi bebatuan, tikungan tajam, bahkan hambatan yang berpotensi menghambat lajunya. Namun, justru dari proses itulah sungai menemukan iramanya dengan tetap mengalir, menyesuaikan diri dan menjaga arah.
Di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kinerja dapat dianalogikan sebagai sebuah “sungai besar” yang harus dijaga kejernihannya agar mampu menggerakkan roda organisasi secara berkelanjutan. Sungai itu disebut sebagai sungai kinerja.
Hulu dari sungai kinerja berada pada perjanjian kinerja. Di titik inilah mata air itu muncul. Perjanjian kinerja bukan sekadar dokumen formal tahunan yang ditandatangani pimpinan, melainkan kontrak moral dan profesional antara organisasi dengan publik. Di dalamnya terdapat target, indikator, dan komitmen capaian yang harus diwujudkan.
Sungai yang bersih selalu dimulai dari hulu yang jernih. Jika sumber airnya keruh, maka seluruh aliran di bawahnya akan tercemar. Begitu pula dalam organisasi, kinerja yang baik harus dimulai dari perencanaan yang jelas, terukur, dan selaras dengan visi misi.
Bagian Tata Usaha, khususnya fungsi perencanaan dan pengelolaan kinerja, memegang peran strategis sebagai penjaga hulu. Di sinilah arah kebijakan dirumuskan, target ditetapkan, dan indikator kinerja diselaraskan dengan visi besar Kementerian Agama.
Namun, perencanaan bukan hanya milik satu tim. Ia adalah hasil dialog lintas bidang. Pendidikan madrasah dengan dinamika madrasahnya, pendidikan agama dan keagamaan Islam dengan layanan keagamaan dan lembaga pendidikan Islamnya, bimas Islam dengan urusan keumatan dan KUA, serta pembimas agama lain dengan kekhasan layanan umat masing-masing.
Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang partisipatif. Ketika seluruh bidang terlibat sejak awal, maka setiap target bukan lagi sekadar angka, melainkan komitmen bersama. Di sinilah sungai kinerja mulai menemukan bentuknya: jernih, terarah, dan memiliki tujuan.
Setelah air mengalir dari hulu, ia membutuhkan kanal agar tidak menyebar tanpa arah. Dalam organisasi modern, e-kinerja berfungsi sebagai kanal tersebut. Ia bukan sekadar aplikasi, tetapi sistem yang memastikan bahwa setiap pegawai memahami peran dan mencatat kontribusi.
E-kinerja menjembatani perencanaan makro dengan kerja harian individu. Apa yang telah disepakati dalam perjanjian kinerja pimpinan harus diturunkan menjadi sasaran kinerja pegawai (SKP) yang spesifik, terukur, dan relevan. Di sinilah seluruh pegawai, tanpa terkecuali mengambil peran.
Pegawai di Bagian Tata Usaha memastikan dukungan administrasi, keuangan, dan tata kelola berjalan tertib. Bidang Pendidikan Madrasah mencatat capaian pembinaan madrasah, peningkatan mutu, dan penguatan tata kelola lembaga pendidikan.
Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam memastikan layanan pendidikan agama di sekolah dan lembaga keagamaan berjalan optimal. Bimas Islam mengawal layanan pernikahan, zakat dan wakaf, pembinaan keluarga sakinah, dan urusan kemasjidan. Sementara itu, para Pembimas Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu memastikan pembinaan umat berjalan adil, inklusif, dan profesional.
Ketika setiap aktivitas dicatat dalam e-kinerja secara disiplin dan jujur, maka sungai kinerja mengalir dengan tertib. Tidak ada pekerjaan yang tersembunyi, tidak ada kontribusi yang terabaikan. Semua terdokumentasi dan dapat diukur.
Sungai besar terbentuk karena pertemuan banyak anak sungai. Demikian pula kinerja Kanwil Kemenag Babel, tidak ada satu bidang pun yang dapat berdiri sendiri. Pendidikan yang baik membutuhkan dukungan tata usaha yang kuat. Layanan keagamaan yang prima memerlukan koordinasi lintas unit. Pembinaan umat yang harmonis memerlukan sinergi dan komunikasi yang intens.
