Nilai-nilai Kepahlawanan Abu Beureueh
mufti February 13, 2026 09:35 AM

Prof Dr Apridar SE MSi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Ketua Harian Dewan Pakar Wilayah Syarikat Aceh

DALAM narasi besar sejarah Indonesia, nama-nama pahlawan nasional seringkali didominasi oleh figur dari Jawa dan Sumatera Barat. Namun, di ujung barat nusantara, tersimpan kisah seorang ulama-pejuang yang kontribusi dan keteladanannya tidak kalah gemilang: Teungku Muhammad Daud Beureueh, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Beureueh. Lebih dari sekadar nama di buku sejarah, bagi rakyat Aceh, ia adalah sosok tak tergantikan sebagai simbol keteguhan, keulamaan, dan pengabdian tanpa pamrih. 

Mengangkat namanya sebagai pahlawan nasional bukan hanya soal keadilan sejarah, tetapi juga sebuah rekonsiliasi dan penegasan tentang nilai-nilai luhur kebangsaan.Abu Beureueh lahir pada 17 September 1899 di sebuah kawasan yang sarat dengan tradisi keulamaan dan perlawanan. Dididik di Dayah Manyang, pesantren tertua di Aceh, ia tumbuh dalam keprihatinan mendalam terhadap penjajahan Belanda. Semangat ini yang kemudian membawanya menjadi arsitek utama konsep "Daerah Modal" bagi Republik Indonesia yang masih bayi.

Pada masa Agresi Militer Belanda I dan II, ketika republik terdesak dan ibukota berpindah-pindah, Aceh di bawah kepemimpinan Abu Beureueh menjadi benteng pertahanan yang tak tertembus. Sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo (1947-1949), ia memimpin laskar rakyat yang kemudian dikonsolidasikan menjadi Divisi Rencong. Peran Aceh tidak hanya pada pertahanan fisik. Kontribusi material rakyat Aceh, yang digalang oleh Abu Beureueh dan para ulama, adalah napas bagi kelangsungan Republik.

Salah satu bukti nyata yang paling monumental adalah sumbangan emas rakyat Aceh untuk membeli pesawat pertama Indonesia: Seulawah RI-001. Pesawat ini, yang dibeli dengan 20 kilogram emas, menjadi tulang punggung penerbangan awal Indonesia, mengangkut obat-obatan, senjata, dan para pemimpin Republik seperti Soekarno-Hatta dalam diplomasi internasional. Data sejarah mencatat, Seulawah menjadi cikal bakal maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesian Airways. Tanpa keteguhan dan pengorganisasian rakyat Aceh yang dipelopori Abu Beureueh, salah satu babak paling kritis dalam mempertahankan kemerdekaan itu mungkin akan berakhir berbeda.

Pasca pengakuan kedaulatan, harapan rakyat Aceh untuk otonomi dan penerapan syariat Islam, yang dijanjikan oleh pemimpin pusat, pupus. Aceh dilebur ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Kekecewaan inilah yang mendorong Abu Beureueh, pada 21 September 1953, memimpin pemberontakan Darul Islam (DI/TII). Namun, penting untuk dicatat bahwa pemberontakan Abu Beureueh bukanlah penolakan terhadap Indonesia. Dalam berbagai pidatonya, ia masih mengakui Soekarno sebagai presiden. Yang ditolaknya adalah kebijakan Jakarta yang sentralistik dan dianggap mengingkari janji.

Yang membedakan perjuangan Abu Beureueh adalah komitmennya pada nilai-nilai kemanusiaan. Ia selalu menekankan kepada pengikutnya untuk menghindari aksi yang menyengsarakan rakyat sipil. Ini adalah etika perang yang langka, menunjukkan bahwa perjuangannya bukan untuk kekuasaan, tetapi untuk prinsip.

