BANGKAPOS.COM--Perang komentar antara netizen Korea Selatan dan Indonesia di platform X (dulu Twitter) mendadak memanas dan menjadi trending topic, Kamis (12/2/2026).
Perseteruan yang awalnya dipicu persoalan konser grup band Korea Day6 di Malaysia itu melebar menjadi saling sindir bernada rasis dan menyeret warganet dari berbagai negara Asia Tenggara.
Tagar-tagar terkait pertikaian tersebut bahkan sempat menduduki jajaran trending.
Tidak hanya melibatkan netizen Korea (Knetz) dan netizen Indonesia, warganet dari Malaysia, Thailand hingga Filipina ikut turun tangan.
Mereka kompak membela Indonesia hingga muncul istilah “SEABlings” yang merujuk pada solidaritas netizen Asia Tenggara.
Jika ditelusuri, konflik ini bermula dari konser Day6 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada akhir Januari 2026.
Dalam konser tersebut, seorang fansite asal Korea Selatan diduga membawa kamera profesional berukuran besar lengkap dengan lensa tele, yang sebenarnya termasuk barang terlarang sesuai aturan promotor.
Aksi tersebut terekam oleh penonton lain dan diunggah ke media sosial. Unggahan itu kemudian viral dan memicu perdebatan di kalangan penggemar.
Menurut sejumlah akun di X, fansite tersebut tidak terima aksinya dipermasalahkan.
Ia disebut sempat melontarkan ancaman akan membawa persoalan itu ke ranah hukum. Adu argumen antara fans Malaysia dan fansite Korea pun tak terhindarkan.
“Perkara awalnya tuh karena pas konser DAY6 di KL, si fansite bawa kamera pro dan lensa tele padahal barang yang dilarang sama promotor konser. Ke-foto sama penonton MY. Fansitenya ngamuk, ngancem pake UU,” tulis salah satu akun yang merangkum kronologi kejadian.
Perang komentar sempat berlangsung beberapa waktu, sebelum akhirnya fansite yang bersangkutan menyampaikan permintaan maaf melalui cuitannya. Situasi pun berangsur mereda.
Namun, persoalan tak berhenti di situ. Setelah polemik konser mereda, muncul cuitan lain dari akun yang diduga netizen Korea Selatan.
Dalam unggahan berbahasa Inggris itu, ia melontarkan komentar bernada merendahkan terhadap negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Cuitan tersebut menyinggung kondisi ekonomi dan menyiratkan stereotip negatif. Unggahan itu dengan cepat menyebar dan menuai kecaman.
Netizen Indonesia yang merasa tersinggung lantas membalas dengan komentar pedas. Mereka menyebut pernyataan tersebut sebagai bentuk rasisme yang tidak bisa ditoleransi.
Konflik semakin melebar ketika salah satu Knetz menyinggung video klip grup vokal asal Indonesia, No Na. Video klip yang menampilkan latar sawah dijadikan bahan ejekan.
“Saya tidak punya uang jadi saya tidak bisa menyewa peralatan. Saya mengambil foto ini di ladang. Apakah Anda sedang dalam perjalanan menanam bibit padi?” tulis salah satu akun yang diduga Knetz.
Komentar itu dianggap merendahkan budaya dan latar pedesaan Indonesia. Netizen +62 pun langsung merespons.
Tak hanya Indonesia, warganet Malaysia dan Thailand juga ikut membalas. Beberapa di antaranya menyinggung konsumsi beras sebagai makanan pokok yang juga dinikmati masyarakat Korea.
“Ingat sikit eh ko makan nasi pun sampai kerak-kerak rendam air tau,” balas seorang netizen Malaysia.
Perang komentar makin panas ketika ada netizen Indonesia yang menyoroti kemampuan bahasa Inggris sebagian Knetz.
“Kenapa ya orang Korea kalau interaksi sama tweet bahasa Inggris, balasnya pakai Korea. Negara maju tapi penduduknya mostly bobrok Inggrisnya,” tulis seorang pengguna.
Tak tinggal diam, akun yang diduga Knetz kembali membalas dengan sindiran, “Saya iri kepada mereka yang fasih berbahasa Inggris tetapi hidup dalam kemiskinan.”
Seiring memanasnya perdebatan, muncul gelombang solidaritas dari netizen Asia Tenggara. Tagar dan istilah “SEABlings” ramai digunakan sebagai simbol persaudaraan digital antarnegara ASEAN.
Warganet Filipina, Thailand, hingga Singapura terlihat ikut membela Indonesia dan Malaysia dari komentar yang dinilai rasis.
Mereka menegaskan bahwa perbedaan latar belakang ekonomi dan budaya tidak boleh dijadikan bahan ejekan.
Beberapa pengguna X bahkan menyerukan agar konflik dihentikan dan tidak digeneralisasi menjadi kebencian antarbangsa.
“Ini cuma oknum, jangan bawa-bawa satu negara,” tulis seorang pengguna yang mencoba meredam suasana.
Pengamat media sosial menilai, konflik lintas negara semacam ini bukan kali pertama terjadi di komunitas penggemar Kpop.
Fanwar atau perang antar-penggemar kerap dipicu persoalan sepele yang kemudian melebar akibat sentimen nasionalisme dan komentar bernada provokatif.
Platform X, dengan sistem trending dan retweet yang cepat, membuat isu kecil bisa membesar dalam hitungan jam. Apalagi jika melibatkan identitas negara dan unsur rasisme.
Hingga Kamis malam, perdebatan masih terus berlangsung meski sebagian akun telah menghapus cuitan kontroversialnya.
Belum ada klarifikasi resmi dari pihak yang pertama kali melontarkan komentar bernada rasis tersebut.
Perang netizen Korea Selatan vs Indonesia ini pun menjadi pengingat bahwa interaksi di media sosial lintas negara memerlukan kehati-hatian.
Unggahan bernada stereotip dan rasis dapat dengan mudah memicu konflik yang lebih luas, bahkan menyeret solidaritas antarnegara di kawasan.
(Tribunnewsmaker.com/Tribunnewsbogor.com)