Kolaborasi lintas bidang adalah titik temu anak-anak sungai kinerja. Ketika data pendidikan madrasah terhubung dengan perencanaan anggaran, ketika program pembinaan umat selaras dengan indikator reformasi birokrasi, ketika seluruh pembimas bergerak dalam semangat moderasi beragama dan pelayanan publik, maka sungai kinerja menjadi makin besar dan berdampak.
Aliran sungai yang sehat membutuhkan pemantauan dan pemeliharaan. Tanpa itu, sedimentasi akan mengendap dan memperlambat arus. Dalam sungai kinerja, fungsi ini hadir pada tahap hilir, yakni pengelolaan capaian kinerja organisasi. Di sinilah seluruh aliran dikumpulkan, dianalisis, dan dilaporkan, baik secara triwulan
maupun tahunan.
Laporan capaian kinerja bukan sekadar ritual administratif. Ia adalah cermin besar yang memantulkan sejauh mana organisasi telah bergerak sesuai arah yang ditetapkan di hulu.
Evaluasi triwulan memberi ruang refleksi yang cepat, memungkinkan koreksi sebelum tahun berakhir. Sementara laporan tahunan menjadi gambaran utuh perjalanan satu tahun organisasi: apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan inovasi apa yang harus diperkuat. Proses ini menjadikan hilir bukan sekadar muara, tetapi ruang pembelajaran kolektif.
Dalam pengalaman di Kanwil Kemenag Kepulauan Bangka Belitung, proses sungai kinerja menjadi makin bermakna dengan pembangunan zona integritas (ZI). Zona integritas bukan sekadar predikat menuju wilayah bebas dari korupsi (WBK) atau wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM), melainkan kompas kinerja.
Spirit zona integritas menuntut agar setiap tetes kinerja bebas dari praktik penyimpangan, transparan, dan berorientasi pada pelayanan. Artinya, perencanaan harus berbasis kebutuhan riil. Pelaksanaan melalui e-kinerja harus jujur dan terukur. Pelaporan capaian harus objektif dan akuntabel.
Jika sungai kinerja tercemar oleh data yang tidak valid atau target yang direkayasa, maka kompas ZI akan kehilangan maknanya. Karena itu, integritas menjadi fondasi utama dalam setiap tahap aliran.
Pada akhirnya, sungai kinerja bermuara pada kepercayaan publik. Capaian kinerja organisasi yang dilaporkan setiap triwulan dan tahunan bukan hanya untuk arsip internal, tetapi sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat.
Ketika masyarakat merasakan layanan keagamaan dan pendidikan keagamaan yang lebih cepat, transparan, dan responsif, di situlah sungai itu benar-benar memberi manfaat. Kepercayaan publik adalah lautan luas tempat seluruh aliran bermuara.
Membangun sungai kinerja adalah kerja kolektif. Ia membutuhkan komitmen pimpinan, profesionalisme tim kerja, dan integritas setiap pegawai. Dengan menjadikan zona integritas sebagai kompas, aliran kinerja di Kanwil Kemenag Kepulauan Bangka Belitung akan tetap berada di jalur yang benar, yakni jernih di hulu, kuat di tengah, dan berdampak di hilir.
Filosofi sungai mengajarkan bahwa kinerja organisasi adalah proses yang hidup-mengalir, beradaptasi, terhubung, dan memberi manfaat. Jika seluruh pegawai bergerak dalam satu arus yang sama dengan semangat pelayanan, profesionalitas, dan integritas, maka sungai kinerja tidak hanya mengalir, tetapi juga menghidupkan. Menghidupkan organisasi, menguatkan kepercayaan publik, dan pada akhirnya menghadirkan pelayanan keagamaan dan pendidikan keagamaan yang bermakna bagi seluruh masyarakat Bangka Belitung. (*)