Puncak dari kedewasaan politiknya terlihat pada tahun 1962. Setelah melalui jalan panjang, Abu Beureueh memilih meja perundingan. Melalui Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh (MKRA), ia "turun gunung" dan mengakhiri pemberontakan secara damai. Keputusan ini bukan tanda kekalahan, tetapi sebuah kemenangan akal sehat dan kecintaan pada persatuan bangsa serta kemanusiaan. Ia membuktikan dirinya bukanlah pemberontak yang keras kepala, melainkan negarawan sejati yang berani mengalah untuk kepentingan yang lebih besar. Sebuah upaya rekonsiliasi simbolis bahkan telah dilakukan sebelumnya, pada 1957, dalam peristiwa Pelantikan Gunung Alas, di mana ia dilantik kembali sebagai Gubernur Aceh oleh perwakilan pusat, menunjukkan adanya keinginan damai dari kedua belah pihak.

Kesederhanaan yang abadi

Setelah rekonsiliasi, Abu Beureueh tidak mengejar kekuasaan atau kemewahan. Ia memilih kembali ke jalur awalnya: pendidikan dan dakwah. Ia menghidupkan kembali dayah-dayah sebagai pusat pencerahan, menanamkan nilai-nilai Islam, kebangsaan, dan kemanusiaan kepada generasi muda. Hidupnya adalah cerminan kesederhanaan dan asketisme yang tinggi. 

Ia menjauhi gemerlap kekuasaan dan hidup dalam kesahajaan hingga akhir hayatnya pada 10 Juni 1987. Ia rela meninggalkan jabatan Gubernur Militer yang penuh fasilitas demi memperjuangkan apa yang diyakininya benar untuk umat. Dalam dunia yang semakin materialistik, figur Abu Beureueh adalah oase integritas. Ia adalah antitesis dari politisi haus kuasa dan pencari popularitas. Ia adalah bukti bahwa seorang pemimpin sejati diukur dari pengabdiannya, bukan dari harta dan jabatannya.

Menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Abu Beureueh bukanlah upaya menutup mata terhadap dinamika sejarah yang kompleks. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk melihat sejarah secara utuh dan adil.

Pertama pengakuan atas kontribusi besar. Perannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di masa paling kritis adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Dari memimpin perlawanan bersenjata hingga menggalang dukungan materil seperti pesawat Seulawah, jasanya sangat fundamental bagi keberlangsungan Republik.

Kedua merupakan teladan negarawan sejati. Keputusannya untuk mengakhiri konflik secara damai adalah pelajaran berharga tentang kedewasaan politik, keberanian moral, dan cinta tanah air. Ia menunjukkan bahwa dialog dan rekonsiliasi selalu lebih mulia daripada perpecahan dan pertumpahan darah.

Ketiga rekonsiliasi sejarah bangsa. Pemberian gelar ini akan menjadi langkah monumental dalam proses rekonsiliasi antara Aceh dan pemerintah pusat. Ini adalah pesan bahwa negara mampu menghargai dan memuliakan setiap putra terbaiknya, meski pernah memiliki perbedaan pandangan, selama niatnya tulus untuk kebaikan rakyat. Rekonsiliasi Aceh pasca-MoU Helsinki 2005 akan menemukan landasan historisnya yang lebih dalam dengan pengakuan ini.

Keempat inspirasi nasional tentang integritas. Di tengah krisis keteladanan nasional, kehidupan asketis dan integritas tinggi Abu Beureueh layak dijadikan inspirasi bagi seluruh bangsa Indonesia. Ia adalah simbol perjuangan yang tidak dikorupsi oleh kekuasaan.

Abu Beureueh meninggal bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai pejuang yang kesepian, yang lebih memilih martabat rakyatnya di atas segalanya. Mengangkatnya sebagai pahlawan nasional adalah bentuk pemulihan memori kolektif bangsa. Ia adalah pahlawan yang perjuangannya melampaui batas geografis Aceh. Ia adalah teladan bagi seluruh anak bangsa tentang makna pengabdian, integritas, dan cinta negara yang tulus. Saatnya negara membuka mata lebar-lebar, mengakui jasa besarnya, dan menjadikan Abu Beureueh sebagai nama yang harum dalam barisan pahlawan nasional Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.