Khutbah Jum'at oleh Tgk Dr Syadidul Kahar MPd : Membumikan Pilar Peradaban Islam
IKL February 13, 2026 11:46 AM

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Swt. 

Keberadaan manusia pada dasarnya ingin melanjutkan hidup sebagaimana keinginanannya. 

Di sisi lain proses keberlangsungan hidup tersebut dihadapkan pada berbagai tantangan. 

Pemaknaan terhadap tantangan hidup tersebut berdasarkan pandangan hidup seseorang, maka disinilah akan terlihat bagaimana manusia memandang hal tersebut. 

Jika didasarkan pada nilai-nilai Islam, maka hidupnya didasarkan pada rida Allah yang dilalui dengan jalan takwa dane beramal saleh. 

Demikian juga sebaliknya, jika didasarkan pada syahwat dan nafsu, maka akan melahirkan berbagai perbuatan maksiat. 

Pola hidup manusia itu sendiri akan memberikan nilai terhadap kemajuan sosial kehidupan manusia. 

Kecendrungan manusia yang memilih kehidupan yang enak, mewah, dan serbaberkecukupan tanpa bekerja keras akan berimbas pada mengutak-atik hukum Islam sebagai pedoman. 

Tgk Dr Syadidul Kahar MPd
Dosen STIT Babussalam, Aceh Tenggara
Tgk Dr Syadidul Kahar MPd Dosen STIT Babussalam, Aceh Tenggara

Standar utama dalam hidup orang yang cinta dunia adalah pola hidup yang kekinian dan tidak terlalu memperhatikan aturan dalam Islam. 

Hal inilah yang dikenal dengan istilah budaya hedonisme atau mental miskin. Pola sosial kehidupan masyarakat era modern atau masyarakat global mengalami perubahan sebagai akibat dari pergeseran kemajuan teknologi. Perubahan tersebut meliputi dimensi moral, etika, akhlak, agama, dan ilmu pengetahuan teknologi. 

Jika dasar ilmu dan kompetensi lemah, akan melahirkan sosial budaya masyarakat yang lemah untuk berdaya saing. Di sisi lain, jika lemah ilmu dan akhlak, akan membentuk masyarakat bermental miskin, yaitu pencinta dunia tanpa didasarkan pada nilai-nilai Islam. 

Melihat kilas balik sejarah bahwa selama lebih dari satu abad Islam pernah berjaya, di antaranya dinasti Abbasiyah eksis dari 750-1258 M yang merupakan simbol kemajuan Islam, lantas tumbang akibat degradasi akhlak. 

Khalifah terakhir, al-Musta’sim harus bertekuk lutut terhadap bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan saat menghancurkan Baghdad. 

Umat Islam dibantai, perpustakaan, dan lembaga pendidikan dihancurkan, jutaan buku ilmu pengetahuan dibakar dan dihanyutkan ke Sungai Tigris. Akhirnya, peradaban Abbasyiah berakhir. Ibnu Khaldun mengidentifikasi faktor penyebab lemahnya peradaban tersebut, yakni: 1) rusaknya akhlak generasi muslim; 2) orientasi umat yang cinta dunia; 3) memntingkan diri sendiri; 4) rendahnya peran masyarakat terhadap agama; dan 5) agama sebagai alat untuk memproleh nikmat dunia. 

Kita dapat mengambil ibrah dari sejarah tersebut dengan simpulan dua masalah mendasar, yaitu kemalasan untuk belajar dan bobroknya akhlak. 

Jika dianalisis hadis Rasulullah saw bahwa diutusnya Rasulullah saw untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak umat. 

Runtuhnya karakter umat Kaum muslimin yang dirahmati Allah Swt. 

Inti utama runtuhnya karakter umat adalah tunduk kepada nafsu sehingga melahirkan karakter cinta dunia. 

