Balita Hingga Anak-anak Korban Tanah Gerak di Tegal Mulai Terserang ISPA
deni setiawan February 12, 2026 07:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Balita dan anak-anak yang tinggal di pengungsian akibat dampak tanah gerak di Kabupaten Tegal, mengalami ISPA.

Kondisi pengungsian pun disebut salah satu faktor penyebabnya.

Karenanya, mereka berharap pemerintah dapat mencarikan solusi terutama berkaitan rencana pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak tanah gerak di Desa Padasari tersebut.

Baca juga: Granat Nanas Temuan Warga Diledakkan di Kawasan PAI Tegal

• Viral Gerakan Stop Bayar Pajak Kendaraan di Jateng, Warga Sebut Opsen PKB Pemicunya

• Nantikan, Persis Solo Hadirkan Semua Pemain Anyarnya Besok Jumat, Laga Lawan Madura United

Warga korban bencana tanah bergerak yang mengungsi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, mulai mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan, Kamis (12/2/2026).

Penyakit yang paling banyak dialami pengungsi adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang menyerang balita, anak-anak, hingga lanjut usia.

Berdasarkan data terbaru BPBD Kabupaten Tegal, sekira 143 warga pengungsi mengalami ISPA.

Mereka tersebar di beberapa titik lokasi pengungsian yang masih ditempati korban terdampak bencana.

Kondisi Hunian Dikeluhkan

Warga terdampak, Mafiroh mengatakan, kondisi pengungsian yang panas pada siang hari dan dingin pada malam hari membuat warga, terutama balita dan anak-anak rentan terserang batuk, pilek, dan sakit tenggorokan.

“Sudah dua kali periksa, batuk dan demam. Orangtua juga sakit batuk pilek dan sakit tenggorokan."

"Di pengungsian tidak nyaman, ingin di rumah sendiri atau di tempat relokasi dari pemerintah,” kata Mafiroh.

Warga lainnya, Ahmad (46) berharap pemerintah segera membangun hunian sementara (huntara) di lokasi yang aman dari ancaman tanah bergerak.

Dia sudah tidak nyaman tinggal terlalu lama di pengungsian dan ingin segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak.

TANAH BERGERAK - Foto-foto eksklusif kondisi terkini tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, pada Selasa (10/2/2026). 
TANAH BERGERAK - Foto-foto eksklusif kondisi terkini tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, pada Selasa (10/2/2026).  (TRIBUN JATENG/Desta Leila Kartika)

Setiap Hari Layani Warga Berobat 

Petugas medis di pos kesehatan pengungsian, Setya menyampaikan, setiap hari pos kesehatan melayani warga yang mengeluhkan sakit.

Rata-rata jumlah pasien antara 30 hingga 60 orang per hari.

“Untuk saat ini keluhan yang banyak muncul pada anak-anak adalah batuk, pilek, dan gatal-gatal."

"Sedangkan pada lansia paling banyak hipertensi, batuk, serta keluhan nyeri kaki."

"Namun sebagian juga ada yang mengalami diare,” jelas Setya.

Selain ISPA, pengungsi juga banyak mengeluhkan myalgia atau nyeri otot, hipertensi, sakit kepala, serta gangguan pencernaan.

Bangun 700 Huntara 

Baca juga: Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Warga Korban Tanah Bergerak Tegal Dapat Rumah dan Sertifikatnya

• BGN Perketat Pengawasan MBG di Pekalongan, Mitra Tak Patuh Terancam Dihentikan

Sebelumnya, BPBD Kabupaten Tegal mengusulkan pembangunan 700 hunian sementara (huntara) untuk korban tanah bergerak di Desa Padasari. 

Plt Kalakhar BPBD Kabupaten Tegal, Muhammad Afifudin mengatakan, huntara tersebut rencananya dibangun oleh BNPB di kawasan hutan milik Perhutani.

"Huntara kemungkinan diajukan agar dibangun 700 unit. Secara ukuran tipe 36, tapi nanti disesuaikan luas tanahnya."

"Untuk biaya bangun Huntara dari BNPB," kata Afif.

Afif menambahkan, jumlah pasti huntara bergantung pada persetujuan Pemerintah Pusat.

Meski begitu, setidaknya korban terdampak membutuhkan 500 unit.

"Kalau kebutuhannya 500 rumah dikerjakan tiga vendor memang bisa selesai lebih cepat. Mudah-mudahan sebelum Lebaran sudah bisa dihuni," kata Afif.

Lokasi pembangunan huntara direncanakan berjarak sekira satu kilometer dari permukiman warga terdampak saat ini.

"Huntara jelas sementara. Yang penting dalam waktu dekat dipikirkan dibangun Huntara karena warga lama-lama di pengungsian tidak baik. Kesehatannya dan lainnya," kata Afif.

699 Rumah Rusak 

TINJAU TANAH GERAK - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi bencana tanah gerak dan berbincang dengan warga terdampak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jumat (6/2/2026). Gubernur memastikan pemerintah akan menyiapkan hunian sementara hingga hunian tetap lengkap dengan sertifikat kepemilikan.
TINJAU TANAH GERAK - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi bencana tanah gerak dan berbincang dengan warga terdampak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jumat (6/2/2026). Gubernur memastikan pemerintah akan menyiapkan hunian sementara hingga hunian tetap lengkap dengan sertifikat kepemilikan. (TRIBUN JATENG/Desta Leila Kartika)

BPBD mencatat, 863 rumah warga masuk zona merah rawan tanah bergerak di Desa Padasari. 

Dari jumlah itu, 699 rumah mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah yang dipicu hujan lebat pada Selasa (3/2/2025).

Rinciannya, 413 rusak berat, 97 rusak sedang, dan 189 rusak ringan.

"Sementara 164 rumah kategori masih baik, tetap harus direlokasi. Ada dua dusun jadi zona merah."

"Apapun kondisi rumahnya harus dievakuasi," kata Afif.

Total, 2.460 jiwa dari 596 kepala keluarga (KK) hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian. (*)

Sumber Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.