Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyetujui pembukaan 160 program studi (prodi) dokter spesialis dan subspesialis baru. Dari jumlah tersebut, 128 prodi dikhususkan untuk program spesialis dan sisanya, sekitar 32 prodi untuk subspesialis.
Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Mukhamad Najib menyatakan jumlah ini telah melebihi target yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Terget yang ditetapkan sebelumnya adalah 148 prodi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan subspesialis.
"Alhamdulillah hari ini kita berhasil menyetujui sebanyak 160 program studi baru, 128 (di antaranya) program spesialis dan sisanya subspesialis," tutur Najib pada acara Peluncuran Program Pendidikan Dokter Spesialis di Auditorium Al-Quddus Universitas YARSI, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ingatkan Jangan Ada Perundungan
Diwakili Najib, Mendiktisaintek Brian Yuliarto beri pesan penting pada kampus yang akan membuka program spesialis dan subspesialis. Menteri Brian ingin mahasiswa menjalani kuliah dengan bahagia dan sejahtera batinnya.
"Kami titip supaya mereka juga merasakan kegembiraan pada saat mengikuti program Spesialis, kesejahteraan batin mereka juga terpenuhi," ungkapnya.
Dengan tegas Kemdiktisaintek melarang adanya praktik perundungan. Mengingat beberapa waktu kebelakang ramai soal perundungan yang terjadi pada mahasiswa spesialis dan subspesialis.
"Jadi, no way untuk perundungan," tegas Najib.
Najib ikut menanggapi adanya berbagai kasus perundungan pada beberapa waktu lalu. Ia menyebut memang benar perundungan terjadi, tapi bukan di universitas, melainkan rumah sakit.
"Saya selalu mengatakan terjadi perundungan, iya. Tapi itu bukan di universitas, itu ada di rumah sakit," ujar Najib.
Menurutnya, kegiatan mahasiswa di rumah sakit tidak seluruhnya menjadi tanggung jawab Kemendikti. Namun, melihat kasus yang ada, perundungan terjadi pada mahasiswa program spesialis.
"Tapi ya itu disebutkan mahasiswa lagi program spesialis, lagi belajar, banyak. Jadi seolah-olah prodinya yang salah gitu," imbuhnya.
Berkaca dari hal itu, Kemdiktisaintek mengajak agar kampus juga bisa menjaga kesejahteraan lahir dan batin mahasiswa dokter spesialis dan subspesialis. Dengan begitu, mereka bisa menjalani program dengan bahagia, tidak tertekan, bahkan berujung memilih menghilangkan nyawa mereka.
"Tentu itu sangat tidak produktif bagi akademika sistem yang kita bangun. Kita berharap, kita betul-betul menjaga, supaya mereka aman, mereka senang, dan ketika mereka lulus, mereka siap berkontribusi lebih besar untuk memenuhi kebutuhan nasional," tandas Najib.