Hal ini yang membutakan hati melihat akhirat dan hukum dalam Islam. Gaya hidup generasi dan masyarakat sekarang standar hidup rasa malu jika tidak ikut tren dan tidak malu kalau rusak akhlak dan akidah. Ajaran Islam dikenal sebagai agama yang sangat humanis. 

Konsep tauhid sebagai dimensi ideal-transendental yang tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sosialnya. 

Namun sayangnya, terjadi kesenjangan dalam realitas masyarakat muslim antara nilai-nilai agama yang bersifat ideal dengan nilai-nilai sosialnya. 

Maksudnya masyarakat kurang peka dan tersinggung jika ada ketimpangan sosial dan melakukan maksiat. Pada dasarnya, kebutuhan manusia yang paling dasar adalah iman sebagai landasan utama untuk mengembangkan potensi kemanusiaan. 

Terkadang pemuka agama menekankan agama pada aspek materi terhadap umat, tetapi akidah, sah ibadah, dan bagus akhlak hanya sekadarnya saja. Terkesan bahwa orang yang memiliki ilmu agama menjadikan agama sebagai alat untuk mendapatkan dunia. 

Inilah yang disebut dengan terhijab dari cahaya Allah Swt. Mata hati terhalang sesuatu yang bersifat kebendaan sehingga menjadi budak dari hawa nafsunya. Kaum muslimin rahimakumullah. 

Manusia terkadang kerap merasa dirinya lemah dan ingin mencari tempat berlindung dan tempat meminta tolong untuk kesejahteraan dan keselamatan diri. 

Penting dalam hal ini bahwa hidup dengan berlandasarkan pada ajaran Islam agar mendapat petunjuk dan jalan yang harus ditempuh. Jika tidak, hidup dalam pandangan mereka adalah misteri dan sesuatu yang tidak jelas sehingga akhirnya menempuh hidup tanpa dasar nilai ajaran Islam. 

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane,  Aceh Tenggara
Masjid Agung At-Taqwa Kutacane, Aceh Tenggara

Kondisi ini penting agar hidup tidak diimpit oleh rusaknya hati kepada Allah Swt. Islam menekankan pada umat untuk hidup dengan mardhaatillah melalui takwa dan beramal saleh. Kehidupan di dunia ini tidak lebih ibarat permainan dan senda gurau belaka. 

Mereka tidak menyia-nyiakan hidup di dunia karena mereka yakin, untuk mencapai akhirat haruslah melalui dunia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Swt pada Q.S. Al-An’am 6:32, yang artinya, “Tiadalah hidup di dunia ini, melainkan pemainan dan senda gurau belaka. 

Sesungguhnya kampung akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. 

Maka, tidakkah kamu memahaminya?” Oleh karena itu, seorang muslim haruslah memiliki sikapsikap berikut ini: 1) selalu konsisten dan istikamah beramal; 2) selalu memperhatikan kepentingan umat Islam, karena umat Islam itu seperti satu batang tubuh. 

Yang satu sama yang lain sangat toleran; dan 3) mulia dengan kebenaran dan percaya bahwa pertolongan Allah akan diberikan kepada orang-orang yang menolong agama-Nya. Pentingnya pemahaman dan pengimplementasian iman dalam kehidupan agar hidup terarah. 

Iman menghilangkan keraguan dan tidak perlu bersandar kepada bukti dan dalil-dalil. Apabila hati sudah diisi dengan iman pertanyaan ‘bagaimana’ akan menguatkan keinginan untuk mencungkil rahasia Ilahi yang menyelubungi alam maya ini. 

Jika dia tidak mampu memahami sesuatu tentang rahasia Ilahi itu maka dia akan tunduk dan mengakui dengan kerendahan hatinya bahwa benteng keteguhan Allah Swt tidak mampu dipecahkan oleh makhluk-Nya. Dengan demikian, iman akan melahirkan buah amal saleh bagi umat Islam sehingga akhlak melekat bagi muslim. 

Hal ini berarti dalam ajaran Islam dalam setiap aspek dan aktivitas kehidupan sehari-hari sangat menekankan nilai-nilai akhlak. 

Hal ini merupakan cerminan dari iman. Bahkan, dalam kehidupan sosial Masyarakat iman mempunyai pengaruh yang sangat penting sehingga melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat dalam bernegara. Jadi, dalam mencapai keutamaan dalam kehidupan umat adalah keimanan akhlak yang dikaitkan dengan seluruh aktivitas kehidupa umat. 

Keimanan tersebut akan memberi tuntunan dalam kehidupa bermasayarakat. Jika iman telah menyatu dalam kehidupan umat, maka akan menjadi suatu budaya atau kebidasan dari lahir hingga tumbuh dewasa tentu generasi yang berakhlak akan lahir. 

Hal ini jugalah sebaliknya, jika anak berkembang dan tumbuh tanpa iman maka sulit untuk memunyai generasi yang berakhlak. 

Penanaman dan pembinaan kehidupan umat yang didasarkan keimanan akan membentuk berkepribadian yang baik. 

Subtansi shalat dalam membentuk karakter muslim Shalat tujuannya adalah untuk mencari kasih sayang Allah sehingga adanya hidayah, tidak melakukan perbuatan maksiat atau lainnya yang dilarang agama. Hal ini dipertegas Allah Swt dalam QS. Al Ankabut: 45 yang artinya, “Sesunggurhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 

Ibnu Taimiyah memberikan penjelasan terhadap ayat tersbut bahwa di dalam shalat itu ada dua makna yang besar, yaitu pertama mencegah dari kekejian dan kemungkaran. Kedua, mencakup mengingat Allah. 

Namun, cakupan mengingat Allah ini lebih besar daripada kemampuannya mencegah kekejian dan kemungkaran. Konsep mengingat Allah Swt dalam shalat harus hadir Allah dalam hati, pengerjaan rukun, dan penghayatan bacaan dengan benar dan ikhlas. 

Hal tersebutlah yang memberi dampak efektif dalam mencegah perbuatan keji dan mungkar sehingga melahirkan pribadi yang baik. 

Jika tidak, maka orang yang shalat, tetapi yang dilakukannya akan tidak memberikan bekas positif terhadap dirinaya. 

Jadi, shalat dilakukan dengan menyatukan gerak hati, lisan, dan anggota badan secara integral. 

Shalat merupakan salah satu ibadah yang ditekankan pada hari kiamat. Standardisasi baik tidaknya ibadah lainnya adalah shalat. 

Jadi, untuk merealisasikan tujuan dari umat Islam dalam mencapai rida Allah adalah mengintegrasikan ibadah shalat dalam aktivitas kehidupan. Maka dipahami dengan kondisi runtuhnya akhlak dalam kehidupan masyarkat penyebab utamanya adalah permasalahan shalat. 

Hal inilah Ibn Athaillah mengungkapkan rahasia-rahasia dalam shalat bahwa shalat adalah pembersih hati dari kotoran-kotoran dosa dan pembuka bagi pintu rahasia gaib. Shalat adalah kesempatan untuk bermunajat dan penjernihan jiwa yang mana wilayah-wilayah rahasia terbentang begitu luas dan cahayacahaya Tuhan berkilauan di dalamnya. 

Oleh karena itu shalat kita tidak hanya dituntut sekadar memenuhi syarat dan rukunnya secara formal, tetapi juga dituntut untuk memenuhi kewajiban shalat, aturan-aturan formal, dan kesempurnaan shalat sedapat mungkin. 

Jika dalam pelaksanaan shalat mampu melaksanakan tuntutan tersebut, maka shalat tersebutlah yang menjadikan pelakunya terhindar dari perbuatan yang tidak baik. Ketika seseorang shalat hadir Allah dalam dirinya, maka sifat-sifat yang mulia terpancar dalam diri orang tersebut sehingga teraktualisasi dalam kehidupannya. 

Ketika sesorang hidup dalam kehidupan sosial, maka orang tersebut merasa dalam pengawasan Allah Swt. Sidang Jumat yang dirahmati Allah Swt. Setelah terbangun orientasi hidup yang didasarkan pada ajaran Islam, selanjutnya diaktualisasikan dengan hati yang bersih dalam ibadah shalat. 

Di sini hidup akan mulai terkontrol, selanjutnya penting dipahami bahwa untuk mewujudkan hal tersebut maka penting untuk membumikan ahklakul karimah yang dilakukan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Keberadaan umat Islam tentu tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial. 

Peradaban yang rapuh muncul ketika ilmu, iman, ibadah dipisahkan dari akhlak. Peradaban yang berkeadaban (civilized) hanya akan terwujud ketika fondasi Iman yang didasarkan pada ilmu, lalu ilmu memandu amal, dan akhlak menjadi pengendali utama dari seluruh aktivitas manusia. 

Berbicara tentang akhlak maka tidak terlepas dari membahas tentang perilaku, menanamkan dan membembina akhlak lebih sulit dari pada mengajarkan pengetahuan. Kesulitan dalam menerapkan pendidikan akhlak di lembaga pendidikan di antaranya yang paling dirasakan ialah minimnya teladan yang baik pada diri pendidik. Selain itu, berkembangnya arus informasi yang sangat cepat turut memengaruhi kepribadian umat. 

IT yang mudah diakses dan bebasnya informasi yang ditandai dengan semakin canggihnya teknologi membentuk pola pikir anak sesuai dengan apa yang dilihatnya. 

Lambat laun akan menjadi pembiasaan sampai mengenyam pendidikan tinggi, berdasarkan hal ini peranan orang tua dan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untu dijadikan sebagai filter. 

Islam memberikan tuntunan hidup manusia dari persoalan yang paling kecil hingga kepada urusan yang paling besar, mulai dari urusan rumah tangga sampai pada urusan bangsa dan negara. Kontrol dari seluruh aspek tersebut adalah dengan pelaksanaan shalat yang baik. 

Siapa pun orangnya dan bagaimanapun posisi dan jabatannya, jika shalat menjadi kebutuhan dan bagian dari hidupnya maka seluruh kegiatan dan pekerjaannya akan dilakukan dengan baik. 

Penutup
Inti peradaban adalah terintegrasinya akhlak dalam seluruh elemen kehidupan umat Islam dan berbaik sangka dalam ketentuan takdir. Akhlak sangat penting dan menjadi fokus utama dalam kehidupan untuk membangun peradaban umat. Akhlak mengajarkan tentang budi pekerti, moral, etika, dan membangun karakter yang mengajarkan agar individu menjadi pribadi yang baik, dan mengajarkan agar bersikap moderat dalam hidup bermasyarakat, dan harus berperilaku sesuai norma yang berlaku. 

Seharusnya, jika sudah tertanam keimanan, ibadah, ilmu, dan agama akan tercermin dalam kehidupannya. Sedangkan ibadah yang dilakukan manusia adalah bentuk pendekatan terhadap Sang Pencipta, dan merupakan representasi dari serangkaian ilmu yang telah diperoleh. Integrasi tersebut tidak dapat dipisahkan dalam pelaksanaannya. 

Secara keseluruhan, substansi ibadah didasarkan pada keimanan, akhlak, dan ilmu sehingga akan diimplementasikan dengan benar. 

Hal ini akan mengubah individu menjadi pribadi yang berintegritas, aktif dalam kebaikan, dan harmonis dalam interaksi sosial. Ini akan menjadi dasar peradaban yang maju dan beretika. (*)

Baca juga: Khutbah Jumat oleh Ustad Dr. Andi Putra, Lc., M.A : Bangkit dari Musibah, Menuai Amal Saat Syakban

Baca juga: Khutbah Jumat oleh Drs. Nasri Lisma : Menyucikan Hati, Menjaga Alam, dan Menegakkan Shalat

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.